
"Ibu!" lirih Fatimah sambil berjalan mendekat ke arah sang ibu.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Ibu, aku mohon bangunlah!" bisik Fatimah tepat di telinga ibu Halimah yang memang tak sadarkan diri.
"Ibu, jangan pernah membuatku khawatir aku mohon padamu, bangunlah! Fatimah sudah ada di sini, Ibu, apa Ibu tidak ingin melihatku atau berbicara denganku? Aku mohon padamu bangunlah!" Minta Fatimah dengan suara serak yang menandakan jika saat ini air matanya tidak berhenti mengalir.
Rasa sakit yang paling sulit untuk dihilangkan adalah rasa sakit karena kita kehilangan ataupun melihat orang yang sangat-sangat kita sayang tergolek lemah di atas brankar rumah sakit, atau malah ditinggal pergi menghadap sang ilahi.
Air mata Fatimah terus mengalir dia menundukkan kepala menikmati setiap rasa sakit yang kini hinggap di hatinya, sambil terus memegang tangan sang Ibu Fatimah berdoa di dalam hati agar sang Ibu segera sembuh dan bisa kembali sehat seperti sedia kala.
"Maaf, apa Anda keluarga dari pasien?" Suara lembut dan halus yang sangat familiar di telinga Fatimah kini terdengar menanyakan siapa dirinya, dan karena hal itulah Fatimah perlahan mengangkat kepala, melihat siapa yang sedang bertanya padanya saat ini.
"Mas Fariz," lirik Fatimah menyebut nama seseorang yang kini sedang berada di dekat Fatimah dan berdiri tepat di sampingnya.
"Fatimah, apa yang kamu lakukan di sini? dan kenapa kamu menangis?" Sahut Faris menatap aneh dan penuh heran juga rasa penasaran dengan apa yang dia lihat saat ini.
"Harusnya aku yang bertanya apa yang Mas Faris lakukan di ruangan ibuku?" Bukannya menjawab pertanyaan Faris, Fatimah justru balik bertanya dan mengungkapkan rasa heran yang kini muncul di benaknya karena Faris berada di ruangan sang ibu.
__ADS_1
"Apa Ibu Halimah ini ibumu?" Tanya Faris dengan ekspresi wajah yang tak terbaca.
"Iya, dan apa Mas Faris adalah dokter yang sedang merawat Ibuku?" Fatimah menjawab pertanyaan Fariz sekaligus mengajukan sebuah pertanyaan yang sebenarnya sangat mudah untuk dijawab oleh Faris.
"Iya, aku yang menangani ibumu dan bertanggung jawab merawatnya saat ini," Faris Mama menjawab pertanyaan Fatimah dengan cepat tapi ekspresi wajahnya juga cepat berubah, wajah yang tadi tak terbaca kini terlihat begitu sedih dan penuh rasa penyesalan, Faris menatap Fatimah iba, tradisi sebenarnya masih ada di dalam hatinya itu harus menanggung beban yang berat karena penyakit sang ibu kini sudah semakin parah dan sangat sulit untuk disembuhkan, hanya mukjizat dan keajaiban Tuhan yang mampu menyembuhkan penyakit sang ibu dan Faris merasa tidak tega melihat gadis pujaan hatinya menangis dan terus memanggil sang Ibu agar dia bisa bangun.
"Bagaimana keadaannya, Mas Faris?" Tanpa menunggu lama atau membuang waktu Fatimah langsung bertanya bagaimana keadaan sang ibu kepada Faris yang kini menjadi dokter yang merawat ibunya.
"Maaf Fatimah, aku tidak bisa menjelaskan keadaan ibumu saat ini, yang bisa aku katakan saat ini hanya satu jangan pernah berhenti berdoa dan berharap agar ibumu segera sembuh, perdoalah agar ibumu diberi umur yang panjang dan kesehatan karena hanya hal itulah yang bisa menolong ibumu saat ini," jelas Faris yang kini tidak memiliki kekuatan untuk menjelaskan bagaimana keadaan ibu Fatimah.
"Apa Ibuku akan sembuh, Mas Faris?" Pertanyaan polos yang seharusnya tidak ditanyakan kepada sang dokter, kini meluncur bebas dari bibir Fatimah, bagaimanapun seorang dokter bukanlah Tuhan yang bisa langsung menyembuhkan sebuah penyakit dan membuatnya langsung sembuh tanpa izin dari Tuhan.
Tatapan Fatimah terlihat begitu kosong dan hampa, sungguh hatinya hancur melihat keadaan sang ibu saat ini.
"Bagaimana, Mas Faris? Apa Ibuku akan bangun? Sebenarnya Ibuku sedang apa? Dia sedang tidur atau tidak sadarkan diri?" Fatimah kembali mencerca Faris dengan beberapa pertanyaan setelah melihatnya selesai memeriksa sang ibu.
"Ibumu pingsan saat seseorang membawanya kemari dan beliau belum sadar sampai saat ini, berdoalah agar ibumu cepat sadar dan bisa berbincang denganmu!" Jawab Faris.
__ADS_1
Melihat Fatimah hanya seorang diri berada di ruangan itu membuat hati kecil Faris memberontak, ingin rasanya Faris memeluk dan memberi kekuatan pada Fatimah, agar dia bisa tegar dan menerima semua cobaan ini dengan lapang dada.
"Kenapa kamu sendirian di sini? Di mana Satya?" Tanya Faris yang memang sejak tadi tidak melihat batang hidung Satya di rumah sakit itu.
"Mas Satya sedang berada di kantor, siapa tadi yang membawa Ibuku ke sini Mas Faris?" Sepertinya topik pembicaraan mengenai kehadiran setia bukanlah hal yang penting bagi Fatimah saat ini, karena yang terpenting baginya saat ini ibunya bisa sadar dan melihat kehadiran Fatimah yang sudah datang dan duduk di sampingnya.
"Aku kurang tahu siapa yang membawa Ibu mu ke sini Fatimah, aku sendiri juga baru tahu jika beliau itu ibumu, sejak pertama kali ibumu masuk ke ruangan ini, aku tidak sempat melihat siapa yang membawanya? karena aku langsung menanganinya agar dia bisa segera siuman," jelas Faris dengan ekspresi penuh penyesalan dia berkata, jika saja harus tahu siapa yang keluar dari rumah di hadapannya itu sejak awal maka bisa dipastikan jika Faris akan langsung memberi kabar kepada Fatimah dan memberitahu siapa yang membawa ibunya ke rumah sakit.
Mendengar jawaban Faris membuat Fatimah diam seribu bahasa, pikirannya kembali melayang dengan tatapan yang tertuju pada sang ibu.
"Maafkan aku Fatimah," ujar Faris yang merasa bersalah karena dia tidak melihat siapa yang membawa Ibu Halimah ke rumah sakit ini.
"Mas Faris tidak salah, dan jangan meminta maaf! Harusnya aku yang minta maaf sama Mas Faris, dan terima kasih karena Mas Faris sudah mau merawat ibuku," tutur Fatimah sambil menundukkan kepala, dia merasa begitu menyesal karena telah menuduh Faris dengan Tuhan yang bukan-bukan.
"Sudahlah jangan ngomong minta maaf atau mengganggu terima kasih! Apa yang kulakukan saat ini memanglah pekerjaanku dan juga tanggung jawabku, semoga kamu bisa melewati semua Ujian ini dengan lapang dada, kalau begitu aku pergi dulu
permisi." Pamit Faris melangkah pergi meninggalkan ruangan Ibu Fatimah untuk mengecek keadaan pasien yang lain.
__ADS_1
"Iya, hati-hati!" Sahut Fatimah sebelum Faris benar-benar pergi meninggalkan ruangan ibunya.
Fatimah kembali menatap penuh kesedihan ke arah sang Ibu, tak ada yang dia fikirkan lagi selain bagaimana caranya agar Ibunya bisa sembuh.