
"Mas, katakan ada apa? jangan seperti ini! aku mohon padamu," suara Fatimah terdengar semakin memelas dengan sedikit rintihan dan isakan, Fatimah memohon agar Satya segera menghentikan apa yang sedang di lakukan oleh Satya.
Satya yang melihat wajah Fatimah begitu pedih dan ketakutan memilih untuk sejenak menghentikan apa yang akan dia lakukan, hingga dia kembali ingat dengan apa yang baru saja di lakukan oleh Fatimah, membuat emosi Satya kembali memuncak.
Tanpa ada kata dan isyarat, Satya yang merasa jika Fatimah memang harus di beri pelajaran agar tidak melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya, Satya langsung menyambar bibir Fatimah dengan kasar, sedang Fatimah yang memang belum pernah berc**n sebelumnya nhanya diam dengan mata melotot dan air mata terus berderai, Satya yang merasakan manisnya bibir sang istri terus mel***tanya kasar hingga dorongan dari kedua tangan Fatimah yang kehabisan nafas menyadarkan Satya jika saat ini dia tengah Mel**mt kasar bibir sang istri.
"Ingat posisimu! lain kali jangan buat aku marah! karena aku bisa melakukan sesuatu yang lebih kejam dari ini!" ujar Satya seraya menajamkan mata mencoba mengingatkan Fatimah dengan posisinya saat ini.
Sedang Fatimah hanya diam seribu bahasa merasakan bibirnya yang sakit atau mungkin sedikit terluka karena perbuatan Satya, hal pertama yang harusnya terasa begitu indah kini justru terasa menyakitkan bagi Fatimah, setidaknya Satya harus tahu jika ini pengalaman pertama yang buruk dan mungkin tak akan bisa di lupakan oleh Fatimah.
Satya yang merasa jika dia sudah cukup memberi pelajaran pada Fatimah kini berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk merendam amarah yang sebenarnya masih di rasakan oleh Satya.
Sambil memejamkan mata Satya mengingat kembali apa yang baru saja dia lakukan.
"Apa aku keterlaluan?" gumam sambil menutup mata dan merendam seluruh tubuhnya di bak mandi.
"Tapi Fatimah harus di beri peringatan agar tidak melakukan hal bodoh untuk kedua kalinya, dia tidak boleh mengkhianati seperti Farah," Satya terus bergumam mencoba membenarkan semua yang terjadi agar Fatimah tidak melakukan kesalahan yang sama suatu saat nanti.
__ADS_1
Apa yang dilakukan oleh Satya berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan oleh Fatimah yang kini justru menangis terisak di kursi meja makan sambil merasakan rasa sakit di wajahnya karena perbuatan Satya.
"Kenapa Mas Satya begitu kasar dan memperlakukanku seperti tadi? Rasanya sakit sekali," lirih Fatimah yang terus saja menangis merasakan rasa sakit di wajahnya.
Seharusnya sesuatu yang pertama kali dirasakan Fatimah itu terasa indah tapi kini rasanya begitu menyakitkan dan Fatimah berharap hal itu tidak akan pernah terjadi lagi, Fatimah terus saja berpikir apa penyebab Satya bersikap seperti tadi apa dia melakukan kesalahan? Atau saat dia sedang mengalami masalah yang sangat sulit dan mencoba mencari pelampiasan agar dia bisa meringankan kebingungan yang telah dia rasakan karena masalah itu? Atau saatnya memang seperti itu, selalu kasar pada seorang wanita.
Pikiran Fatimah melawan buana mencoba mencari jawaban atas pertanyaan yang kini bersarang dalam benaknya, bagaimanapun juga sikap Satya yang baru saja terjadi bukanlah setia yang biasa dilihat oleh Fatimah, meski dia bersikap dingin dan acuh tak acuh tapi Satya tidak pernah bersikap kasar padanya, Fatimah yakin jika ada sesuatu yang sedang mempengaruhi suaminya itu.
Fatimah kembali melanjutkan pekerjaannya menata rapi semua belanjaan yang tadi dia datang dan menyelesaikannya dengan cepat agar dia bisa segera membersihkan diri dan memasak untuk Satya, meskipun rasa sakit di wajahnya masih terasa akibat perbuatan Satya tapi Fatimah harus tetap memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri menyiapkan makan untuk sang suami.
"Tidak perlu memasak! Bersiaplah kita pergi ke rumah mama!" titah Satya saat melihat Fatimah hendak memasak untuknya, hari ini Satya berencana menginap di rumah sang mama dan makan di luar dia sadar jika dia sudah melukai Fatimah, karena itulah dia ingin mengajak Fatimah makan di luar dan mengajak dan menginap di rumah sang mama.
Fatimah yang sebenarnya masih merasa sakit hati tak menjawab perintah Satya, dia memilih untuk langsung meninggalkan dapur dan berjalan menuju kamar mandi untuk bersiap.
Saat dia yang melihat sikap dingin Fatimah hanya bisa diam dan menghembuskan napas kasar, karena semua yang terjadi memang kesalahannya, setelah setengah jam berendam di dalam ke kamar mandi Satya sadar jika dia melakukan hal yang salah, tidak seharusnya Satya langsung menghukum Fatimah tanpa meminta penjelasan atau bertanya terlebih dahulu, setia sadar jika selama ini Fatimah bukanlah orang yang seperti Farah, dia berbeda bukan hanya dari orangnya, atau penampilan tapi sifat keduanya sangat jauh berbeda, karena itulah Satya sadar dan yakin jika ada sesuatu yang terjadi dan membuat Fatimah pulang berbelanja bersama dengan Fariz, jika tidak dia tidak akan pulang bersama laki-laki yang kurang di sukai oleh Satya.
Fatimah tidak memerlukan waktu yang lama untuk bersiap, sepuluh menit saja sudah cukup untuk Fatimah.
__ADS_1
"Apa sudah selesai?" tanya Satya saat melihat Fatimah sudah berada di depan pintu kamar dengan tas selempang kecil yang ada di lengan tangan sebelah kanan.
"Sudah," jawab Fatimah singkat tanpa ekspresi dan tanpa senyum yang biasa terlihat dan menghiasi wajahnya saat berbicara dengan Satya.
Sedang setia yang mengerti dengan perasaan Fatimah saat ini hanya diam dan membiarkan Fatimah melampiaskan rasa kesalnya pada dirinya tanpa berniat untuk bertanya ataupun meminta Fatimah untuk bersikap seperti biasanya.
Suasana mobil terasa begitu hening tanpa ada satupun yang berbicara atau memulai pembicaraan, Satya hanya terdiam dan fokus menatap jalan sedang Fatimah menatap lurus ke depan tanpa bergerak sedikitpun, sepertinya Fatimah masih sakit hati dengan sikap Satya, tapi Satya tidak pedulikan hal itu baginya sesekali dia harus mengingatkan Fatimah agar dia bisa menjaga jarak dengan laki-laki lain terutama laki-laki yang bernama Fariz.
"Kamu ingin makan apa?" Tanya Satya saat dia merasa bingung harus memilih menu makan apa saat ini.
"Terserah," jawaban yang sungguh membingungkan bagi siapapun begitu juga bagi Satya saat ini.
"Apa kamu suka main masakan Padang atau kamu suka masakan Jawa?" Satya mencoba mencari informasi masakan yang diinginkan oleh Fatimah.
"Aku suka makan apapun termasuk hati orang yang sudah menyakitiku," jawaban yang cukup mengejutkan Satya yang tidak percaya jika Fatimah bisa mengatakan hal itu, bagaimana mungkin Fatimah yang biasanya bersikap lembut dan bersuara lirih yang menentang menentramkan hati kini berbicara pedas, sepedas cabai habanero yang terkenal kepedasannya.
Satya tidak bertanya lagi setelah mendengar jawaban Fatimah yang menohok hatinya, dia lebih memilih mengajak Fatimah makan di tempat favoritnya tanpa bertanya lagi.
__ADS_1
'ternyata Fatimah bisa berkata kasar juga saat merasa sakit hati, aku pikir dia akan diam saja meski aku telah menyakitinya,' batin Satya merasa terkejut dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Fatimah.