
"Kakak? Apa dia kakak mas Satya?" Tanya Fatimah yang mencoba mencari tahu jawaban dari rasa penasaran yang tumbuh dalam hatinya.
"Benar, kamu pasti bingung karena kamu tidak pernah tahu jika Satya sebenarnya memang memiliki kakak dan kakak dia bernama Satria," sahut sang ibu yang kembali menjelaskan siapa Satria sebenarnya.
"Kenapa aku tidak pernah melihatnya, Ma?" Fatimah kembali saat dia merasa penasaran dengan apa yang dia lihat.
"Maaf adik ipar, waktu pernikahanmu aku sudah berusaha untuk datang, tapi saat itu aku berada di luar negeri dan cuaca di luar negeri sedang tidak baik dan aku tidak bisa pulang karena pesawat yang aku tumpangi tidak bisa lepas landas karena cuaca yang buruk, tapi kamu jangan khawatir, sebagai kakak yang baik aku pasti akan memberikan hadiah untuk kalian tepatnya hadiah pernikahan," ujar Satria dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Sudahlah kak, jangan terlalu banyak basa-basi aku harus istirahat sekarang!" Satya yang memang kurang menyukai keberadaan Satria di rumah sang Mama memilih untuk menghentikan percakapan yang bisa dipastikan akan panjang jika Satya hanya diam dan tidak segera menghentikannya.
"Jangan seperti itu! Bagaimanapun Fatimah perlu mengenal Satria sebagai kakak kandungmu karena bagaimanapun juga kalian bersaudara, dan Fatimah yang baru menjadi anggota dari keluarga kita juga harus mengenal Satria sebagai kakaknya," sahut sang Mama yang merasa jika sikap Satya masih sama seperti dulu.
Hubungan Satya dan Satria memang kurang baik karena kesalah pahaman yang pernah terjadi di antara keduanya.
"Mas, bisakah kita mengobrol sebentar? Setidaknya aku ingin mengenal lebih jauh keluargamu," pinta Fatimah yang merasa jika dirinya memang perlu mengenal lebih jauh bagaimana dan seperti apa juga siapa saja anggota keluarga Satya.
Melihat Fatimah yang meminta dengan mimik wajah memelas membuat Satya tidak berdaya, entah sejak kapan dia selalu merasa kasihan pada Fatimah, selain itu Satya juga merasa jika apa yang dikatakan oleh Fatimah memang benar, selama ini Satya memang tidak pernah mengenalkan keluarganya secara resmi pada Fatimah.
"Baiklah, untuk kali ini aku akan menuruti permintaanmu," jawab Satya seraya melenggang pergi berjalan menuju sofa yang ada di ruang keluarga, sedang ketika orang yang sejak tadi berada di sekeliling Fatimah mengikuti langkah Satya menuju ruang keluarga dan duduk tidak jauh dari tempat Satya duduk.
__ADS_1
"Bagaimana rasanya menjadi istri adik gue?" tanya Satria sesaat setelah semua orang yang ada di ruang keluarga duduk.
Bukannya menjawab pertanyaan Satria, Fatimah justru terlihat bingung dan menatap lekat ke arah Satya yang mengerti dengan kebingungan yang dirasakan oleh Fatimah saat ini.
"Apa tidak ada pertanyaan yang lebih berbobot dari apa yang kamu tanyakan, kak?" Selat Satya yang tidak ingin melihat Fatimah semakin bingung dengan sikap sengklek sang kakak.
Satria tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Satya yang menyelat pembicaraannya dengan Fatimah.
"Satria bisakah kamu berbicara dengan lebih sopan dan baik dengan adik iparmu, dia bukan gadis jalanan yang biasa kamu temui," kali ini suara sama yang terdengar menasehati Satria yang memang memiliki kebiasaan buruk menggoda sang adik dan selalu membuat adiknya itu jengkel.
"Baiklah, aku minta maaf, tunggu di sini! aku punya sesuatu untuk kalian." Titah Satria yang langsung berdiri melanggang pergi meninggalkan semua orang yang ada di ruang keluarga menuju kamarnya.
Sejak kecil Satria memiliki kebiasaan menjahili Satya karena itulah Satria kurang menyukai keberadaan Satria di rumah sang mama.
Jika Satya merasa jika dia kurang menyukai apa yang di lakukan Satria, maka berbeda dengan sang Mama yang tersenyum senang saat melihat Satria bisa berbuat baik dan tidak menjahili Satya.
Selama ini kedua laki-laki itu selalu saja bertengkar setiap kali bersama, tapi saling mencari ketika salah satu di antara keduanya tidak ada, karena itulah sang Mama memutuskan untuk menyekolahkan Satria ke luar negeri dan membiarkan Satya yang memang lebih suka berada di rumah meneruskan pendidikannya, Satria memang sudah lulus dan dia sekarang sedang meniti karir di luar negeri.
"Ma, Papa Mas Satya ke mana ya?" tanya Fatimah saat dia tidak melihat keberadaan Papa Satya sejak tadi.
__ADS_1
Dengan senyum mengembang di wajahnya sang Mama menjelaskan di mana keberadaan sang Papa, "Papa sedang ada tugas di luar negeri, untuk beberapa hari, karena itulah Mama meminta kamu dan Satya datang untuk menemani Mama," jelas sang Mama yang terlihat begitu tegar dan cantik dengan senyum yang ada di wajahnya.
"Oh," sahut Fatimah seolah mengerti dengan apa yang di jelaskan oleh sang Mama.
Satria terlihat menuruni anak tangga dengan satu kotak cukup besar ada di tangan kanannya, senyum Satria kini terlihat berbeda dengan senyumnya tadi ditunjukkan, jika Mama dan Fatimah tidak mengerti arti dari senyuman itu maka berbeda halnya dengan Satya yang sangat mengerti dengan arti senyuman yang diberikan oleh Satria saat ini.
Senyuman yang memiliki arti jika saat ini Satria sedang merencanakan sesuatu yang berbau kejahilan untuk Satya.
"Ini untukmu Fatimah, pakailah apa yang ada di dalamnya! aku yakin Satya pasti tidak akan mau pergi keluar dari kamar," bisik Satria dengan jarak yang cukup dekat, sedang Fatimah yang mendapat bisikan dari Satria memilih memundurkan badan menjaga jarak dengan Kakak iparnya itu, sikap Satya langsung berbeda,dia yang sejak tadi terlihat biasa saja, kini terlihat lebih waspada dari sebelumnya.
"Santai! aku tidak akan merebut adik iparku sendiri," tutur Satria sambil menepuk pundak Satya yang terlihat menegak saat Satria berbisik pada Fatimah.
"Jangan di buka di sini!" Larang Satria saat melihat Fatimah akan membuka kotak hadiah yang baru saja dia berikan.
Mendengar larangan dari Satria membuat Fatimah bingung dia langsung menghentikan gerakan tangannya yang ingin membuka kotak di bangkunya itu, kemudian menolak ke arah Satya dan Satria bergantian selama ini mencari tahu apa penyebab dirinya dilarang membuka kotak itu di sini saat ini.
"Jangan buat aku emosi dan pergi Kak!" tegas Satya yang bisa memastikan jika apa yang di berikan oleh sang Kakak pasti sesuatu yang bisa merugikan salah satu dari keduanya.
"Sudahlah, kenapa kalian tidak pernah bisa akur sih?" keluh sang Mama yang merasa jika kedua puteranya itu benar-benar seperti tikus dan kucing yang tak pernah akur.
__ADS_1
Seketika Satya dan Satria terdiam seribu bahasa tanpa ada yanh memulai pertengkaran lagi, rasanya sudah cukup bertengkarnya dan kini saatnya Satria dan Satya saling diam tanpa kata.