
Fatimah terus saja berpikir meski dia tidak mendapatkan jawaban dari apa yang dia pikirkan saat ini, sedang Satya hanya tersenyum melihat apa yang dilakukan Fatimah saat ini.
Rasanya cukup menyenangkan ketika Satya merasa memiliki hiburan di pagi hari, dia yang biasanya hanya bertemu dengan secangkir kopi susu yang ada di atas meja kini berubah, meskipun awalnya Satya berniat untuk membalaskan rasa sakit hati karena penolakan yang pernah di lakukan Fatimah, tapi menikah dengan Fatimah bukanlah pilihan yang buruk, buktinya Satya bisa tersenyum di pagi hari karena dia bersama dengan Fatimah.
Dengan langkah ringan Satya berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri kemudian melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.
"Fatimah!" panggil Satya setelah dia selesai menjalankan kewajibannya.
"Ya," sahut Fatimah singkat, sebenarnya ada rasa penasaran yang masih saja singgah dalam sudut hati Fatimah tentang pertanyaan yang diajukan oleh Satya, bagaimana dia bisa tidur di atas kasur sementara dalam ingatannya dia tidur di lantai semalam.
"Buatkan aku kopi susu seperti biasanya! dan juga membawakan aku camilan seperti biskuit atau gorengan!" pinta Satya.
"Baik, Mas Satya," jawab Fatimah.
Satya yang kini memang sedang libur dan tidak memiliki pekerjaan apapun memilih untuk bersantai di balkon kamar, dari pada kembali tidur atau bermain game di ponsel pintarnya, pernikahan yang awalnya dia rencanakan hanya akan berisi dendam dan semua penyiksaan yang telah direncanakan oleh Satya, kini berubah secara perlahan, sedikit demi sedikit Satya bisa menghilangkan rasa sakitnya terhadap Fatimah, meski rasa sakit itu masih ada tapi Satya kini mulai bersikap sedikit lembut meskipun nada bicaranya tetap dingin dan hemat kosakata ketika berbicara dengan Fatimah tapi setidaknya Satya tidak bersikap seenaknya sendiri seperti pertama kali mereka menikah.
Fatimah berjalan keluar dari kamar meninggalkan Satya untuk membuat kopi susu dan mengambil beberapa camilan yang ada di dapur.
"Ke mana Mas Satya?" gumam Fatimah setelah dia sampai dan tak melihat keberadaan Satya di dalam kamar.
"Apa mungkin dia di kamar mandi?" sambung Fatimah yang kini berjalan ke arah kamar mandi dan mencoba mencari tahu keberadaan Satya, tapi yang di cari tidak ada di kamar mandi.
__ADS_1
Fatimah yang tak mendapat sahutan dari dalam kamar mandi langsung berjalan menuju balkon ketika dia melihat pintu penyekat antara kmar dan balkon sedikit terbuka.
"Ternyata Mas Satya di sini," lirih Fatimah seraya berjalan mendekat ke arah Satya yang kini sedang duduk bersantai di atas ayunan kayu menatap lurus ke atas langit.
"Mas, ini kopi dan biskuitnya." Ujar Ftimah sambil meletakkan satu cangkir kopi dan satu toples biskuit.
"Mas!" Panggil Fatimah ketika dia merasa jika saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakan keinginan hatinya.
"Kenapa tanda tanya" sahut Satya yang masih saja terlihat dingin pada Fatimah.
"Apa hari ini Mas Satya sibuk?" tanya Fatimah yang tak ingin mengganggu aktivitas saat dia ataupun memaksakan diri untuk meminta sesuatu pada Satya.
"Hari ini aku libur," jawab Satya dengan pandangan masih lurus ke depan tanpa menoleh ke arah Fatimah yang kini duduk di sampingnya.
"Aku em~, sebenarnya aku," Fatimah tak sanggup meneruskan kalimatnya, dia merasa takut jika Satya akan menolak permintaannya atau bahkan Satya akan marah karenanya.
"Katakan saja! apa yang kau inginkan?" Satya yang semakin penasaran dengan apa yang diinginkan oleh Fatimah sedikit memaksa agar Fatimah mau mengatakan apa yang dia inginkan.
"Aku ingin pergi ke pesantren," jawab Fatimah.
Fatimah mengatakan apa yang dia inginkan setelah mengumpulkan keberanian dalam dirinya, dia mengatakan semuanya sambil menundukkan kepala karena rasa takut pada Satya masih menguasai dirinya.
__ADS_1
"Beri aku alasan kenapa kamu harus berkunjung ke sana!" titah Satya.
"Hampir semua santri yang keluar dari pesantren karena menikah pasti akan berkunjung ke sana setelah beberapa hari pesta pernikahan, aku juga ingin berkunjung ke sana bertemu dengan teman-temanku dan juga sahabat ku." Jelas Fatimah.
"Kamu ingin menemui sahabatmu atau kamu memang ingin bertemu dengan Fariz," selidik Satya yang tahu dengan pasti jika Fariz adalah putra dari pemilik pesantren di mana Fatimah menimba ilmu dulu.
"Atau jangan-jangan kamu sudah merindukannya karena beberapa hari ini kamu tidak bisa bertemu dengannya?" Sambung Satya.
Fatimah yang mendengar perkataan Satya langsung mendengar dan menetap tidak percaya ke arah Satya. Bagaimana mungkin Satya bisa berpikiran jika Fatimah berkunjung ke pesantren untuk menemui Fariz yang sebenarnya jarang berada di sana.
"Mas Satya, aku benar-benar ingin bertemu dengan teman-teman yang dulu satu asrama denganku, aku juga ingin bertemu dengan sahabatku Zia bukan bertemu dengan kakaknya, lagi pula Mas Fariz jarang sekali ada di pesantren, jadi mana mungkin aku berniat bertemu dengannya di sana," jelas Fatimah yang tidak ingin Satya salah paham atau berpikiran buruk tentangnya.
"Wah, bahkan kamu tahu di mana Fariz biasanya berada, kamu juga tahu jika Fariz jarang sekali ada di pesantren, apa dia selalu di hatimu sampai-sampai dia tidak pernah ada di pesantren?" Sahut Satya yang terdengar masih saja tidak percaya dengan apa yang dijelaskan oleh Fatimah.
"Apa Mas Satya cemburu padaku?" Tanya Fatimah yang merasa jika pertanyaan Satya saat ini hampir sama seperti seorang kekasih yang tengah cemburu dan curiga kepada pasangannya dan takut kehilangannya.
"Apa? Aku cemburu padamu?" sahut Satya jangan langsung berdiri setelah mendengar pertanyaan Fatimah yang tidak masuk akal menurutnya.
"Jangan mimpi! Sekarang bersiaplah aku akan mengantarkanmu ke pesantren kita ke sana sekarang!" titah Satya, dia tidak ingin Fatimah berpikir macam-macam karena ucapannya, Satya juga tidak ingin Fatimah berpikir jika saat ini dia sudah mencintainya dan sekarang saat dia sedang cemburu pada Faris.
"Apa Mas Satya serius?" tanya Fatimah yang merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar, Satya mengizinkan Fatimah pergi tanpa syarat dan hal itu membuat Fatimah merasa heran sekaligus terkejut karenanya.
__ADS_1
"Jangan membuatku mengulangi kata-kataku! karena aku bisa merubah keputusanku secepat kilat yang menyambar di langit," ujar Satya yang cukup membuat Fatimah langsung berdiri lalu berjalan cepat menuju lemari memilih baju yang akan dia gunakan. Sedang Satya memilih keluar dari kamar menuju garasi untuk menyiapkan mobil, baju yang di pakai Satya saat ini sudah cocok jika di gunakan ke pesantren.
"Kamu mau ke mana?" tanya Bibik Husna yang ternyata juga ada di garasi sedang menyiapkan mobil juga.