
"Tidak, Nak, aku justru merasa senang jika melihatmu bahagia dan bisa berumah tangga dengan baik, sama seperti yang lain," jawab sang Ibu.
Fatimah terlihat diam tanpa kata, dia masih mencoba berfikir keras dengan apa yang telah terjadi dan keputusan yang telah dia ambil.
"Fatimah!" panggil Ibu Halimah saat melihat Fatimah hanya diam tanpa kata.
"Sayang!" kali ini Satya yang memanggil Fatimah, tapi dia melakukannya bersamaan dengan sikutan tangan.
"Eh, i~iya ada apa?" sahut Fatimah gugup.
"Kamu kenapa, Nak? apa ada masalah?" Ibu Halimah kembali bertanya saat mendengar sahutan dari Fatimah.
"Tidak ada Bu," jawab Fatimah dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Apa semua barang-barang yang akan kamu bawa sudah siap?" Ibu Halimah kembali bertanya.
"Sudah Ibu," jawab Fatimah denganekspresi wajah lesu.
Suasana di ruang keluarga terlihat berubah, tak ada lagi keceriaan ataupun kebahagiaan yang biasanya terpancar, kini suasana menjadi suram.
"Nyonya!" suara Bibik terdengar mengalihkan pandangan hampir seluruh anggota keluarga.
"Iya, ada apa, Bik?" tanya Ibu Halimah yang saat ini di panggil Nyonya oleh Bibik.
"Di depan ada tamu, Mama Den Satya datang," jelas sang Bibik
"Langsung di suruh masuk ke sini saja Bik!" sahut Ibu Halimah yang merasa jika memang sebaiknya Mama Satya langsung di suruh menemuinya di ruang keluarga.
"Baik, Nyonya," jawab Bibik melenggang pergi meninggalkan Ibu Halimah dan yang lain.
__ADS_1
"Mama," sahut Satya dan Fatimah hampir bersamaan.
"Kamu bilang akan pindah nanti sore, Mama sengaja mampir ke sini untuk mengantar kalian pindah, sekalian bantuin kalian beres-beres di apartemen," ujar Mama Satya.
"Seharusnya Mama tidak perlu repot-repot seperti ini, maaf, karena Fatimah dan Satya merepotkan Mama," ucap Fatimah tulus.
"Mama sama sekali tidak merasa di repotkan, Mama malah bahagia saat melihat kalian bahagia," ujar Mama Fatimah dengan senyum yang merekah di wajahnya.
"Terima kasih sudah datang Ma," Fatimah kembali berucap.
"Sudahlah, jangan berterima kasih padaku! semua yang Mama lakuin demi kebaikanmu, lagi pula kalian adalah putera dan petriku, aku bahagia bisa bersama dengan kalian di setiap momen penting dalam hidup kalian," ujar Mama Satya.
Ruang keluarga terasa semakin hangat sangat berbeda jauh dengan keadaan yang ada di sana tadi sebelum Mama Satya datang.
******
"Apa semuanya sudah di bawa?" tanya Ibu Halimah saat melihat Fatimah dan yang lain sudah selesai menyusun barang di dalam bagasi mobil.
"Kok sedikit sekali? apa tidak kurang?" Ibu Halimah kembali bertanya saat melihat barang yang di bawa Fatimah sedikit.
"Tidak Bu, Fatimah memang sengaja membawa sedikit barang karena Fatimah fikir nanti Fatimah berencana akan sering mampir ke sini," jawab Fatimah.
Ibu Halimah hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala mendengar jawaban Fatimah.
"Jika semuanya sudah siap, ayo berangkat!" ajak Satya setelah selesai menutup bagasi mobil yang sudah di isi dengan barang-barang yang akan di bawa oleh Fatimah.
Mobil menuju sebuah gedung tinggi pencakar langit, sebuah gedung yang terlihat mewah dan indah dengan desain elegan terpampang jelas di hadapan Fatimah.
"Untuk sementara kami akan tinggal di sini dulu, rumah yang aku siapkan belum selesai di bangun," jelaa Satya.
__ADS_1
'Sebenarnya sekaya apa sih suamiku ini?' batin Fatimah menatap penuh rasa penasaran ke arah Satya yang berdiri di sampingnya.
"Aku menang tampan, tapi jangan jatuh hati ataupun kagum dengan ketampananku jika kau tak mau sakit hati nanti," bisik Satya tepat di telinga Fatimah yang langsung menundukkan kepala mendengar ucapan Satya sang suami.
'Dia fikir aku terpesona dengan eajahnya, aku hanya penasaran dengan kekayaan yang kamu punya Satya, bukan terpesona dengan wajahmu, Mas Faiz jauh lebih baik dan lebih tampan darimu,' batin Fatimah merasa muak dengan kenarsisan yang di tunjukkan oleh Satya saat ini.
"Semoga kamu betah ya Nak," ujar Mama Satya yang kini mendekat ke arah Fatimah dan mengalungkan lengannya di bahu Fatimah.
"Semoga Bu," sahut Fatimah yang masih setia menunduk.
"Jangan menunduk terus! lihatlah apartemen Satya yang akan menjadi apartemen kamu juga!" titah Mama Satya.
Sejak pertama kali bertemu dengan Fatimah Mama Satya merasa cocok dan suka padanya, di bandingkan dengan para mantan Satya yang sebelumnya, Fatimah jauh lebih baik dari mereka, bukan hanya dari paras ataupun penampilan saja, Fatimah juga unggul dari tutur kata dan kebaikan hatinya, Mama Satya bersyukur karena sang putera bisa menikah dnegan gadis sebaik Fatimah, dia teelihat lugu dan tak memandang harta, sangat berbeda dengan para mantan Satya yang sebelumnya, mereka hanya mencintai harta yang Satya punya.
"Masuklah!" suara Satya terdengar setelah membuka pintu apartemen yang akan di tempati keduanya.
Saat pertama kali Fatimah masuk ke dalam apartemen milik Satya, dia tidak bisa membohongi dirinya, desain apartemen Satya yang terlihat mewah mampu membuat Fatimah ternganga kagum karenanya.
"Kami akan tinggal di sini untuk sementara waktu Ibu, Mama, ini apartemen milik saya, apartemen ini awalnya saya seeakan tapi satu bulan sebelum rencana perjodohan ini saya sengaja mengosongkannya karena saya ingin mengajak istri saya tinggal di sini lebih dulu sebelum akhirnya pindah ke rumah baru ," Satya menjelaskan apa yang sudah dia rencanakan sebelumnya.
"Apartemennya begitu mewah, Ibu harap bukan hanya apartemennya saja yang mewah, tapi Ibu lebih berharap kamu bisa menjaga dan menyayangi fatimah sepenuh hati dan menggantikan tugas yang selama ini menjadi tugas Ibu," tutur Ibu dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
Melihat apa yang terjadi pada Ibu Fatimah dan mendengar setiap ucapan yang terucap dari bibir Ibu Fatimah membuat hati Satya sedikit terketuk, ada secuil rasa bersalah yang kini tumbuh dalam hatinya, hanya saja sekuat tenaga Satya mencoba untuk menghilangkannya.
"Ibu jangan khawatir! aku akan menjaga Fatimah dengan baik," jawab Satya, dia memang akan menjaga Fatimah tapi dengan cara yang berbeda.
"Terima kasih, Nak, semoga kehidupan pernikahan kalian selalu di penuhi dengan kebahagiaan dan keberkahan," untaian harapan terdengar begitu indah di telinga dan Ibu halimah berharap apa yang di katakan Satya benar-benar dia lakukan.
"Sayang!" panggil Satya dengan nada lembut seraya meraih tangan Fatimah dan menuntunnya masuk ke dalam kamar yang berada di hadapannya.
__ADS_1
"Ini kamar utama, kamar yang akan kamu dan aku tempati mulai detik ini, letakkan semua barang-barang kamu di sebelah sini!" tutur Satya sambil menunjukkan satu sisi lemari yang kosong.
Satya sudah mempersiapkan segalanya sejak lama, dia memang sudah berencana untuk mengajak Fatimah tinggal di apartemen miliknya, karena itulah semua sudah siap untuk di tinggali.