
Melihat tatapan Satria ke arah Zia membuat Faris curiga, dia mulai berpikir jika Satria tertarik pada adiknya, tapi pikiran itu segera ditepis olehnya sebelum semakin menjadi-jadi, jika tidak ada kata tertarik ataupun suka yang keluar dari mulut Satria, maka Faris tidak akan pernah berpikir ataupun justru bertanya tentang tatapan yang baru saja diberikan Satria pada Zia.
"Khem," melihat Satria yang terus sudah menatap ke arah Zia yang kini berjalan keluar dari ruang tamu menuju dapur tanpa menoleh ke belakang membuat Faris sedikit yakin jika Satria memang tertarik pada adiknya, karena itulah Faris harus lebih berhati-hati dan menjaga sang adik agar tidak ada mata jahat yang mengintainya.
"Maaf," ujar Satria sadar dengan apa yang baru saja dia lakukan, Satria mengerti kalau saat ini dia tidak boleh memandang Zia seperti tadi.
"Kenapa kamu menatap adikku seperti itu?" Fariz tidak ingin terjadi sesuatu pada sang adik, karena itulah dia langsung menanyakan maksud dari tatapan Satria barusan.
Satria yang sebenarnya tidak ingin mengatakan semuanya saat ini terdiam memikirkan jawaban apa yang akan dia berikan pada Fariz.
"Satria! Aku sedang bertanya padamu," melihat Satria yang hanya diam tidak langsung menjawab pertanyaannya, Faris kembali bertanya dengan ada tegas agar Satria bisa menjawabnya.
"Eh, maaf, apa kamu tidak marah jika aku mengatakan yang sebenarnya?" Lagu-lagu Satria tidak langsung menjawab pertanyaan melainkan melainkan sebuah pertanyaan dengan harapan Faris bisa menjawabnya sesuai dengan jawaban yang tengah diharapkan oleh Satria saat ini.
"Aku pasti akan menerima setiap kejujuran siapapun orang yang ingin mengatakan jujur dan sebenarnya padaku, meskipun kejujuran itu pada akhirnya kami menyakitiku tapi setidaknya dia sudah berani jujur dan meminta maaf padaku," jawab Faris dengan tatapan menelisik mencoba mencari kejujuran di mata Satria.
__ADS_1
"Sebenarnya aku jatuh hati pada adikmu Zia, aku jatuh hati dari awal bertemu dengannya, dan aku ingin berkenalan lebih jauh dengannya," jujur Satria.
Satria yang memang bukan laki-laki yang lembek atau laki-laki yang suka bertele-tele, dia selalu mengatakan semuanya dengan singkat padat dan jelas, meski terkesan terburu-buru tapi Satria tidak ingin berbohong ataupun mengarang cerita untuk menjawab pertanyaan Faris yang memang perlu mendapat jawaban jujur darinya, sedang Faris kini terlihat terdiam menatap kosong ke arah Satria yang tengah duduk anteng di hadapannya.
"Maaf jika aku lancang, atau bahkan terkesan terburu-buru, aku hanya ingin mengungkapkan apa yang memang aku rasakan, dan aku berharap kamu memberiku izin, karena niatku ini baik, aku tidak ingin pacaran atau melakukan pendekatan pada Zia, aku ingin menjadikan dia mahrom dan halal untukku, agar aku bisa mencurahkan segala rasa yang tengah berada di dalam hatiku ini," Satria Kembali mengatakan semua yang ada dalam hatinya, dia sudah bertekad sejak awal untuk mengejar Zia dan mengatakan semuanya pada Faris dengan harapan dia bisa mendapatkan restu dari Faris.
"Apa kamu serius dengan kata-katamu barusan?" Faris tidak mau salah memilih dan pada akhirnya adiknyalah yang menderita, karena itulah dia kembali bertanya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri jika Satria serius dan tidak berbohong tentang perasaan yang baru saja dia ungkapkan.
"Aku tidak pernah berbohong ataupun bercanda jika itu menyangkut perasaan Faris, apa yang aku katakan barusan merupakan kejujuran dan kenyataan yang tengah aku rasakan tanpa bisa aku hentikan, perasaan ini muncul dengan sendirinya tanpa bisa aku hentikan," jelas Satria yang kembali menegaskan segala rasa yang tengah tumbuh dalam hatinya.
"Aku tidak bisa menjawabnya sekarang Satria, aku akan rundingkan hal ini dengan kedua orang tuaku, lagi pula kita baru kenal, Zia belum mengenalmu begitu pula sebaliknya, bagaimana kalau kamu biarkan aku dan keluargaku lebih mengenalmu lebih dulu, lalu kami akan putuskan bisa menerima atau tidak," Faris menjelaskan apa yang menurutnya baik dan memberikan keputusan yang menurutnya tepat.
"Kamu benar Faris, mencari pasangan hidup tidak bisa gegabah sembarangan, aku mengerti dan aku menerima alasan untuk tidak memberi jawaban saat ini, tapi aku harap setelah kamu dan keluargamu juga Zia, mengenal aku lebih jauh dan mengetahui siapa keluargaku, aku harap kalian bisa menerima diriku, dan menjadikan aku bagian dari keluarga kalian," sahut Satria saat dia tahu dengan pasti jika saat ini Faris dan keluarganya memang butuh waktu untuk menerimanya lagi.
Sejenak suasana menjadi hening, hingga Faris yang sadar jika apa yang baru saja dia dengar dari bibir Satria merupakan suatu kejujuran atas niat baik karena anugerah rasa cinta yang telah Tuhan berikan, karena itulah Faris mencoba mencairkan suasana agar tidak terasa canggung, dan keduanya kembali mengobrol akrab seperti sebelumnya.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu aku pamit pulang dulu." Pamit Satria saat melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul tiga sore, waktu terasa begitu cepat saat keduanya asyik mengobrol merencanakan ide dan proyek yang akan segera mereka kerjakan.
"Yasudah, hati-hati!" Sahut Faris dengan senyum yang mengembang di wajahnya, mengobrol banyak dengan Satria sedikit memberitahukan jika dia adalah laki-laki yang baik dan Faris berpikir untuk terus mencari tahu jati diri Satria dan siapa dia sebenarnya agar Faris bisa memutuskan apakah dia mau merestui atau tidak niat Satria yang ingin meminang sang adik.
"Tentu, salam untuk adikmu," Satria dengan senyum yang mengembang di wajahnya sedang Faris hanya menggelengkan kepala melihat sikap Satria yang terlihat seperti seorang ABG yang tengah kasmaran dan berjuang untuk mendapatkan cintanya
Satria terus saja tersenyum seraya mengemudikan mobil menyusuri jalan raya menuju rumahnya. Dalam menang Satria saat ini Faris pasti merestui niatnya untuk meminang Zia sang adik, meski Faris tidak mengatakannya secara langsung tapi keramahan dan senyum yang sering dia lihat di wajah Paris saat mengobrol dengan yang sudah memberikan tanda jika Faris mulai menerima kehadiran Satria dan mungkin saja esok dia akan merestui niatnya.
"Assalamualaikum, Mama!" Suara nyaring Satria terdengar menggema di ruang tamu terdengar hingga ruang keluarga di mana papa dan Satya sedang mengobrol.
"Suaramu nyaring sekali, kamu habis dapat lotre ya kak?" sahut Satya saat melihat sang kakak yang baru saja masuk ke dalam ruang keluarga dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Ini lebih membahagiakan dari pada hanya memenangkan sebuah lotre Satya," sahut Satria yang terlihat begitu bahagia dengan wajah yang berbinar.
"Serius? apaan yang lebih besar dari lotre?" sahut Satya seolah tak percaya dengan apa yang baru saja di katakan oleh Kakaknya itu.
__ADS_1