
"Aku tidak bisa meninggalkan Mas Satya begitu saja, apa yang telah terjadi di antara kita bukanlah hal yang mudah untuk dijelaskan, sebuah pernikahan bukan hanya menyatukan dua orang atau dua sejoli saja tapi sebuah pernikahan juga menyatukan dua keluarga yang sebelumnya tidak saling mengenal, jadi aku tidak bisa meninggalkan hubungan ini begitu saja maaf, " jawab Fatimah yang mengerti dengan Apa hakikat sesungguhnya sebuah pernikahan.
"Aku mohon, Pergilah dan jauhi Satya! "Sekali lagi suara meminta Fatimah untuk pergi, kali ini mimik wajah Farah berubah memelas agar Fatimah mau mengikuti keinginannya.
" Maaf, Farah, Jika kamu begitu menginginkannya katakan sendiri kepada Mas Satya, Jangan pernah meminta padaku! Karena aku tidak akan mampu mengabulkan keinginanmu itu, " sahut Fatimah kemudian melanggar pergi meninggalkan Farah yang masih setia berdiri di hadapannya tanpa bisa bergerak ataupun berkata-kata lagi.
Fatimah tak lagi menggubris keberadaan Farah yang menurutnya tidak terlalu penting urusan Farah dan Satya bukanlah urusan dia meski Fatimah tahu jika Satya adalah suaminya saat ini, tapi Fatimah tidak pernah tahu hubungan Satya dan Farah sebelumnya Selain karena Fatimah belum pernah mengenal Satya sebelumnya, Fatimah sendiri juga belum mendapatkan cinta dari satya yang kini telah menjadi suaminya.
Fatimah berjalan meninggalkan Farah menuju rumah snag Ibu, Fatimah sudah tidak sabar ingin segera menemui sang Ibu, dia memilih menaiki taxi agar bisa sampai lebih cepat.
"Assalamu'alaikum, Bu," ujar Fatimah sesaat setelah dia sampai di depan rumah.
"Waalaikum salam," sahut Bik Husna.
"Fatimah," lirih Bibik Husna, dia terlihat terkejut melihat keberadaan Fatimah yang kini Berdiri tegap di depan pintu rumah.
"Loh, Ibu di mana Bik?" tanya Fatimah saat melihat Bibik Husna yang membuka pintu.
"Ibu kamu sedang istirahat di kamar, masuklah dulu! "Jawab Bibi Husna yang kini membuka lebar pintu rumah Fatimah.
"Apa ibu sakit lagi, Bibik?" Fatimah kembali bertanya saat mendengar jika sang Ibu sedang beristirahat di dalam kamar, biasanya ibu Halimah jarang sekali beristirahat di jam seperti ini, Ibu Halimah lebih suka merawat bunga-bunganya dari pada tidur ataupun beristirahat di dalam kamar.
"Tidak, Ibu kamu hanya merasa mengantuk dan sedikit lelah karena itulah dia memilih beristirahat, " jawab Bibik Husna.
__ADS_1
"Biar Fatimah yang melihatnya sendiri," ujar Fatimah mencegah langkah Bik Husna.
"Baiklah, kalau begitu Bibik tinggal ke kamar dulu." Sahut Bibik Husna yang kini berjalan ke arah yang berbeda.
Langkah Fatimah terasa begitu ringan, dia yang merindukan sang Ibu kini berjalan dengan cepat, meski hanya beberapa hari Fatimah tak bertemu dengan sang Ibu tapi rasanya sudah setahun, meski sebelumnya Fatimah sudah terbiasa berada di pesantren dan jarang bertemu dengan sang Ibu, tapi setelah melihat Ibunya sakit Fatimah merasa ingin terus bersamanya, Fatimah ingin menjaga sang Ibu setiap waktu, Tapi keadaan tidak memungkinkan Fatimah untuk tetap berada di sisi sang ibu, karena saat ini dia sudah menjadi seorang istri yang harus berbakti kepada suaminya.
'Ceklek'
Perlahan tapi pasti Fatimah membuka pintu kamar sang Ibu, terlihat Ibu Halimah Tengah berbaring memejamkan mata.
"Ibu," lirih Fatimah seraya mendekat ke arah sang Ibu.
Tak ada respon, Ibu Halimah masih saja diam tak bergerak, jantung Fatimah berdetak jauh lebih kencang dari biasanya, melihat sang Ibu yang tidak bergerak membuat Fatimah takut, dia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada sang Ibu.
"Ibu," sekali lagi Fatimah memanggil sang Ibu yang msih saja diam tak merespon, kali ini Fatimah tak hany memanggil, tapi di menggoyangkan tubuh sang Ibu mencoba membangunkannya.
"Fatimah," lirih Ibu Halimah.
Ibu Halimah langsung duduk melihat sang putri yang sudah duduk di sampingnya dengan tatapan wajah sedih dan penuh kekhawatiran.
" Sejak kapan kamu ada di sini? "Tanya ibu Fatimah Setelah dia mendapatkan posisi yang nyaman untuk duduk.
" syukurlah, apa Ibu baik-baik saja?" Bukannya menjawab pertanyaan yang ibu Halimah ajukan Fatimah malah balik bertanya, melihat sang Ibu membuka mata dan duduk dengan posisi yang terlihat nyaman membuat Fatimah merasa legah, sejak tadi dia khawatir takut terjadi apa-apa kepada sang ibu.
__ADS_1
" ibu baik-baik saja, Sejak kapan kamu ada di sini? " pesawat yang ibu yang kembali bertanya karena merasa tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya yang tadi diajukan.
" Aku baru saja datang ibu, tumben Ibu tidur di jam seperti ini? Apa ibu sakit? " Fatimah masih belum merasa lega jika ibunya tidak menjawab seluruh pertanyaan yang muncul dalam benaknya.
" Ibu baik-baik saja, tadi ibu hanya merasa lelah karena semalam Ibu tidak bisa tidur, "Jelas sang ibu.
"Kenapa Ibu tidak bisa tidur?" tanya Fatimah mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi sampai sang Ibu tidak bisa tidur.
"Entahlah, Ibu hanya merasa tidak mengantuk semalam," jawab Ibu Halimah dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Ibu harus banyak istirahat, Fatimah tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada Ibu," ucap Fatimah sambil mencium tangan sang Ibu mencoba memberitahu jika dia sangat menyayangi sang Ibu.
"Fatimah tidak usah khawatir, semua sudah di tuliskan di lauhul mahfud, sebelum kita di lahirkan atau bahkan di ciptakan, jadi Fatimah jangan mikir yang macam-macm! cukup lakukan apa yang menurutmu baik dan berbaktilah pada suamimu!" pesan Ibu Halimah dengan senyum yang mengembang sambil mengusap lembut kepala Fatimah yang tertutup kerudung.
Fatimah memejamkan mata menikmati setiap sentuhan yang di berikan oleh sang Ibu, kasih sayang yang tidak pernah bisa tergantikan.
"Ibu, aku merindukanmu," lirih Fatimah seraya memeluk sang Ibu dengan sangat erat, rasanya begitu damai dan tenang, sentuhan tangan sang Ibu mampu memberikan kedamaian yang tak pernah bisa di dapatkan Fatimah sebelumnya.
"Ibu selalu merindukanmu setiap waktu," sahut Ibu Halimah yang kini mencium kepala Fatimah mencoba menyalurkan segala rasa sayang yang dia miliki untuk putri kesayangannya.
"Ibu punya sesuatu untukmu," ujar Ibu Halimah yang kini berdiri melangkah menuju lemari yang berada tak jauh dari tempat keduanya duduk.
"Ibu punya apa?" sahut Fatimah sambil menatap lekat ke arah sang Ibu.
__ADS_1
Ibu Halimah mengambil satu kotak berukuran sedang dan membawanya mendekat ke arah Fatimah yang kini duduk manis di atas tempat tidur.
"Ibu punya beberapa perhiasan yang sengaja Ibu simpan, dulu Ibu membelinya dan berniat memberikannya padamu agar kamu bisa menggunakannya ketika sudah besar, tapi peraturan di pesantren yang melarang santrinya memakai perhiasan memaksa Ibu untuk terus menyimpannya," tutur Fatimah.