
Tidak ada hal yang paling indah dalam hidup seorang anak kecuali bisa bersama sang Ibu, dan melihatnya tersenyum.
"Hati-hati, Bu!" ujar Fatimah saat memapah sang Ibu untuk tidur di atas kasur sesaat setelah sampai di rumah.
"Terima kasih, Nak," sahut sang Ibu sambil tersenyum, Ibu Halimah merasa begitu bahagia karena memiliki seorang putri seperti Fatimah.
"Ibu, ini sudah menjadi tugasku, jadi, jangan berterima kasih seperti itu!" sahut Fatimah yang mengerti jika apa yang dia lakukan memang sudah seharusnya.
"Ibu bahagia punya anak sepertimu, semoga kamu bahagia dan mendapat ridhonya," untaian do'a yang sering sekali terdengar kini kembali di dengar oleh Fatimah, do'a yang selalu menyejukkan hati siapapun yang mendengarnya.
"Amin, Fatimah juga bahagia punya Ibu sepertimu," sahut Fatimah yang kini memeluk erat sang Ibu.
Sungguh suasana mengharukan membuat air mata siapapun yang melihatnya akan meleleh.
Tok ... tok ... tok ....
Suara ketukan pintu terdengar mengusik kedua insan yang tengah mengungkapkan segala rasa sayang yang dia miliki.
"Nona, Nyonya!" suara asisten rumah tangga yang"Ada apa, Bik?" tanya Fatimah sesaat setelah keluar dari kamar.
__ADS_1
"Ada tamu dari Wo yang mau mengukur baju, mereka menunggu Nona di bawah," tutur sang asisten rumah tangga.
"WO," lirih Fatimah merasa bingung dengan tamu yang baru saja datang.
"Siapa yang datang, Nak?" tanya Ibu Halimah yang melihat Fatimah tak kunjung kembali tapi tetap diam di depan pintu kamar.
"Itu Bu, ada WO yang datang, apa Ibu yang mengundang mereka datang?" tanya Fatimah dengan penuh rasa penasaran.
"Bukan Ibu yang meminta mereka datang, pasti Satya yang mengutus," sahut Ibu.
"Suruh tunggu di ruang tamu saja Bik!" ujar Fatimah.
"Loh, kenapa tidak ikut ke ruang tamu juga, Nak?" tanya Ibu Halimah dengan ekspresi wajah penuh rasa penasaran.
"Apa aku harus menemui mereka, Bu?" tanya Fatimah yang terlihat enggan untuk menemui WO.
"Ya haruslah, Nak, ini rencana pernikahanmu yang akan melakukan prosesi pernikahan itu kamu, tentu saja kamu harus menemui mereka," jelas Ibu Fatimah.
Sebenarnya Fatimah masih belum bisa menerima rencana pernikahan ini sepenuhnya, tapi hal itu hanya bisa di pendam dalam dada tanpa bisa di ungkapkan dengan lisan.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu aku permisi dulu, Bu," pamit Fatimah yang langsung berjalan keluar dari kamar meninggalkan sang Ibu yang kini malah tersenyum melihat betapa taat dan patuh Fatimah padanya.
Fatimah berjalan dengan langkah penuh keraguan, meski begitu dia tetap saja melangkah menuju ruang tamu untuk menemui pihak WO yang sudah menantinya.
"Mari saya tunjukkan gaunnya." Ajak seorang gadis yang mungkin satu tahun lebih tua darinya, dia langsung menyambut kedatangan Fatimah sesaat setelah Fatimah sampai di ruang tamu.
Sedang Fatimah hanya tersenyum sambil mengikuti arahan gadis itu dan melakukan apa yang di perintah kan padanya.
"Ada dua pilihan gaun, Mbak Fatimah bisa memilih salah satunya!" ujar gadis itu.
"Nama kamu siapa?" bukannya menjawab pertanyaan Gadis di depannya itu Fatimah malah balik bertanya.
"Saya Fanya, dan saya mendapat tugas membuat gaun pengantin untuk acara pernikahan Mbak Fatimah nanti," jawab Fanya.
"Oh, apa sebelumnya kamu mengenalku?" Fatimah kembali bertanya.
"Saya hanya melihat Mbak Fatimah dari foto yang mempelai pria berikan dan kamu juga tahu ukuran gaun Mbak dari beliau juga," jelas Fanya.
'Dia bahkan memiliki foto ku dan tahu ukuran bajuku, tapi kenapa aku tidak boleh tahu siapa dia?' batin Fatimah.
__ADS_1