
Fatimah terus berjalan penuh kehati-hatian hingga sampailah di dalam kamar di mana terlihat Satya sedang terlelap dalam mimpinya, padahal sebenarnya Satya hanya memejamkan mata menikmati setiap rasa ngilu di area mata yang kini di rasakan oleh Satya yang memang sangat sering menatap layar ponsel.
"Kamu ngapain ngendap-endap kayak maling?" suara Satya sukses membuat Fatimah terkejut, langkahnya terhenti, dia mematung tidak jauh dari kamar mandi.
"Eh, a~aku," sahut Fatimah gugup, mulutnya gagu saat Satya menyapa dan memanggil namanya.
"Kamu sengaja menggodaku?" sambung Satya saat dia sudah duduk dari tidurnya, dan Satya sempat menggelengkan kepala mencoba menetralkan perasaan yang kini tengah menguasai hatinya, jantung yang berdebar kencang dan nafas yang tak beraturan memberi tanda jika ada sesuatu yang tengah terjadi pada Satya saat ini.
Si Joni yang sejak tadi tertidur pulas tiba-tiba terbangun tanpa di perintah.
'Sial, kenapa si Joni ikut bangun juga sih," keluh Satya saat merasakan sesuatu yang tak tertahankan kini muncul dari dalam dirinya, kaki yang jenjang dan kulit putih yang terlihat begitu mulus tanpa cacat terpampang jelas di hadapannya, bagaimana bisa Satyarnolak ataupun mengabaikan pemandangan indah yang sebenarnya sudah halal untuk dia nikmati sedang terlihat jelas di hadapannya.
"Maaf, tadi aku lupa bawa handuk dan baju ganti," tutur Fatimah sambil menundukkan badan, meski dia tahu jika apa yang di lakukannya tidak termasuk dosa, tapi tetap saja Fatimah merasa takut dan merasa tidak enak hati dengan apa yang telah terjadi.
"Kalau begitu aku akan segera ambil baju dan memakainya." Pamit Fatimah hendak pergi agar Satya tidak berfikir jika dia sengaja menggodanya.
"Siapa bilang kamu boleh pergi begitu saja?" seru Satya yang ternyata sudah ada di hadapan Fatimah tanpa dia sadari, sejak tadi Fatimah hanya menunduk dan sibuk dengan pemikirannya sendiri, karena itulah Fatimah merasa tidak menyadari sejak kapan Satya berdiri di hadapannya.
"Tidak secepat itu kamu bisa pergi Fatimah, setelah membangunkan si Joni, kamu ingin pergi begitu saja tanpa mau bertanggung jawab," sambung Satya yang kini justru membuat Fatimah bingung atas apa yang baru saja dia dengar.
"Joni," lirih Fatimah merasa asing dengan nama yang baru saja dia dengar.
"Siapa Joni, Mas?" kali ini Fatimah bertanya dengan ekspresi wajah polos yang di penuhi rasa penasaran.
__ADS_1
'Astaga, Fatimah tidak mengerti apa yang aku maksud,' batin Satya merasa menyesal dengan apa yang sudah dia katakan, Satya baru ingat jika gadis yang dia nikahi jauh berbeda dengan mantan-mantannya yang sangat berpengalaman, Fatimah adalah gadis suci yang tak pernah terjamah ataupun tersentuh, sangat jauh berbeda dengan mereka yang sudah berpengalaman dengan Joni yang ada di luar sana.
"Jangan banyak bertanya! kamu akan tahu nanti siapa Joni yang aku maksud," ujar Satya yang merasa tidak ingin terlalu berlama-lama mengobrol hal yang kurang penting karena si Joni di sana sudah tak bisa diam lagi.
Fatimah terdiam mendengar ucapan Satya, dia hanya bisa pasrah jika Satya Mengambil haknya saat ini, semua yang akan di lakukan Satya memang sudah sangat wajar, karena apa yang akan dia lakukan memang seharusnya sudah dia lakukan sejak awal.
Dengan tubuh sedikit bergetar Fatimah memejamkan mata mencoba menetralkan segala rasa yang tak pernah dia rasakan sebelumnya, sedang Satya yang tak lagi bisa menahan diri, kini mulai memegang pundak Fatimah, mencoba mengungkapkan segala rasa yang dulu pernah menghilang dan kini perlahan kembali tanpa di sadari olehnya.
'Kenapa tubuhnya bergetar?' batin Satya saat dia bisa merasakan getaran di tubuh Fatimah.
'Aku yakin ini semua terjadi karena apa yang aku lakukan saat ini adalah pengalaman pertama bagi Fatimah,' batin Satya yang kembali berucap.
"Tenanglah!" bisik Satya mencoba menenangkan Fatimah yang terlihat begitu tegang juga gemetaran.
Keduanya larut dalam kenikmatan yang memang sudah seharusnya mereka rasakan, cium**n pertama milik Fatimah telah di ambil oleh orang yang memang memiliki hak penuh atas Fatimah.
Fatimah yang memang belum pernah melakukannya sebelumnya hanya bisa diam tanpa bisa protes ataupun banyak bertanya tentang apa yang baru saja di lakukan oleh Satya, sedang Satya kini tengah menikmati manisnya bi**r sang istri, bi**r yang murni dan belum pernah terjamah oleh siapapun, bagi Satya, bi**r Fatimah terasa begitu manis dan memabukkan, apa lagi terselip rasa bangga karena menjadi yang pertama semakin membuat Satya melayang, ci***an yang awalnya biasa saja kini terasa semakin menuntut, hingga membuat Fatimah merasakan hal yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
Tok ... tok ... tok ....
Suara ketukan pintu membuyarkan Satya dan Fatimah yang tengah asyik menikmati sesuatu yang tak bisa di jelaskan.
"Sial, siapa yang menggangguku?" keluh Satya yang terpaksa melepas tautan cinta yang baru saja menyatu dan terpaksa terpisah karena sebuah ketukan di pintu kamarnya.
__ADS_1
"Pergilah ke ruang ganti! dan cepat pakai baju!" titah Satya yang merasa khawatir jika yang mengetuk pintu itu Satria.
"Iya, tunggu sebentar!" ujar Satya saat mendengar seseorang di balik pintu terus menggedornya.
Dengan langkah cepat dan hati sedikit jengkel Satya berjalan mendekat ke arah pintu dan membukanya.
"Ada apa?" tanya Satya dengan nada sedikit ketua meskipun yang menggedornya itu sang Mama, tetap saja Satya berucap dengan sedikit ketua, rasanya dia ingin marah pada sang Mama yang sudah mengganggu aktivitasnya.
"Apa Mama mengganggu?" Melihat nada bicara Satya dan ekspresi wajahnya cukup membuat Mama Nia mengerti jika kehadirannya mengganggu aktifitas sang putera.
"Tidak, memangnya ada apa, Ma?" Satya tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Mama jika kehadirannya benar-benar mengganggu, Satya memilih untuk berbohong dan tidak mengatakan yang sebenarnya pada Satya dari pada dia mengatakan yang sebenarnya dan berakhir Omelan, karena sang Mama bukanlah tipe orang yang mudah di beritahu apa lagi di salahkan.
"Mama hanya ingin memberikan baju ini untuk Fatimah, biar dia memakainya besok saat menjemput Papa." Mama Nia memberikan abaya berwarna pink yang terlihat begitu indah juga anggun, dan kelihatannya abaya itu sangat cocok untuk Fatimah yang memang lemah lembut juga anggun.
"Baiklah, aku akan memberikan baju ini untuk Fatimah, Mama tidak usah khawatir!" jawab Satya dengan senyum yang mengembang di wajahnya, senyum yang sengaja di tunjukkan meski sebenarnya hatinya tengah marah.
"Bagus, tapi di mana Fatimah?" sahut sang Mama yang justru mejanya keberadaan Fatimah yang tidak dia lihat.
"Fatimah sedang mandi, apa masihbada yang perlu aku sampaikan? atau Mama mau ngomong sendiri ke anaknya?" seru Satya yang sebenarnya ingin sang Mama pergi.
"Tidak ada, katakan saja pada Fatimah jangan sampai telat besok jam delapan pagi tepat!" pesan Mama Satya sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan Satya.
"Soal itu Mama jangan khawatir! serahkan semua pada Satya," ujar Satya sebelum sang Mama melangkah lebih jauh meninggalkannya.
__ADS_1