
"pagi, Sayang," sapa Satya seraya memeluk Fatimah dari belakang.
"Mas Satya," ujar Fatimah sambil menggeliat pelan merasa sedikit risih dengan apa yang di lakukan oleh suaminya, semua rasa risih itu muncul karena saat ini Fatimah belum mandi, dia baru saja bangun dan mengerjakan sholat subuh, Fatimah yang biasanya langsung mandi saat ini merasa kurang enak badan dan kedinginan, karena itulah dia memilih untuk berdiri di belakang pintu penyekat antara kamar dan balkon.
"Jangan bergerak! kamu bisa membangunkan Joni yang sedang tidur," bisik Satya tepat di telinga Fatimah yang saat ini tidak memakai hijab.
"Joni," lirih Fatimah, merasa bingung dengan nama yang sering sekali diucapkan oleh Satya, tapi tidak pernah dikenalkan kepada Fatimah dan bahkan Fatimah tidak pernah bertemu dengan orang yang bernama Joni.
"Joni itu siapa sebenarnya, Mas?" tanya Fatimah polos, melihat sikap Satya yang sedikit berubah, dia tidak sedingin seperti saat keduanya pertama kali bertemu membuat Fatimah berani untuk menanyakan hal yang membuatnya penasaran juga merasa aneh, sedang Satya justru tersenyum lucu mendengar pertanyaan Fatimah yang terdengar begitu polos.
"Apa kamu ingin berkenalan dengan Joni?" Bukannya menjelaskan siapa Joni sebenarnya, Satya justru memberi pertanyaan yang semakin membuat Fatimah merasa bingung dan penasaran.
"Tentu saja, aku sangat penasaran siapa Joni sebenarnya? Kamu sering mengatakannya tapi aku tidak pernah melihatnya, bahkan kamu tidak pernah memperkenalkan Joni padaku," jujur Fatimah yang semakin membuat saat ya merasa geli, ingin rasanya dia tertawa terbahak-bahak melepas semua perasaan lucu yang kini tengah mengendap dalam dirinya.
"Kenapa Mas Satya malah tertawa?" Fatimah tak lagi bisa menahan diri untuk tetap diam dan terus bertanya tanpa mendapat jawaban yang jelas dari Satya, dengan gerakan cepat Fatimah langsung melepaskan diri dari pelukan Satya, Fatimah langsung berbalik menghadap ke arah Satya dan menatapnya penuh dengan tuntutan.
"Mas, jangan buat aku semakin penasaran dan merasa bingung dengan Joni yang kamu maksud, tolong jelaskan siapa Joni? apa dia temanmu?" Fatimah yang merasa sangat penasaran dan sedikit jengkel karena tidak kunjung mendapat jawaban dari Satya kembali bertanya dengan tatapan cukup tajam menetap ke arahnya.
"Jangan kesal seperti itu! Saat ini belum mempunyai kamu mengenal Joni atau bahkan bertemu dengan Joni, jika waktunya sudah tepat nanti kamu pasti akan bertemu dengannya, mungkin kamu akan selalu merindukannya setiap waktu," ujar Satya sambil mencubit gemas hidung Fatimah kemudian berlalu meninggalkannya tanpa penjelasan ataupun jawaban yang sejak tadi ditunggu-tunggu oleh Fatimah.
"Mas Satya! Kenapa malah pergi? Jawab dulu pertanyaanku, Mas!" Suruh Fatimah dengan nada bicara sedikit meninggi berharap Satya mau berhenti dan memberi penjelasan terlebih dulu padanya, tapi apa yang diharapkan oleh Fatimah tidak terjadi, karena Satya justru mempercepat langkahnya masuk ke dalam kamar mandi dan menutupnya rapat, agar Fatimah tidak bisa mengejarnya.
__ADS_1
"Isshh dasar nyebelin," gerutu Fatimah merasa sangat jengkel dengan apa yang baru saja di lakukan oleh Satya.
Tapi meski rasa Jengkel sedang menguasai diri Fatimah, dia tetap melakukan tugasnya sebagai seorang istri.
Meletakkan baju ganti untuk Satya di atas tempat tidur saat Satya mandi sudah menjadi kebiasaan sekaligus tanda bakti Fatimah pada Satya, meski keduanya masih bertengkar Fatimah tetap menyiapkan baju Satya seperti sebelumnya.
"Mas, aku ke bawah dulu. Jika ada yang Mas Satya inginkan hubungi saja nomorku!" pesan Fatimah sebelum dia pergi meninggalkan kamar.
"Beres," sahut Satya dari dalam kamar mandi, dan Fatimah yang yakin jika sang suami sudah mendengar pesan darinya memilih untuk pergi meninggalkan kamar dan berjalan turun ke bawah untuk mengecek keadaan di sana.
"Kamu mau ke mana, Fatimah?" tanya Mama Nia yang baru saja keluar dari kamar tamu dan bertemu dengan Fatimah yang juga baru turun dari tangga.
"Jangan khawatirkan apapun hari ini! karena khusus untuk hari ini sampai selesai pengajian Ibumu, Mama akan menghandle semuanya," ujar Mama Nia yang cukup membuat Fatimah merasa senang, terharu dan penuh syukur yang bercampur jadi satu, tanpa kata Fatimah langsung memeluk Mama Nia mencoba mengungkapkan segala rasa yang kini sedang dia rasakan.
"Sudah jangan menangis!" ujar Mama Nia sambil mengusap lembut punggung Fatimah yang saat ini menangis dalam pelukannya.
"Jangan pernah merasa sendirian, sayang! Ada mama, papa, Kak Satria dan Satya yang akan selalu menemanimu," sambung Mama Nia yang mengerti dengan apa perasaan Fatimah saat ini.
Mama Nia yang sudah tidak memiliki orang tua sangat mengerti dengan perasaan Fatimah saat ini, kehilangan orang tua bukanlah hal yang mudah untuk dilewati, meski begitu Mama Nia tidak ingin melihat Fatimah terus bersedih dan terpuruk dengan keadaannya saat ini.
"Lebih baik kamu istirahat di kamar! Biar mama yang urus semuanya," Mama Nia kembali mengatakan hal yang menurutnya baik untuk Fatimah saat ini.
__ADS_1
"Terus berdiam diri di kamar bukanlah hal yang baik, Ma, ingatan tentang ibu akan semakin terasa jika aku terus mengurung diri di kamar, bisakah aku membantu mama dan berkumpul dengan yang lain untuk menyiapkan pengajian nanti malam?" Ujar Fatimah yang merasa jika dia akan semakin terpuruk saat sendirian di kamar.
"Apapun yang menurutmu bisa meringankan beban dalam hatimu, dan apapun yang menurutmu bisa membuatmu jauh merasa lebih baik maka lakukanlah! Mama akan selalu mendukungmu," sahut Mama Nia yang tak pernah berhenti mengusap lembut punggung Fatimah mencoba menguatkan menantunya itu.
"Setidaknya aku punya teman untuk mengobrol, dan melihat kalian bercanda, dengan begitu aku akan jauh merasa lebih baik," tutur Fatimah.
"Baiklah, sekarang kita ke dapur dan mulai menyiapkan semuanya." Ajak mama Nia dengan senyum yang terlihat begitu tulus terlihat di wajahnya.
Dengan langkah pelan namun pasti Fatimah berjalan beriringan bersama sang Mama masuk ke dalam dapur di mana ada begitu banyak orang yang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
"Nona kenapa ke sini?" sambut asisten rumah tangga yang ada di rumahnya.
"Aku ingin membantumu, Bik," jawab Fatimah enteng.
"Bukankah lebih baik Nona beristirahat di kamar? Nona pasti lelah setelah menemani almarhumah Nyonya di rumah sakit dan mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan nyonya kemarin," ujar sang asisten rumah tangga yang ada di rumah Fatimah.
Maksud sang asisten memang baik, dia tidak ingin, Fatimah semakin lelah karena membantu menyiapkan pengajian nanti malam.
"Biarkan Fatimah melakukan apa yang dia inginkan, Bik, setidaknya apa yang dia lakukan bisa membuatnya merasa jauh lebih baik," cegah Mama Nia yang tidak ingin melihat siapapun menghalangi keinginan Fatimah saat ini.
"Jika memang apa yang dikatakan Nyonya benar, maka Bibik hanya bisa mengikuti dan membantu Nona Fatimah," ujar sang asisten yang kini terlihat menunduk merasa bersalah dengan apa yang baru saja dia katakan.
__ADS_1