Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Jahat Sekali


__ADS_3

"Jahat sekali," lirih Fatimah sambil menatap kepergian Satya yang semakin menjauh.


Satya berjalan menjauh dari mobil menuju warung yang ada di seberang jalan. Dan membeli beberapa barang yang menurutnya memang perlu di beli, sedang Fatimah masih sibuk menangis meluapkan segala rasa yang berkecambuk dalam dirinya.


"Minumlah!" suara Satya terdengar, Fatimah yang fokus menangis sampai tak menyadari jika Satya sudah kembali dan kini menyodorkan minuman ke arah Fatimah.


Fatimah terkejut mendengar suara Satya, reflek dia menoleh ke arah Satya yang sudah duduk manis di jok yang ada di sebelahnya.


"Minum dulu dan makan ini!menangis juga butuh energi," sambung Satya seraya mengeluarkan beberapa bungkus roti dan makanan kering, kemudian menyodorkan ke arah Fatimah yang perlahan mengambil dan mulai meneguknya, Satya benar, menangis meluapkan segala rasa memang membutuhkan energi tapi hal yang paling di butuhkan dari semua itu adalah suport dan kata maaf yang harusnya terucap dari bibir Satya.


"Apa kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Satya sambil menoleh ke arah Fatimah, mendekatkan kepalanya ke arah wajah Fatimah, apa yang di lakukan Satya saat ini terlihat seperti seseorang yang akan berciuman. Fatimah yang memang tak pernah melakukan kotak fisik sedikitpun memundurkan kepala mencoba menghindar dari Satya yang terus memajukan wajahnya hingga jarak di antara keduanya begitu dekat.


"A~aku merasa jauh lebih baik, tenang saja," jawab Fatimah dengan gugup.


"Bagus," ujar Satya yang langsung kembali ke tempat duduknya.


"Pak, kita jalan sekarang!" titah Satya.


Sang sopir yang hanya mengangguk seolah mengerti dengan maksud dati perintah Satya langsung melajukan mobil menuju rumah Fatimah sesuai dengan keinginan Satya.


'Gak sopir, gak majikan semuanya sama, sama-sama dingin kayak es batu,' gerutu Fatimah dalam hati, sungguh Fatimah merasa kini dia di kelilingi oleh gunung es yang siap membuatnya membeku tak berdaya, Bik Husna dan Ibu Halimah memang dahsyat, mereka memilihkan pasangan yang sangat dingin sedingin es batu di cuaca panas, seperti hati Fatimah yang tengah terbakar oleh ucapan pedas Satya.


"Keluar!"


Suara Satya kembali terdengar menggema menusuk ke dalam telinga, mengejutkan Fatimah yang sedang terdiam fokus menatap ke depan memikirkan setiap hal yang sudah terjadi.


"Astaghfirullah," lirih Fatimah sambil mengurut dada mencoba memupuk rasa sabar agar emosinya tidak terpancing oleh suara Satya yang menusuk telinga.

__ADS_1


Fatimah yang penakut hanya bisa mengusap dada kemudian keluar dari dalam mobil tanpa ada kata yang keluar dari bibirnya, Satya memang keterlaluan, tapi Fatimah tak berani untuk protes bahkan melawannya, diam dan melakukan apa yang di perintahkan oleh Satya adalah pilihan terbaik yang bisa di pilih oleh Fatimah.


"Sudah pulang, Nak?" sapa Ibu Halimah yang baru saja keluar dari dapur membawa satu toples cemilan lengkap dengan minuman segar yang di bawa dengan nampan.


"Sudah, Bu," jawab Fatimah setelah mencium punggung tangan sang Ibu, yang baru saja keluar dari dapur dengan satu nampan berisi satu toples makanan dan minuman.


"Mama ke mana, Bu?" tanya Fatimah saat melihat kondisi rumah yang sepi seperti tak berpenghuni, apa lagi melihat makanan yang Ibu Halimah bawa hanya cukup untuk satu orang.


"Mama tadi pamit pulang dulu, nanti dia akan kembali ke sini kalau kamu dan Satya sudah mau pindahan," jawab Ibu Halimah.


"Kenapa tidak menunggu kami pulang? biar kami bisa antar Mama pulang, Bu," tanya Fatimah yang merasa jika seharusnya Mama Satya menunggunya pulang.


"Entahlah, Ibu juga tidak tahu, tadi Mama Satya buru-buru jadi Ibu tidak kepikiran ke situ," jelas Ibu.


"Memangnya Mama mau ke mana Mas? kok buru-buru," Fatimah sengaja bertanya pada Satya karena kini dia mengerti jika Satya pasti akan bersikap baik jika berada di tempat umum atau di hadapan kedua orang tuanya.


"Sudah, jangan di fikirkan! lebih baik kalian istirahat saja, lusa Mama pasti akan ke sini buat antar kalian pindahan dan kalian bisa berkunjung ke rumahnya kapanpun kalian mau setelah itu," ujar Ibu yang cukup membuat Fatimah mengerti dan mengikuti apa yang Ibunya itu inginkan.


"Baiklah, Satya ke kamar dulu ya Bu." Pamit Satya yang langsung berjalan ke kamar setelah melihat sang Ibu mengangguk tanda jika dia setuju.


"Loh, kamu mau ke mana Fatimah?" cegah Ibu saat melihat Fatimah berjalan berbeda arah tanpa berucap sepatah katapun.


"Aku mau ke dapur Bu." Jawab Fatimah sambil menghentikan langkahnya menoleh ke arah Ibu Halimah yang edang menatap aneh ke arahnya.


"Oh, aku kira kamu mau ke mana, kenapa tidak ikut suamimu ke kamar untuk istirahat, Nak?" Ibu Halimah kembali bertanya.


"Aku lapar Bu, jadi mau makan dulu, setelah itu baru balik ke kamar," Fatimah kembali menjelaskan apa yang akan dia lakukan.

__ADS_1


"Ya sudah makan saja dulu." Sahut sang Ibu yang kini langsung berjalan menuju ruang keluarga untuk meneruskan niatnya memakan camilan sambil menonton serial drama keluarga.


"Bik, aku mau makan lapar," ujar Fatimah sesat setelah sampai di dapur.


"Nona mau makan apa? biar Bibik siapkan," sahut sang asisten rumah tangga yang langsung berjalan mendekat ke arah Fatimah dan meninggalkan pekerjaannya.


"Apapun yang ada," jawab Fatimah, dia memang bukan gadis yang pilih soal makanan, Fatimah sudah terbiasa makan apa adanya di pesantren.


"Tadi Bibik masak semur daging dan tempe goreng Non, apa mau Bibik masakin menu lain?" tawarnya.


"Tidak usah, aku makan apa yang sudah ada saja, " jawab Fatimah yang langsung mengambil piring yang baru saja di ambilkan oleh Bibik.


"Non, semuanya sudah dingin, biar Bibik angetin dulu," ujar Bibik yang kini berdiri di samping Fatimah hendak mengambil semangkuk semur yang terlihat audah dingin.


"Tidak usah Bik!" larang Fatimah.


"Kenapa Non? bukankah makan saat masih hangat atau panas jauh lebih enak ya Non?" seru Bibik dengan ekspresi wajah bingung menatap putri majikannya yang terlihat biasa saja.


"Nasinya sudah panas, jadi tidak perlu di angetin, makan terlalu panas juga bakal ngurangin nikmatnya," Fatimah kembali menjelaskan alasan dirinya menolak sang Bibik.


"Baiklah, kalau begitu Bibik buatin es teh saja buat Non Fatimah." Pamit sang Bibik yang mengerti jika Fatimah suka minum es teh jika makan di siang hari seperti saat ini.


"Bik," panggil Fatimah.


"Iya, Non," sahut sang Bibik yang langsung berjalan kembali mendekat ke arah Fatimah.


"Aku ke tepi kolam ya. Nanti kalau Bibik sudah selesai buat es tehnya antar ke sana saja!" titah Fatimah, dia memang lebih suka makan di tepi kolam saat siang hari seperti sekarang, makan sambil menikmati suasana kolam renang memberi sensasi tersendiri bagi Fatimah, dia ingat sekali saat kecil dulu, Fatimah dan Ibunya sering pergi ke kolam renang hanya untuk makan saat dia pulang dari pesantren, dan Fatimah yang dulu belum punya rumah sebagus sekarang selalu pergi ke tempat wisata yang ada kolam renangnya, semua itu di lakukan sang Ibu agar Fatimah merasa bahagia.

__ADS_1


Seutas senyum terlihat di wajah Fatimah saat melihat kolam renang yang tenang dengan hiasan beberapa tanaman kecil juga bunga-bunga yang tertata rapi di samping kolam, rasa syukur tak pernah hilang dari dalam hati dan bibir Fatimah, mengingat masa lalunya yang begitu sulit, Fatimah bersyukur bisa mendapat kebahagiaan dan rezeki yang tak terkira seprti saat ini, meski erkadang terbesit dalam benaknya sebuah keinginan yang apati tidak akan terjadi, Fatimah berharap jika saja saat ini Ayahnya masih hidup, semuanya pasti akan jauh lebih sempurna, tapi Fatimah tetap berusaha tegar menghadapi segalanya bersama sang Ibu.


__ADS_2