
Fatimah hanya bisa melakukan apa yang dikatakan oleh Satya tanpa bisa bertanya lebih jauh kepadanya, meski Fatimah tahu dengan pasti jika Satya mengetahui banyak hal tentang Bik Husna tapi Fatimah tidak memiliki banyak waktu untuk menanyakannya lebih lanjut.
"Apa semuanya sudah siap?" Tanya Satya saat melihat Fatimah sudah memasukkan semua barang-barang miliknya ke dalam koper besar yang kini berada di depannya.
"Sudah, apa aku diizinkan untuk membalaskan barang milik Ibuku?" Fatimah kembali bertanya saat dia mengingat jika barang-barang saat itu masih tersimpan rapi di kamarnya.
"Tentu saja, aku akan meminta mereka pergi dan kembali ke sini dua jam lagi," tutur Satya yang cukup membuat Fatimah lega, setidaknya dia bisa membawa kenangan sang Ibu meski dia tidak bisa lagi tinggal di tempat ibunya.
__ADS_1
Tanpa diduga Fatimah yang merasa lega langsung berdiri dan berlari ke arah Satya kemudian langsung memeluknya dengan salah tak ingin melepaskan laki-laki yang paling baik dan satu-satunya orang yang kini dimiliki oleh Fatimah. Apa yang dilakukan Fatimah cukup membuat Satya terkejut.
"Terima kasih untuk segalanya," lirik Fatimah dengan air mata yang kembali mengalir di pipinya, sungguh saat ini dia merasa tidak memiliki siapapun kecuali Satya dan keluarganya, Fatimah tidak memiliki banyak pilihan selain hanya diam dengan air mata yang tak pernah berhenti menetes sebagai tanda jika dirinya tidak sedang baik-baik saja.
"Sudahlah, semua yang terjadi saat ini adalah takdir yang tak mungkin bisa kamu hindari Fatimah, yang penting jangan pernah putus asa dan terus hidup demi ketenangan ibu di sana," ujar Satya.
Satya sangat mengerti dengan perasaan Fatimah saat ini, kehilangan seorang ibu yang menjadi orang tua tunggal juga satu-satunya anggota keluarga yang dimiliki Fatimah bukanlah hal yang baik ataupun hal yang mudah untuk di lewati, Bik Husna yang selama ini menjadi satu-satunya keluarga bagi Fatimah dan sang ibu ternyata seorang serigala yang berbulu domba, Fatimah yang sejak awal tidak menyangka dengan apa yang dilakukan oleh Bibiknya.
__ADS_1
"Saat ini bukan waktunya kita membahas hal yang pasti akan membutuhkan waktu lama untuk menjelaskan, dan kita hanya memiliki sedikit waktu untuk membereskan semua barang-barang kita dan segera keluar dari rumah yang saat ini bukan lagi menjadi hak kita," tutur Satya yang mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang harus segera dilakukan oleh dirinya dan Fatimah juga semua orang yang ada di dalam rumah itu.
Mendengar penjelasan Satya yang membuat Fatimah sadar jika saat ini dia memang tidak memiliki banyak waktu untuk membahas semua hal yang sedang menguasai hati juga pikirannya, yang terpenting saat ini Fatimah harus segera pergi dan membawa semua barang-barang sang Ibu.
"Cepat bereskan semua barang ibu! biar aku yang berbicara pada mereka," titah Satya yang langsung di ikuti oleh Fatimah tanpa banyak bertanya ataupun berbicara lagi.
"Baik, Mas," jawab Fatimah yang langsung meninggalkan Satya yang masih setia berdiri di tempatnya menuju kamar sang Ibu yang beberapa hari ini menjadi tempat ternyaman untuk melepas rindu bagi Fatimah.
__ADS_1
"Maaf, Ibu," lirik Fatimah sesaat setelah dia masuk ke dalam kamar sang Ibu dan memperhatikan setiap hal yang ada di dalamnya, semua yang ada di dalam kamar itu membuat Fatimah semakin mengingat sosok sang ibu yang kini memang telah tiada, masih jauh di dalam lubuk hatinya Fatimah ingin mempertahankan apa yang sebenarnya menjadi haknya agar dia bisa terus mengenang sang ibu di setiap sudut rumah yang dulu pernah ditempati olehnya bersama sang ibu.
"Ibu, suatu saat aku pasti bisa merebut kembali rumah ini dan aku bisa tinggal kembali di sini bersama setiap kenangan yang telah kau torehkan," ujar Fatimah.