Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Memancing Kesalah fahaman


__ADS_3

Satya merasa aneh dengan apa yang di lakukan oleh Fatimah, bukannya menghabiskan semua makanan yang dia pesan, tapi malah terlihat menyuruh pelayan untuk membawanya kembali.


Lima menit berlalu, sang pelayan yang tadi membawa masuk makanan yang di pesan Satya untuk Fatimah kini berjalan kembali mendekat ke arah Fatimah dengan beberapa makanan yang sudah di bungkus rapi di tangannya.


"Mbak, ini makanan yang tadi minta di bungkus." Ujar sang pelayan sambil memberikan beberapa kotak makanan yang berada di satu kantong plastik.


"Terima kasih, Mbak, maaf merepotkan," sahut Fatimah dengan senyum yang terlihat kikuk, sebenarnya dia sedikit merasa tak enak hati karena sudah merepotkan sang pelayan, tapi mau bagaimana lagi, Fatimah merasa sayang jika dia paksakan diri untuk makan dan pada akhirnya tidak habis, dalam gilirannya masih ada banyak orang yang kurang makan, karena itulah Fatimah tidak ingin membuang makanan.


"Tidak apa-apa Mbak," jawab sang pelayan dengan senyum yang bisa di pastikan senyuman palsu, dia tersenyum seperti itu hanya tuntutan pekerjaan.


Fatimah kembali menyantap camilan yang memang terasa begitu nikmat, Fatimah memiliki kebiasaan yang tak bisa di hilang kan begitu saja, Fatimah selalu menghabiskan makanan di piringnya sampai bersih tak tersisa sedikitpun, dan kebiasaan itu kembali dia lakukan di sini.


Satya merasa tidak tahan melihat apa yang di lakukan Fatimah, ingin rasanya dia menegur, tapi dia masih belum selesai dengan pekerjaannya.


"Ternyata camilan nya enak-enak, tapi sayang porsinya sedikit," gumam Fatimah sesaat setelah dia menghabiskan semua makanan di atas meja.


"Fatimah!" suara seorang laki-laki terdengar menyapa.


"Mas Fariz," sahut Fatimah dengan senyum yang mengembang di wahahnya.


Sejak tadi Fatimah merasa seperti orang hilang yang tak punya arah, dia sendirian di tengah keramaian.


"Kamu ngapain sendirian di sini?" tanya Fariz yang kini memilih duduk di hadapan Fatimah.


"Aku sedang menemani Mas Satya," jawab Fatimah yang kini malah menunduk sedih mengingat apa yang dia lakukan di tempat itu.


"Terus suamimu ke mana?" Fariz kembali bertanya.

__ADS_1


"Dia ada di ujung sana." Jelas Fatimah sambil menunjuk ke arah di mana Satya berada.


"Kenapa kamu tidak ikut bergabung di sana?" Fariz yang tertarik dengan Fatimah merasa aneh melihat apa yang terjadi.


"Entahlah, mungkin dia takut aku mengganggu," jujur Fatimah.


"Astaga, kamu itu istrinya Fatimah, kenapa harus mengganggu? harusnya kamu menemaninya di sana, bukannya diam sendiri di sini," ujar Fariz yang semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Fatimah hanya tersenyum menanggapi ucapan Fariz, dulu dia sering sekali menulis surat untuk Fariz, begitupun sebaliknya, sebenarnya Fatimah dan Fariz cukup dekat meskipun tidak bertemu langsung tapi Fatimah dan Satya sering mengirim surat satu sama lain.


"Sebenarnya, dia sedang meeting, aku tidak mau mengganggunya, jadi aku memilih diam di sini dari pada ikut duduk di sana tapi tidak tahu apa yang mereka bicarakan," tutur Fatimah mencoba menutupi apa yang sebenarnya terjadi.


"Oh, aku kira kamu sengaja di tinggal di sini," sahut Fariz.


"Tidak Mas Fariz, aku tadi hanya bercanda," ujar Fatimah sambil tersenyum ramah ke arah Fariz.


"Khem," suara Satya mengejutkan Fatimah dan Satya yang saling diam membisu.


"Mas Satya," lirih Fatimah menatap ke arah depan di mana Satya berdiri.


"Kita bertemu lagi, kamu sedang apa di sini?" tanya Satya seraya menghadap ke arah Fariz yang duduk tepat di sampingnya.


"Aku tadi tidak sengaja melihat Fatimah duduk sendiri di sini, aku fikir dia memang sendirian, karena itulah aku duduk di sini dan menemaninya," jawab Fariz jujur.


"Maaf jika kamu terganggu dengan kehadiranku, aku akan pergi." Pamit Fariz yang merasa jika keberadaannya pasti akan mengganggu Satya dan Fatimah.


"Tidak perlu, kamu tetap di sini saja, kita bisa ngobrol bersama," jawab Satya yang terlihat tak terganggu dengan kehadiran Fariz di hadapannya.

__ADS_1


Mendengar ucapan Satya yang tidak mengusir Fariz justru terdengar mengejutkan Fatimah, dia menatap heran ke arah Satya yang justru tersenyum mencurigakan ke arahnya.


"Aku ingin segera pergi, perutku sudah kenyang dan aku lelah ingin segera beristirahat," sela Fatimah yang tak ingin ada percakapan atau kesalah fahaman di antara Satya dan Fariz, meski Fatimah tahi dengan pasti jika Satya terlihat tidak mencintainya, tapi tetap saja Fatimah tidak ingin keduanya berada di tempat yang sama lebih lama lagi.


"Apa kamu sudah tidak sabar ingin menghabiskan malam seperti kemarin, Sayang?" bukannya langsung mengiyakan ajakan Fatimah, Satya justru menanyakan hal yanh cukup membuat Fatimah bingung.


"Maaf, a~" Satya menghentikan ucapannya saat dia menyadari jika dirinya belum tahu siapa laki-laki yang saat ini ada di hadapannya.


"Astaga aku sampai lupa, perkenalkan Namaku Satya, SUAMI dari Fatimah," ujar Satya seraya mengulurkan tangan memperkenalkan diri.


"Saya Fariz, Kakak dari sahabat Fatimah, saya adalah teman Fatimah," sahut Fatiz sambil meraih tangan Satya yang terulur.


"Aku baru tahu kalau di pesantren juga bisa berteman dengan laki-laki, aku fikir santri perempuan hanya bisa berteman dengan perempuan saja, bukankah berteman dengan lawan jenis bisa menimbulkan fitnah?" ucapan Satya mulai membuat Fatimah risih, dia yang mengerti dnegan tabiat Satya lebih memilih pergi dari pada terus berada di sana dan membiarkan Satya menciptakan kesalahpahaman, Fatimah memilih untuk pergi.


"Mas, dia hanya teman suratku, aku tidak pernah bertemu dengannya sebelumnya, kami berteman di dalam surat seperti sahabat pena, bahkan kami bertemu untuk pertama kalinya di tokoh buku," Fatimah tak ingin diam, dia kembali menyela ucapan Satya.


"Oh, jadi kalian sering bertemu setelah pertemuan pertama itu tanpa sepengetahuanku," sekali lagi ucapan Satya kembali memancing kesalah fahaman.


"Mas, stop! ayo kita pulang!" Fatimah sudah tak lagi bisa berhenti, dia langsung berdiri meraih tangan Satya dan sedikit menariknya memberi tanda jika dirinya ingin segera pergi.


"Mas Fariz, saya minta maaf jika ada yang salah, dan saya permisi." Pamit Fatimah yang kini berjalan keluar dari restauran bersama Satya yang mengikuti langkahnya dari belakang.


"Lepaskan tanganmu! aku bukan anak kecil yang harus di gandeng," sarkas Satya saat keduanya berada di parkiran.


"Maaf," ujar Fatimah yang langsung melepaskan tangannya dari tangan Satya.


"Sudahlah, aku bosan mendengar kata maafmu," sahut Satya menatap jengah ke arah Fatimah.

__ADS_1


Fatimah hanya diam sambil mengikuti langkah Satya yang masuk ke dalam mobil dan duduk di disampingnya, meski Fatimah masih merasa kesal dengan sikap Satya, dia tetap tak bisa melakukan apapun selain menerima semuanya tanpa protes.


__ADS_2