
Fatimah langsung kembali ke kamar setelah keduanya sampai di rumah. Begitu juga dengan Mama Nia yang juga langsung masuk ke dalam kamarnya sesaat setelah dia sampai di depan rumah.
"Rasanya sangat tidak bisa dipercaya, ternyata tinggal di rumah mertua jauh lebih indah dan menyenangkan daripada tinggal di apartemen Mas Satya, jika di sana aku hanya sendiri dan merasakan kesepian, tapi di sini aku menemukan banyak hal yang tidak pernah aku tahu dan baru saja aku tahu, di sini juga ada banyak kejutan yang tidak pernah terbayangkan dalam benakku sebelumnya, tuhan memang tidak pernah salah mengirimkan jodoh untukku, sekalipun jodoh itu terkadang datang dengan cara yang berbeda dan memiliki sifat yang berbeda pula, tapi satu hal yang aku mengerti saat ini jika Mas Satya memang jodoh yang terbaik untukku meski sifatnya begitu buruk dan sikapnya sama sekali berbeda dengan laki-laki yang aku impikan sejak dulu, tapi setidaknya dia dan keluarganya bisa menerima aku dengan baik," gumam Fatimah yang kini tengah duduk di atas kasur menatap ke arah balkon di mana pintu besar yang menyekat antara balkon dan kamarnya telah dibuka tirainya sehingga Fatimah bisa melihat pemandangan di luar dengan begitu jelas, rasa syukur tidak pernah henti diucapkan oleh Fatimah atas apa yang sudah dia dapatkan, meskipun semua yang didapatkan bukanlah semua hal yang dia inginkan ada beberapa hal yang tidak bisa dia dapatkan, tapi Fatimah sadar sepenuhnya jika dia tidak bisa mewujudkan semua yang dia inginkan karena bukan kuasa dia untuk mengabulkan semuanya, jadi dia hanya bisa bersyukur dan menikmati semua yang ada dalam hidupnya saat ini tanpa mengeluh atau berharap lebih.
Denting jam terus berputar, dua jam sudah Fatimah beristirahat merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku dan kini sudah menunjukkan pukul sepuluh, yang berarti Fatimah harus bangun dan setelah membuatkan makan siang untuk Satya.
"Loh, Nona Fatimah mau ngapain?" tanya Bik Mina saat melihat Fatimah berjalan masuk ke dalam dapur dan melewati kamarnya, kebetulan Bik Mina keluar kamar dengan niat ingin hidup di dapur.
"Aku mau memasak untuk mas Satya, Bik," jawab Fatimah yang selalu tersenyum kepada siapapun yang dia kenal sebuah senyuman yang bisa membuat siapapun terpesona karenanya.
"Apa Nona Fatimah berencana untuk mengantarkan makanan ke kantor Den Satya?" Bik Mina kembali bertanya.
"Iya Bik, tadi pagi Mas Satya tidak sempat makan, karena itulah aku berencana untuk mengirim makanan siang ini, agar Mas Satya tidak sakit karena telat makan," jawab Fatimah yang kini menerbitkan sebuah senyum di bibir sang asisten rumah tangga.
"Apa Bibik boleh membantu?" Bik Mina menawarkan diri untuk membantu Fatimah memasak.
__ADS_1
"Tidak usah Bik! Aku bisa melakukannya sendiri, lagi pula aku memasak untuk Mas Satya saja, jadi Bibik tidak perlu membantu," Fatimah mencoba menolak dengan halus tawaran Bik Mina yang memang tidak dia perlukan, lagi pula saat ini Bik Mina pasti memiliki pekerjaan lain yang harus dia kerjakan.
"Baiklah kalau begitu Bibik permisi dulu ya Non," pamit Bik Mina yang langsung meraih segelas air dan meminumnya kemudian melenggang pergi keluar dari dapur meninggalkan Fatimah yang kini mulai sibuk memasak untuk Satya suami tercinta.
Fatimah membutuhkan waktu setengah jam untuk memasak semua menu yang akan dia bawa ke kantor Satya, dan kini sudah tiba saatnya Fatimah mengemas dan bersiap untuk pergi.
"Apa kamu sudah selesai memasak Fatimah?" Tanya Mama Nia saat melihat Fatimah berjalan masuk ke dalam kamar dengan aroma tubuh khas orang baru selesai masak.
"Iya, Ma apa Mama ingin makan siang juga?" Fatimah memang memasak tidak terlalu banyak tapi jika hanya Mama yang memakannya pasti akan cukup.
"Boleh juga, Mama juga sedikit lapar, memangnya kamu masak apa sekarang?" tanya Mama Nia yang selalu penasaran dengan rasa hasil masakan dari menantunya itu.
"Hari ini aku masak ayam bakar sama sambal pedas manis, aku sudah mengemas masakan yang akan aku bawa ke kantor, jadi mama bisa makan masakan yang aku taruh di meja, apa perlu aku temani?" Tawar Fatimah yang merasa tak enak hati jika harus meninggalkan Mama Nia begitu saja.
"Tidak usah, lebih baik kamu segera bersiap dan antar makanan itu ke kantor Satya! Waktunya sudah mepet jika kamu terlambat sedikit Mama khawatir saat dia sudah pergi untuk bertemu klien atau justru mengontrol pekerjaan para karyawannya," tolak Mama Nia yang mengerti dengan pekerjaan Satya, juga sedikit paham dengan apa saja yang dikerjakan Satya di kantor.
__ADS_1
Fatimah melangkah masuk ke dalam kamar, membersihkan diri di kamar mandi dan bersiap untuk mengantarkan makanan yang baru saja dia masak.
Fatimah membutuhkan waktu setengah jam untuk memasak semua menu yang akan dia bawa ke kantor Satya, dan kini sudah tiba saatnya Fatimah mengemas dan bersiap untuk pergi.
"Apa kamu sudah selesai memasak Fatimah?" Tanya Mama Nia saat melihat Fatimah berjalan masuk ke dalam kamar dengan aroma tubuh khas orang baru selesai masak.
"Iya, Ma apa Mama ingin makan siang juga?" Fatimah memang memasak tidak terlalu banyak tapi jika hanya Mama yang memakannya pasti akan cukup.
"Boleh juga, Mama juga sedikit lapar, memangnya kamu masak apa sekarang?" tanya Mama Nia yang selalu penasaran dengan rasa hasil masakan dari menantunya itu.
"Hari ini aku masak ayam bakar sama sambal pedas manis, aku sudah mengemas masakan yang akan aku bawa ke kantor, jadi mama bisa makan masakan yang aku taruh di meja, apa perlu aku temani?" Tawar Fatimah yang merasa tak enak hati jika harus meninggalkan Mama Nia begitu saja.
"Tidak usah, lebih baik kamu segera bersiap dan antar makanan itu ke kantor Satya! Waktunya sudah mepet jika kamu terlambat sedikit Mama khawatir saat dia sudah pergi untuk bertemu klien atau justru mengontrol pekerjaan para karyawannya," tolak Mama Nia yang mengerti dengan pekerjaan Satya, juga sedikit paham dengan apa saja yang dikerjakan Satya di kantor.
Fatimah melangkah masuk ke dalam kamar, membersihkan diri di kamar mandi dan bersiap untuk mengantarkan makanan yang baru saja dia masak.
__ADS_1
"Apa ini kantornya, Pak?" tanya Fatimah saat mobil berhenti di sebuah gedung tinggi yang terlihat begitu megah dan indah.
"Iya, Nona bisa masuk ke dalam dan menunjukkan ini!" Sang sopir yang mengerti jika tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam kantor memberikan id card khusus keluarga yang bisa di gunakan untuk masuk ke dalam kantor dan menemui Satya.