
"Bibik benar ingin tahu aku ke mana atau cuma basa-basi saja," jawab Satya yang mengerti dengan sifat asli sang Bibik, bagi Satya Bibik Husna bukanlah orang yang penting dalam hidupnya, bahkan bibi Husna masuk dalam daftar orang yang harus dijauhi oleh Satya, karena Satya tidak ingin dirinya terkena masalah ataupun dimanfaatkan lagi oleh Bibik yang seperti serigala berbulu domba.
"Jangan terlalu bersikap dingin padaku, Satya! Jika bukan karena aku kamu tidak akan pernah menikah dengan Fatimah, ingatlah itu!" ujar Bibik Husna yang merasa sedikit jengkel dengan sikap Satya yang dingin padanya.
"Dan jika bukan karena uang yang aku berikan padamu, maka aku bisa pastikan jika bibi tidak akan pernah bisa merasakan liburan mewah seperti kemarin," sahut Satya yang memang sudah menggelontorkan cukup banyak uang agar dia bisa dekat dengan Fatimah dan menikah dengannya.
Bibik Husna yang merasa bersalah dan sadar jika apa yang dia lakukan memang salah hanya bisa diam tanpa kata, apalagi membalas ucapan Satya, Bibik Husna tidak punya keberanian untuk itu.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun Bibik Husna melenggang pergi masuk ke dalam mobil meninggalkan Satya yang hanya menggeleng pelan menanggapi sikap sang Bibik.
"Kamu mau ke pesantren atau mau kondangan?" tanya Satya ketika melihat Fatimah yang berpenampilan berbeda seperti biasanya, Fatimah yang jarang sekali memakai make up kini terlihat begitu cantik dengan sedikit riasan di wajahnya.
"Aku mau ke pesantren Mas Satya, memangnya kenapa dengan make up yang aku pakai?" sahut Fatimah dengan ekspresi wajah penuh kegelisahan dia bertanya.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya bertanya," ujar Satya yang langsung masuk ke dalam mobil dan bersiap mengantar Fatimah ke pesantren.
"Apa Mas Satya sudah pamitan sama ibu?" tanya Fatimah sesaat setelah dia masuk ke dalam mobil.
"Sudah," jawab Satya seraya memfokuskan pandangan ke arah depan menyetir mobil melewati jalan raya menuju pesantren Fatimah.
"Apa Mas Satya tahu di mana pesantrenku?" tanya Fatimah saat melihat Satya terus saja fokus menatap jalanan tanpa bertanya kepadanya.
__ADS_1
"Aku tahu banyak hal tentangmu tanpa harus bertanya," jawab Satya tanpa menoleh ke arah Fatimah.
Mendengar jawaban Satya membuat Fatimah reflek menoleh ke arah Satya dengan mata melebar, Fatimah begitu terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan Satya mengingat jika dia dan Satya belum pernah bertemu sebelumnya, tapi ucapan Satya terdengar seperti seseorang yang sudah lama mengenalnya.
"Jangan menatapku seperti itu! Jika kau melakukannya maka kamu akan jatuh cinta padaku, dan aku aku tidak bisa membalas perasaanmu itu saat ini," ujar Satya saat dia tahu jika Fatimah tengah menatapnya dengan tatapan lekat.
"Jika kamu tidak mencintaiku, kenapa kamu harus menikah denganku? Kenapa kamu tidak menikah dengan Farah saja?" Ujar Fatimah.
Kata-kata Satya cukup membuat Fatimah teralihkan, rasa terkejut yang tadinya ada pada dirinya kini teralihkan dengan ucapan Satya yang mengatakan jika dia tidak mencintai Fatimah.
Bukannya mendapat jawaban atas pertanyaan yang baru saja dia ungkapkan, Fatimah malah diabaikan oleh Satya yang kini memilih tetap fokus menatap jalan tanpa membalas ataupun menjawab ucapan Fatimah.
'aku tidak akan pernah menikahimu jika kamu tidak menyetujui perjodohan ini, lagi pula kenapa kamu harus menikah denganku jika pada akhirnya kamu tidak bisa mencintaiku atau bahkan kamu tidak mau mencintaiku,' batin Fatimah ketika dia merasa jika Satya justru terpaksa menikahinya.
"Kenapa pesona seorang santriwan selalu bisa membuat suasana menjadi tentram," lirih Fatimah.
"Bukan pesona mereka yang membuatmu merasa tentram, tapi memang dasar kamunya saja yang suka tergoda dengan mereka yang memakai sarung meskipun kamu sudah punya seorang suami yang kini tengah menyupir di sampingmu," celetuk Satya yang entah mengapa merasa kurang senang mendengar Fatimah yang ada di sampingnya memuji orang lain.
"Suami yang tidak bisa mencintai istrinya," sahut Fatimah yang kini meleleh ke arah luar kaca mobilnya.
Satya kembali diam tak menanggapi ucapan Fatimah, dia lebih memilih mencari parkiran yang ada di halaman pesantren daripada terus berdebat dengan Fatimah.
__ADS_1
"Mas Satya mau ke mana? "Tanya Fatimah ketika dia melihat Satya berjalan mengikuti langkahnya yang hendak masuk ke dalam lingkungan pesantren putri.
"Bukankah kamu tahu jika aku akan mengantarmu bertemu dengan teman-teman dan sahabatmu itu, kenapa kamu masih bertanya?" sahut Satya yang langsung menghentikan langkahnya ketika yang ada di Fatimah berhenti melangkah.
"Ini wilayah pesantren putri dan kamu harus tahu jika di dalam pesantren putri itu hanya ada wanita dan laki-laki dilarang masuk ke sana," jelas Fatimah yang cukup membuat Satya yang sebelumnya belum pernah masuk pesantren merasa terkejut.
"Apa itu artinya di dalam sana hanya ada wanita dan semua yang ada di sana cuman wanita?" tanya Satya yang merasa heran dengan apa yang dikatakan oleh Fatimah, bagaimana mungkin bisa seorang wanita hanya berada di satu lingkungan tanpa seorang laki-laki di dalamnya apa mereka tidak merasa bosan atau merasa kesepian?
"Tentu saja, tidak ada santriwan atau laki-laki yang masuk ke dalamnya kecuali jika ada sesuatu yang darurat di dalam," Fatimah mencoba menjelaskan kembali apa yang sebenarnya terjadi, melihat ekspresi wajah setia yang terlihat tidak percaya dengan apa yang baru saja dia katakan.
"Baiklah, jika aku tidak boleh masuk maka aku harus menunggu di mana?" Tanya Satya, saat ini dia bingung harus berada di mana karena dia memang baru pertama kali berkunjung ke pesantren itu.
"Ikuti aku!"minta Fatimah yang kini berjalan ke arah yang berbeda.
"Kita mau ke mana?" Tanya Satya merasa bingung dengan Fatimah yang kini justru berjalan ke arah yang berbeda.
"Di sini adalah aula pengiriman, jadi Mas Satya bisa menungguku di sini," jelas Fatimah sesaat setelah dia sampai di sebuah aula besar yang tak jauh dari pintu gerbang masuk pesantren putri.
"Jangan terlalu lama di dalam! Aku tidak suka menunggu terlalu lama," pesan Satya sebelum Fatimah berjalan lebih jauh darinya.
Fatimah menjawab ucapan Satya, dia memilih mengacungkan ibu jari sebagai tanda jika Fatimah tidak akan lama berada di dalam pesantren putri.
__ADS_1
"Fatimah!" suara zia menyambut Fatimah sesaat setelah dia masuk ke dalam pondok Putri.
"Neng Zia," sahut Fatimah yang langsung menoleh ke arah Zia yang kini berlari dan berhambur memeluk Fatimah..