Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Bertemu Papa Satya


__ADS_3

"Ma," lirih Fatimah mencoba menghentikan ocehan sang Mama yang tak kunjung berhenti, Fatimah memanggilnya sambil meraih lengan Mama kemudian mengusapnya lembut, berusaha mengalirkan setiap rasa yang tumbuh dalam hati Fatimah.


"Mama ingin kalian tinggal di rumah," Mama Nia berucap dengan nada yang sama lirihnya, tapi masih bisa di dengar oleh Fatimah.


"Aku tahu Ma, tapi tidak sekarang kita membicarakan masalah ini, bagaimana kalau kita membicarakannya nanti saat kita sudah ada di rumah, dan kita punya banyak waktu untuk membicarakannya, lagi pula di sini bukan waktu yang tepat untuk membahasnya," sahut Fatimah mencoba menjelaskan apa yang menurutnya benar dan dia fikirkan.


Mama langsung terdiam mendengar penjelasan Fatimah, hingga dia sadar jika apa yang di katakan Fatimah memang benar adanya.


"Kamu benar, kalau begitu Mama akan membicarakannya nanti," ujar Mama yang kini langsung terdiam tak lagi mengucapkan mantra-mantra yang cukup membuat telinga pengang karena mendengarnya.


Seutas senyum penuh kelegaan hati terlihat di wajah Fatimah, karena Mama Nia menerima apa yang baru saja dijelaskan oleh Fatimah, setidaknya untuk saat ini telinga dirinya dan beberapa orang di sekelilingnya tidak akan pengang ataupun bising karena pameran sang Mama yang terus-terusan terdengar.


Dari kejauhan terlihat seorang laki-laki berupaya memakai jas yang membuatnya terlihat gagah dan penuh wibawa, melambaikan tangan ke arah kita, dengan senyum yang begitu mereka seolah memberitahukan jika saat ini ada kebahagiaan yang membuncah tekanan tengah dia rasakan.


"Papa!!" Seru Mama Nia yang langsung berlari ke arah laki-laki paruh baya yang sedang melambaikan tangan dan berjalan mendekat.


"Mama," laki-laki paruh baya itu menyahuti panggilan Mama dan langsung merentangkan tangan menyambut panggilan dan pelukan hangat yang di berikan Mama Nia.


"Syukurlah Papa pulang dengan selamat, Mama sangat mengkhawatirkan Papa, apa Papa baik-baik saja?" cerocos Mama Nia yang memang terlihat begitu merindukan sosok Papa yang ada di hadapannya itu.


"Tenang saja, Papa baik-baik saja, apa kalian juga baik?" sahut Papa Nia yang kini tersenyum ke arah Fatimah dan yang lain.


"Kami baik Pa," jawab Satria.


"Iya, kami baik-baik saja, bagaimana dengan bisnis di sana? Apa semuanya berjalan dengan baik?" tanya Satya yang langsung mendapat pelototan mata dari Mama Nia, terlihat jelas dia tidak menyukai apa yang baru saja di sampaikan oleh Satya.

__ADS_1


"se~" suara Papa terpotong karena Mama menyelanya.


"Stoopp!! jangan pernah bicarakan bisnis kalian di hadapan Mama, atau saat kita sedang berkumpul seperti saat ini, jangan pernah!! cukup kalian bicarakan nanti di tuang kerja," cegah Mama Nia yang terlihat kurang menyukai jika kedua laki-laki yang memiliki sifat hampir sama itu membicarakan bisnis saat mereka tengah berkumpul bersama.


"Baiklah, sekarang Mama mau apa?" tanya Papa.


Papa Satya terlihat begitu sabar dan pengalah, dia sama sekali tidak terganggu dengan selaan yang baru saja di lakukan oleh Mama Nia, padahal jika orang lain yang ada di posisinya, mungkin wanita itu akan mendapatkan peringatan dari sang suami, karena bagaimanapun juga bisnis yang akan mereka bicarakan merupakan sumber mata uang yang selama ini mencukupi setiap kebutuhan sang Mama yang sungguh luar biasa.


"Sekarang kita pulang dan Mama ingin mengobrol banyak bersama Papa juga anak menantu kita," jawab Mama Nia yang memang selama ini merasa kesepian karena di tinggal sang Papa.


"Astaga, Papa lupa kalau kita sudah punya menantu," ujar Papa Nia yang mang sejak tadi sama sekali tidak menggubris kehadiran Fatimah, dia malah sibuk meladeni Mama Nia yang tidak berhenti mengoceh.


"Kamu apa kabar, Nak?" kali ini Fatimah menjadi pusat perhatian semua anggota keluarga Satya , begitu juga dengan Satya yang ikut memperhatikannya.


"Alhamdulillah, saya baik Pa," jawab Fatimah yang langsung meraih tangan sang Papa kemudian mencium punggung tangannya sopan.


"Sudah, nanti kenalannya di lanjut, sekarang kita langsung pulang saja." Mama Nia kembali menyela saat dia tahu jika dia tetap diam dan tidak berucap, maka bisa di pastikan jika mereka jauh lebih lama di bandara.


Semua anggota keluarga yang menyadari jika ajakan Mama Nia memang benar berjalan keluar bandara untuk kembali pulang.


"Ma, Pa," kali ini Satria yang memanggil.


"Iya, ada apa Satria?" sahut Mama dan Papa hanya melirik sekilas ke arah Satria.


"Aku ada janji dengan teman setelah ini, dan aku tidak bisa ikut bersama Mama, apa Mama mengizinkan aku untuk pergi?" tanya Satria dengan ekspresi wajah penuh harap ke arah Mama Nia, dia juga berucap dengan penuh kehati-hatian agar sang Mama dan Papa mau mengizinkan dirinya pergi.

__ADS_1


"Kenapa harus sekarang? apa tidak bisa besok saja perginya?" sahut Mama Nia yang terlihat tidak ingin Satria pergi.


"Ada hal yang harus aku selesaikan Ma, jadi aku harus pergi sekarang," jujur Satria yang memang telah membuat janji dengan temannya untuk kerja sama.


"Sudahlah Ma, jangan memaksa Satria! dia pasti ada kepentingan yang tidak bisa di tinggal, lagi pula besok kita masih bisa berkumpul lagi," ujar Papa yang terdengar begitu mengerti dengan apa yang baru saja di sampaikan oleh Satria.


"Baiklah, kamu boleh pergi, tapi dengan satu syarat yang tidak boleh kamu ingkari," ujar Mama Nia yang memang ingin semua anggota keluarganya berkumpul bersama di sana.


"Astaga Ma, kenapa harus pakek syarat?" ujar Satria yang merasa jika Mamanya itu mengatakan hal yang pasti akan menyulitkan dirinya.


"Mau atau tidak sama sekali?" ujar Mama tak terbantahkan.


"Baiklah, apa syaratnya?" ujar Satria yang terlihat tidak berkutik dengan apa yang baru saja di katakan oleh Mama Nia.


"Pulang sebelum makan malam!" Mama Nia memberi perintah yang tidak busa di bantah oleh Satria.


"Baik, Ma," jawab Satria patuh.


"Bagus," ujar Mama Nia dengan ekspresi wajah penuh rasa bahagia dia berucap.


"Kalau begitu aku pamit dulu." Pamit Satria yang langsung meraih tangan Mama Nia dan Papanya kemudian mencium punggung tangannya sebelum pergi.


"Iya, hati-hati! jangan lupa pulang sebelum jam makan malam!" seru Mama Nia mengulang perintahnya.


"Iya, Mama," sahut Satria.

__ADS_1


"Hati-hati Satria!" kali ini suara lembut Papa terdengar menyapa telinga.


"Siap, Pa," sahut Satria yang langsung melangkah pergi meninggalkan bandara.


__ADS_2