
Malam semakin larut, Fatimah yang mengerti akan kewajibannya menanti kedatangan Satya yang tak kunjung tampak batang hidungnya, bagaimana mungkin Satya menemui tamu-tamunya hingga larut seperti saat ini? perlahan rasa kantuk mulai menyerang Fatimah, dia yang sejak sore berdiri mengalami para tamu kini mulai merasa lelah, hingga tanpa bisa dia tahan matanya mulai terpejam, terlelap dalam tidur yang memang dia butuhkan.
'Ceklek'
Fatimah baru saja terlelap dan sedang menikmati tidur yang terasa begitu nyenyak karena kelelahan Satya datang dan masuk ke dalam kamar.
"Baguslah, ,dia sudah tidur," ujar Satya seraya berjalan masuk ke dalam kamar mandi membersihkan diri dan mengganti jas pengantin yang terasa berat karena sejak tadi sebenarnya Satya merasa lelah, Satya sengaja mengulur waktu agar tidak bertatap muka dengan Fatimah, dia sedang lelah dan ingin langsung beristirahat.
Malam yang seharusnya menjadi malam bersejarah dalam hidup Fatimah dan Satya terlewati begitu saja, rasa benci dan dendam masih melekat dalam diri Satya, dia memang sengaja tak melakukan kewajibannya dan tak mengambil haknya, biarlah Fatimah merasa bingung dengan apa yang sedang terjadi, karena itu adalah rencana awalnya.
Fatimah terbangun lebih dulu, sepertinya bangun lebih awal sudah menjadi kebiasaan yang dia bawa dari pesantren, Fatimah menatap Satya dengan perasaan yang di penuhi rasa aneh, Satya tidur dengan nyenyak nya seolah tak ada beban.
'Kenapa Satya tidak membangunkanku? bukankakah malam pertama itu adalah hal yang paling di tunggu-tunggu oleh seorang laki-laki? Mereka bisa meminta haknya dan melakukan kewajibannya semalaman suntuk, tapi kenapa Satya malah tidak memintanya? apa mungkin ini karena aku tidur duluan ya? Satya tidak tega membangunkanku,' batin Fatimah menatap penuh rasa aneh ke arah Satya yang masih terlelap dalam tidurnya, dia terlihat begitu lelap tanpa beban apapun.
Fatimah yang mencoba berfikir positif kini memilih untuk beranjak dari tidurnya dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang hamba.
"Mas Satya!" panggil Fatimah mencoba membangunkan Satya yang terlihat masih lelap dalam tidurnya.
"Hm," sahut Satya, dia termasuk tipe laki-laki yang sangat mudah di bangunkan, berbanding terbalik dengan Fatimah yang memang memiliki kebiasaan sulit di bangunkan kecuali jika dia memang bangun sendiri.
__ADS_1
"Bangun Mas! sudah waktunya sholat subuh," tutur Fatimah dengan nada dan sentuhan lembut yang di berikan di area bahu.
Fatimah sudah berusaha sekuat tenaga untuk bersikap seperti seseorang yang mengenal Satya, meski sebenarnya terasa begitu canggung dia tetap berusaha bersikap biasa saja, setiap rasa canggung itu datang, Fatimah selalu mengingatkan dirinya jika saat ini dia sudah menjadi seorang istri yang memang memiliki kewajiban pada suaminya.
"Iya," satu kata singkat muncul dari bibir Satya yang langsung berjalan masuk ke dalam kamar mandi tanpa ada kata.
"Fiuuu," ujar Satya sambil mengusap jantung yang terasa berdetak lebih kencang dari biasanya, sangat sulit mengendalikan diri jika berada di hadapan Fatimah dan satu kamar dengannya, Fatimah sangat menggoda, bagaimana tidak menggoda, tadi Fatimah memakai piama dengan celana pendek dan baju dengan kancing yang terbuka satu di bagian atas, saat dia menunduk membangunkan Satya, tentu saja gunung kembar yang biasanya di eluh-eluhkan menjadi tempat paling favorit bagi kaum adam milik Fatimah terlihat, kulitnya yang putih dan mulus membuat sesuatu dalam diri Satya meronta, dia memang menikahi Fatimah karena dendam, tapi Satya tetaplah laki-laki normal yang pasti akan merasakan hal yang memang sewajarnya di rasakan oleh kebanyakan laki-laki lainnya.
"Kenapa Satya malah pergi begitu saja? bukankah aku sudah berpenampilan seperti ini untuk menarik perhatiannya, aku malah terlihat seperti ****** yang sedang mengoda mangsa," lirih Fatimah menyesali keputusannya yang ingin mewujudkan keinginannya.
Fatimah yang mengerti jika pahala surga bagi seorang istri yang meminta lebih dulu agar suaminya mendapatkan haknya di malam pertama memutuskan untuk memakai baju serba pendek dan terkesan minim hanya untuk mendapatkan pahala yang pernah di ceritakan oleh sang guru, tapi keinginannya itu tak bisa terwujud karena Satya justru terlihat enggan untuk menyentuhnya.
Apa yang terjadi pada Fatimah tak luput dari pandangan Satya yang ternyata sudah bangun dan berdiri tak jauh dari tempat Fatimah duduk.
'Sepertinya rencanaku berhasil, tak sia-sia aku menahan diri dan mengabaikannya, dia terlihat begitu kecewa dan aku sangat senang melihatnya,' batin Satya dengan senyum penuh kemenangan yang terlihat jelas di wajahnya.
"Apa Mas Satya minum kopi setiap pagi? atau ada sesuatu yang ingin Mas makan pagi ini?" tanya Fatimah saat melihat Satya yang baru selesai melaksanakan kewajibannya berdiri melangkah ke arahnya dan duduk di sofa panjang yang memang ada di kamar Fatimaj sambil menatap layar ponsel yang ada di tangannya.
"Tidak ada, pergi dan lakukan pekerjaanmu saja!" jawab Satya dengan nada dingin dan pandangan yang masih menatap ponsel tanpa menoleh ke arahnya.
__ADS_1
Sekali lagi Fatimah melihat sikap Satya yang dingin dan acuh padanya, rasa penasaran dan curiga mulai terbesit dalam hatinya.
'Kenapa sikap Satya seperti ini? apa memang ini sikapnya yang asli, dia terlihat tak menginginkanku di sini,' Fatimah kembali membatin.
"Fatimah tunggu!" suara Satya mengejutkan Fatimah yang memang sedang berjalan sambil melamun.
"Eh, iya, ada apa?" saut Fatimah seraya menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke arah Satya.
"Jangan pernah pakai baju kekurangan kain seperti itu lagi!" larang Satya.
Fatimah semakin terkejut dengan larangan yang di cetuskan Satya, bagaimana mungkin Satya melarangnya memakai baju dinas malam? baju yang biasanya paling di sukai para suami ketika melihat istrinya memakainya di dalam kamar.
"Apa kamu mendengar ucapanku fatimah?" tanya Satya yang sedikit merasa greget karena Fatimah hanya dia mematung dan menatap ke arahnya dengan tatapan aneh yang sebenarnya Satya sendiri tahu apa penyebab Fatimah diam seperti saat ini.
"I~iya," sahut Fatimah dengan nada terbata-bata.
"Bagus, pergilah!" sahut Satya yang membuat mata Fatimah melotot karenanya, sungguh sikap Satya terlihat seperti seorang suami yang tak menyukai istrinya, dia terlihat seperti seorang laki-laki yang di paksa menikah oleh orang tuanya, harusnya Fatimah yang bersikap seperti itu, tapi kenapa ini malah terbalik? Satya bersikap seolah dia terpaksa menikah dengan Fatimah dan hal ini cukup membuat Fatimah merasa sakit hati.
'Bukankah dia yang meminta perjodohan ini? dan bukankah dia pula yang meminta pernikahan ini? kenapa sekarang sikapnya seolah dia yang terpaksa menikah denganku?' Fatimah kembali membatin tanpa bisa mengungkapkan rasa anehnya.
__ADS_1