
"Perkenalkan namaku Fatimah," sambung Fatima sambil mengulurkan tangan mengenalkan diri.
"Nama saya Maimunah, semua orang di sini biasanya manggil saya Bik Mina," sahut Bik Minah yang kini meraih tangan Fatimah.
"Bibik, aku baru di rumah ini, mohon bantuan dan bimbingannya, beri tahu aku apa yang bisa dan tidak bisa aku lakukan di rumah ini," ujar Fatimah yang membuat Bik Mina Terkesan di pertemuan pertamannya dengan menantu majikannya itu.
"Nona Fatimah sangat sopan dan tidak sombong, Nyonya beruntung mendapatkan Nona sebagai menantunya," puji Bik Mina.
"Jangan terlalu memujiku, Bik! karena aku tidak sebaik itu," sahut Fatimah yang sejak dulu memang kurang suka di puji.
"Nona memang rendah hati, Bibik senang bisa bertemu dan mengenal Nona," sekali lagi Bik Mina kembali menuju Fatimah yang kini hanya membalas pujiannya dengan senyuman aga Bik Mina tidak memujinya lagi.
"Bik, saya ke sini mau buat minum dan sedikit camilan untuk Mas Satya, bisa minta tolong tunjukkan di mana letak bahan makanan dan alat untuk memasaknya?" tanya Fatimah yang memang tidak pernah tahu seluk beluk dapur di rumah mertuanya itu.
Dengan sabar dan senyum ramah juga wajah penuh kekaguman Bik Mina menunjukkan semua hal yang perlu di ketahui oleh Fatimah.
"Terima kasih sudah memberitahukan semuanya Bik," ucap Fatimah dengan senyum manis yang membuat kecantikan Fatimah semakin terlihat.
"Sama-sama Nona,jika ada yang di tanyakan atau ada sesuatu yang di butuhkan lagi Nona bisa mencari Bibik di ruangan yang ada di sana," tutur Bik Mina sambil menunjuk ke arah ruangan yang berada tidak jauh dari dapur di mana saat ini Fatimah berada.
"Siap, Bik," sahut Fatimah yang kini kembali melanjutkan niatnya yang ingin membuatkan minum juga camilan untuk Satya.
"Fatimah, sini gabung!" suara Satria mengejutkan Fatimah yang berniat memanggil Satya setelah membuatkan minum dan membuat sedikit camilan di bantu asisten rumah tangga yang di ada di rumah Sang Mama.
__ADS_1
"Kak Satria, sejak kapan ada di sana?" tanya Fatimah yang sejak tadi tidak melihat keberadaan Satria, tadi saat pergi ke dapur Fatimah tidak melihat siapapun di ruang keluarga, karena itulah dia berfikir jika sang Mama dan Satria sudah beristirahat di kamar mereka masing-masing.
"Aku baru saja ke sini, kamu habis dari mana?" tanya Satria.
"Aku baru selesai membuat kopi dan sedikit camilan untuk Mas Satya, apa Kak di Satria mau aku buatkan minum juga?" tawar Fatimah.
"Ngapain nawarin minum buat Kakak? lebih baik sekarang ambilkan minuman dan camilan untukku saja!" sela seseorang yang terlihat berjalan ke arah Fatimah, siapa lagi orang itu jika bukan Satya.
"Mas Satya, aku sudah buatkan minum untukmu, dan ini aku berencana memberitahumu dan bertanya Mas mau minum di kamar atau di tempat lain?" sahut Fatimah.
"Bawakan ke ruang keluarga saja! aku akan tunggu kamu di sana." Titah Satya.
"Jangan lupa buatkan aku kopi manis juga adik ipar," Satria yang sebenarnya hendak membuat minum mengurungkan niatnya, dia memilih untuk meminta Fatimah membuatkan minum untuknya juga.
"Loh, Nona kok buat minum lagi?" tanya Bik Mina yang baru selesai membersihkan meja makan.
"Kak Satria minta di buatkan minum juga, Bik," jawab Fatimah dengan senyum manis yang terlihat jelas di wajahnya.
Mendengar jawaban Fatimah, Bik Mina tersenyum, Fatimah benar-benar gadis siang hampir sempurna dan sungguh beruntung saat yang mendapatkan istri seperti itu.
"Apa bibi juga mau saya buatkan minuman?" tawar Fatimah saat melihat Mina menetap secangkir kopi yang tengah diaduk oleh Fatimah.
"Tidak Nona, bibi tidak minum kopi," jawab Bibik Mina ya memang memiliki riwayat darah tinggi karena itulah dia sangat menghindari kopi yang katanya bisa mempengaruhi penyakitnya itu.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu Bik." Pamit Fatimah yang langsung melenggang pergi membawa nampan berisi dua cangkir kopi yang berbeda satu kopi manis untuk Satria dan yang satu kopi bercampur susu murni untuk Satya yang kini sedang duduk berdampingan di ruang keluarga sembari menonton siaran televisi yang memperlihatkan sebuah berita.
"Mas, ini kopinya dan ini untuk Kak Satya." ujar Fatimah seraya meletakkan dua cangkir kopi yang berbeda di atas meja makan.
"Dan ini camilan untuk kalian." Sambung Fatimah yang juga meletakkan satu toples camilan yang baru saja dia goreng, tadi saat berada di dapur Fatimah menemukan kulit pangsit yang sengaja dia goreng sebagai camilan untuk Satya dan Satria yang kini tengah menatap siaran televisi dengan serius.
"Wah ternyata kamu istri yang sholehah juga, jadi iri kenapa bukan aku saja menikah denganmu," celetuk Satria yang memetik emosi Satya yang sejak tadi menatap serius ke arah televisi.
"Dia milikku Kak! Jangan coba-coba merebutnya atau berharap mendapatkan yang seperti dia!" ujar Satya yang sejak tadi diam, dia sangat mengerti dengan watak kakaknya yang memang sejak dulu suka mendekati gadis-gadis yang tengah menjalin hubungan dengannya.
"Kamu masih saja takut aku merebut kekasihmu?" tanya Satria yang terlihat begitu senang dan tersenyum licik ke arah Satya.
Satya tidak menjawab perkataan Satria, dia hanya menoleh segelas dengan tatapan penuh kebencian ke arah Satria kemudian kembali fokus menatap layar televisi yang tengah menyiarkan berita kecelakaan.
"Kamu memang tidak pernah bisa mencari gadismu sendiri, karena itulah kamu selalu mengganggu gadis yang dekat denganku," ujar Satya dengan tatapan penuh permusuhan.
"Aku hanya ingin tahu gadis yang dekat denganmu itu setia atau tidak, jika dia berpaling meninggalkan kamu dan memilih aku itu artinya dia bukan gadis yang baik Untukmu," jelas Satria yang memang sejak dulu selalu mengetes kesetiaan setiap gadis yang dekat dengan Satya, niatnya memang baik meski caranya tidak benar.
Satya tidak menanggapi ucapan Satria dia memilih meraih tangan Fatimah yang berdiri di sampingnya dan memaksanya duduk sambil merangkul bahu Fatimah seolah menegaskan jika Fatimah adalah miliknya dan Satria tidak boleh mengganggunya.
Mendapat perlakuan yang menurut Fat ok mah cukup menunjukkan jika ada cinta dan rasa takut kehilangan di hati Satya membuat senyum bahagia terbit tanpa bisa di tahan di bibir Fatimah, sungguh rasanya sangat menyenangkan melihat suaminya bisa mencintainya seperti saat ini.
"Aku tidak akan merebut ataupun menggodanya, untuk yang satu ini aku yakin jika Fatimah adalah gadis yang baik dan tepat untukmu, jadi jangan khawatir!" ujar Satria yang kini ikut menatap layar televisi di hadapannya.
__ADS_1