Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Saling melengkapi


__ADS_3

"Mama," lirih Fatimah dsaat setelah dia menuruni anak tangga terakhir dan melihat sang Mama yang tengah memperhatikan suasana rumah.


"Kenapa suasananya begitu sepi? ke mana semua orang?" sahut Mama Nia yang menanyakan keberadaan orang yang ada di rumah itu termasuk Satya.


"Mas Satya lagi di kamar mandi Ma, mungkin sebentar lagi akan turun, apa Fatimah panggilkan dulu?" jawab Fatimah sambil menawarkan diri untuk memanggil Satya yang memang sedang mandi dan bersiap untuk sholat.


"Tidak perlu, cukup temani Mama saja," jawab Mama Nia yang tidak ingin terlalu merepotkan sang menantu dan memilih untuk memintanya menemani dirinya di ruang keluarga.


"Ngomong-ngomong apa Mama datang sendiri?" Tanya Fatimah saat dia tak melihat papa dan Kak Satria di samping mama Nia.


"Mereka sebentar lagi menyusul ke sini, kebetulan mama tadi dari rumah sedang papa dan Satria belum pulang dari kantor," jelas Mama Nia.


"Kalau begitu Mama duduklah dulu! Biar Fatimah buatkan minum." Ujar Fatimah yang merasa sungkan jika dia hanya duduk menemani sang Mama mertua tanpa membuat minum atau memberikan sesuatu yang mungkin bisa dimakan oleh Mama.


"Tidak usah repot, cukup temani Mama berkeliling melihat setiap sudut rumah baru ini," ujar Mama Nia yang merasa jika dia masih belum haus ataupun lapar untuk memakan atau meminum sesuatu di rumah Satya yang baru, Mama Nia merasa lebih penasaran dengan setiap sudut dan dekorasi juga perabotan yang ada di dalam rumah baru Sang putra.


"Apa Mama belum pernah ke sini sebelumnya?" Tanya Fatimah merasa aneh dengan ucapan Mama Nia.


"Belum, Satya hanya bercerita jika dia sedang menyiapkan rumah baru tapi dia tidak pernah memberitahu bagaimana, seperti apa, atau di mana rumah yang dia maksud itu berada," jawab Mama Nia ia yang memang belum pernah ke rumah itu sebelumnya.


"Baiklah, kalau begitu biar Fatimah antar Mama berkeliling rumah ini." Ujar Fatimah yang jenuh berdiri dan mengajak mamania untuk berjalan-jalan melihat setiap sudut yang ada di rumah itu.

__ADS_1


"Bik!" Panggil Satya sesaat setelah dia sampai di dapur dan melihat Bik murni sedang sibuk memasak di dapur.


"Iya, ada apa Tuan?" Sahut Bik murni seraya menghentikan sejenak pekerjaannya dan menoleh ke arah Satya yang kini berdiri tepat di belakangnya.


"Apa Bik Murni melihat Fatimah?" Tanya Satya sambil celingukan mencari keberadaan Fatimah.


"Tidak Tuan, bukankah sejak tadi Nona Fatimah ada di kamar bersama Tuan?" Jawaban Bik murni tak bisa melegakan hati Satya.


"Dia sudah keluar setengah jam yang lalu," jelas Satya yang memang sejak tadi di tinggal oleh Fatimah.


"Tapi saya benar-benar tidak melihat Nona Fatimah sejak tadi Tuan," Bik Murni mencoba menjelaskan sejelas-jelasnya jika dia memang tidak bertemu dengan Fatimah sejak tadi.


"Fatimah! kamu di mana?" suara Satya terdengar menggema di ruangan membuat siapapun yang mendengarnya pasti akan terkejut.


Satyatul sudah memanggil nama Fatimah sambil berjalan menyusuri setiap sudut yang ada di rumah barunya itu, hingga sampailah Satya di sebuah taman yang memang sengaja ia buat di halaman belakang rumah.


"Fatimah! kamu ngapain di sini?" seru Satya dengan ekspresi wajah sedikit jengkel melihat Fatimah yang kini sedang duduk manis di atas kursi panjang yang di sediakan di taman, sungguh sesuatu yang berbanding terbalik itu cukup menyakitkan hati.


"Aku sedang menemani mama untuk melihat-lihat keadaan rumah ini," jawab Fatimah.


"Mana Mama? Kenapa aku tidak melihatnya?" Sahut Satya yang justru meragukan jawaban Fatimah, pasalnya saat ini Fatimah terlihat sendirian di taman tanpa seorangpun yang menemaninya.

__ADS_1


"Kenapa Satya? kamu cari Mama?" Suara mama yang tiba-tiba terdengar muncul dari belakang Satya dan hal itu cukup mengejutkan Satya.


"Mama dari mana?" Bukan yang menyangkut kedatangan sang mama, Satya justru menyambutnya dengan sebuah pertanyaan yang cukup membuat mama Nia mengerti jika laki-laki yang ada di hadapannya itu memang putranya, sama seperti sang suami yang tidak pintar menyambut seorang tamu.


"Orang tua baru datang itu ditawarin minum atau ditanyakan kabar bukan malah ditanyakan dari mana?" protes Mama Nia yang merasa jika apa yang baru saja dia dengar dari bibir Satya bukanlah hal yang benar.


"Maaf, bagaimana kabar Mama?" Ujar Satya, dia memilih mengikuti apa kata Mama daripada terus mendebatnya, karena Satya merasa percuma saja mendebat setiap perkataan sang Mama karena mama bukanlah orang yang bisa diajak berdebat.


"Baik, kenapa kamu tidak pernah mengajak Mama melihat-lihat kondisi rumah ini terlebih dahulu? Dan kenapa pula kamu langsung pindah ke sini tanpa memberi kabar Mama sebelumnya," tanya Mama Nia.


Sebenarnya Satya sudah memberitahu Mama Nia dan yang lain jika dia akan pindah ke rumah barunya itu, tapi Satya memberitahukannya mendadak.


"Bukankah tadi siang sudah aku beritahukan kalau aku dan Fatimah akan pindah ke sini, kenapa Mama bertanya seolah-olah aku tidak pernah memberi kabar apapun kepada Mama," sahut Satya yang mencoba membela dirinya sendiri saat ini dia merasa jika dirinya sudah memberitahukan kepindahannya ke rumah baru kepada sang mama sebelumnya, jadi tidak ada alasan untuk memarahi atau memprotesnya saat ini.


"Meski begitu seharusnya kamu memberitahukan kepada kami di mana dan seperti apa rumah barumu itu bukan seperti ini, kamu memberitahukan saat kamu sudah pindah di sini," ujar Mama Nia yang terdengar masih belum percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


"Sudahlah Ma, jangan memprotesku lagi tanda seru yang terpenting saat ini mama sudah ada di sini dan tahu seperti apa rumah sakit dan Fatimah saat ini," sahut Satya yang terdengar enggan untuk berdebat ataupun membalas setiap ucapan Mama Nia.


"Kamu sama saja dengan Papamu, dasar duo es batu," sahut Mama Nia yang merasa percuma melayangkan protes kepada Sang putra yang memang memiliki sifat hampir sama seperti suaminya itu.


"Ayo fatimah kita masuk dan lihat apa yang di lakukan asisten rumah tangga yang baru, sekalian Mama mau lihat bagaimana bentuknya dapur di rumah ini." Ajak Mama Nia yang langsung meraih tangan Fatimah dan mengajaknya pergi meninggalkan Satya yang melongo melihat kedekatan Mama Nia dan Fatimah, meski keduanya memiliki sifat yang berbeda, tapi bisa tetap bersatu dan seakrab itu, Mama Nia yang lincah dan cerewet bersama Fatimah yang lemah lembut dan jarang bicara, sungguh menantu dan mertua yang saling melengkapi.

__ADS_1


__ADS_2