
Malam semakin larut, semua makanan yang sudah di siapkan oleh Satya telah tandas tak tersisa.
"Apa ini kamarnya?" tanya Fatimah saat Satya berhenti tepat di depan sebuah kamar hotel.
"Iya," jawab Satya yang kini berdiri di samping Fatimah.
"Tapi sebelum masuk tutup dulu matamu!" titah Satya serayaengambil satu kain hitam dari balik saku jas yang dia pakai. Kemudian mengikatnya tepat di bagian mata Fatimah.
"Kenapa harus di tutup, Mas?" tanya Fatimah merasa aneh dengan apa yang di lakukan Satya saat ini.
"Biar surprise," jawab Satya singkat.
Fatimah hanya bisa menurut apa yang di perintahkan oleh Satya, tidak ada gunanya bertanya ataupun meminta penjelasan pada Satya saat ini, karena dia tidak akan pernah menjawab apa yang di tanyakan oleh Fatimah.
__ADS_1
"Dalam hitungan ketiga, kamu bisa membuka mata," ujar Satya seraya menuntunku masuk ke dalam kamar hotel.
"Satu,"
"Dua,"
"Tiga,"
Tepat di hitungan ketiga Satya membiarkan aku membuka mata dan melihat kamar hotel berbintang yang pasti sudah menyiapkan segala perlengkapan untuk memperindah momen bulan madu sesuai dengan apa yang di pesan oleh Satya.
"Apa kamu menyukainya?" sahut Satya yang langsung mencoba melancarkan aksinya mendekat ke arah Fatimah dan memeluknya dengan erat dari belakang.
"Izinkan aku menjadi suamimu seutuhnya malam ini, Sayang," bisik Satya ke arah telinga Fatimah dengan nafas memburu mencoba menahan sesuatu yang sebenarnya sudah meronta sejak tadi, Satya tidak mungkin langsung menyerang atau melahap Fatimah saat ini juga, Satya harus bersabar sedikit lagi mengingat jika apa yang akan dia lakukan merupakan pengalaman pertama bagi Fatimah, meski dirinya juga sama, tapi setidaknya Satya sering melihat dan memahami bagaimana cara berhubungan dengan baik lewat aplikasi biru yang sering dia lihat.
__ADS_1
Fatimah tak lagi mampu berbicara saat merasakan gelenjar aneh mengalir di tubuhnya, rasanya sangat aneh dan asing tapi mampu membuatnya melayang hingga lupa segalanya, jangankan menolak, bahkan Fatimah tak mampu mengatakan sepatah katapun, dia hanya bisa mengangguk sambil memejamkan mata dan menggigit bibir bawah menahan sesuatu yang sedang mendorong dirinya untuk menuntut lebih pada Satya yang sedang asyik bermain di sekitar telinga Fatimah.
"Ma~***" lenguh Fatimah sambil terus berusaha menahan diri agar tidak lepas kontrol.
"Ini baru permulaan Sayang, kamu akan merasakan sesuatu yang mungkin tak akan pernah bisa kamu lupakan setelahnya," ujar Satya semakin membuat Fatimah merasa ingin meminta lebih dari apa yang saat ini di lakukan oleh Satya.
Satya mulai melancarkan aksinya, membuka satu persatu penghalang antara dirinya dengan nikmat yang akan dia rasakan.
"Sungguh sempurna ciptaan Tuhan yang satu ini, aku mungkin tak akan pernah bisa lepas lagi darimu Fatimah, apa yang kamu miliki ini, lebih baik dari apa yang pernah aku inginkan atau bayangkan sebelumnya, semua ini terlihat begitu indah dan menantang," lirih Satya sambil terus berjalan-jalan melewati jalan mulus hingga sampai di antara kedua gunung kembar dengan puncak memerah yang terlihat begitu menggoda.
Tangan yang sejak tadi sudah menyusuri setiap inci dari wajah indah milik Fatimah, kini berpindah menuju gunung kembar yang sudah menanti untuk di jelajah.
"Ahhh," lolos sudah, suara indah penyemangat penjelajahan Satya terdengar, membuat Satya semakin bersemangat untuk terus menjelajah tanpa henti, penjelajahan tak pernah henti ataupun sia-sia, semua memiliki hasil yang pasti akan memuaskan keduanya, Satya seperti berpetualang di sebuah hutan rkmba yang tak pernah tersentuh sebelumnya, menjadi yang pertama menjelajah memberi sensasi dan kebanggaan tersendiri bagi Satya, rasanya tak ingin berhenti untuk terus berpetualang, hingga tibalah dia di sebuah gua indah yang sejak awal ingin dia jelajahi isinya.
__ADS_1
"Awww," Fatimah merintih sambil beringsut merubah posisinya duduk sambil menahan rasa sakit yang tiba-tiba dia rasakan.
"Kenapa?" tanya Satya menatap aneh ke arah Fatimah.