
"Fatimah!" Satya kembali memanggil Fatimah yang tak menyahuti panggilannya.
Tapi apa yang diharapkan Satya tidak sesuai dengan kenyataannya, Fatimah tetap saja tidak menyahuti panggilan Satya, yang ada hanya keheningan malam sebagai jawaban atas panggilan yang baru saja di ucapkan.
Satya yang merasa tidak mendapatkan sahutan dari Fatimah langsung duduk dan mencoba mengecek apa yang sebenarnya terjadi pada Fatimah saat ini.
"Kenapa Fatimah tidak bergerak?" gumam Satya saat melihat Fatimah hanya diam tanpa suara.
Satya dibuat semakin penasaran saat melihat Fatimah tak menyahuti panggilannya, dia juga tidak bergerak karena itulah Satya mulai berfikir jika telah terjadi sesuatu pada Fatimah.
"Fatimah!" Sekali lagi Satya mencoba memanggil Fatimah yang tetap diam di posisinya.
Berbagai fikiran buruk mulai bersarang di benak Satya, hingga akhirnya dia memutuskan untuk bangun, berjalan mendekat ke arah Fatimah.
Satya berjongkok tepat di samping Fatimah, meneliti apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa Fatimah tidak menyahuti panggilan Satya, hingga dengkuran halus memberi tanda jika Fatimah tengah tertidur pulas.
"Lah, dia malah tidur," gumam Satya yang kini sudah tahu alasan Fatimah tidak menyahuti panggilannya.
Satya terus menatap lekat ke arah Fatimah, wajah cantik nan ayu dengan kulit putih mulus memberikan pesona tersendiri bagi Satya, Fatimah benar-benar menggoda, membuat Satya hampir lepas kendali, dia yang terpesona dengan wajah Fatimah terus mendekat hingga jarak di antara keduanya terkikis, hingga hembusan nafas Fatimah menyapu wajah Satya.
"Hmmmm," gumam Fatimah yang kini menggeliat pelan merasakan sesuatu mendekat ke arah wajahnya.
__ADS_1
Satya yang merasakan gerakan Fatimah langsung menjauh dan menghindar khawatir jika Fatimah tiba-tiba bangun dan mengetahui apa yang akan di lakukan oleh Satya.
"Astaga, hampir saja," gumam Satya saat dia melihat Fatimah kembali tidur dengan lelap, dia terlihat tidak terusik dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Satya.
"kenapa Fatimah terlihat begitu menggoda?" gumam Satya sambil menatap lekat ke arah Fatimah yang kini masih terlelap dalam mimpi indahnya.
Satya terus saja menatap Fatimah. Dalam hatinya ada rasa kasihan dan tidak tega yang terselip ketika melihat Fatimah harus tidur di lantai sedang dirinya tidur nyenyak di atas kasur yang begitu empuk, apakah Satya keterlaluan kali ini? Atau memang ini balas dendam yang diinginkan oleh Satya? Begitu banyak pertimbangan yang kini muncul dalam benak Satya ketika melihat kesabaran, ketaatan dan perhatian yang ditunjukkan oleh Fatimah, dia yang Satya kira akan marah ataupun akan pergi ketika dia bersikap buruk, ternyata perkiraan Satya benar-benar salah, Fatimah tetap bersabar menerima sikap buruk Satya karena itulah kini Satya merasa jika dirinya harus segera mengakhiri balas dendam yang pernah dia rencanakan.
"Haruskah aku mengakhiri semua balas dendam ini?" gumam Satya yang kini masih saja menatap lekat ke arah Fatimah.
"Atau aku akan meneruskan semua rencana yang pernah aku buat dulu? "Sambung setia, dia begitu bingung dan bimbang juga gelisah menentukan pilihan yang akan dia pilih setelah beberapa hari hidup bersama Fatimah.
Cukup lama Satya terdiam sambil menatap lekat ke arah Fatimah dan memikirkan pilihan yang akan dia pilih di kemudian hari, hingga pada akhirnya Satya memutuskan untuk mengangkat tubuh Fatimah dan meletakkannya di atas kasur yang empuk, rasanya tidak baik jika seorang laki-laki membiarkan seorang wanita tidur di lantai sedang dirinya tidur di atas kasur yang empuk tanpa memperdulikan wanita itu.
"Sepertinya mulai hari ini aku harus terbiasa tidur di samping Fatimah," lirih Satya sebelum akhirnya dia tertidur di samping Fatimah.
Fatimah yang terlelap merasa terusik dengan pergerakan yang terjadi di sampingnya.
'Kenapa rasanya begitu nyaman? perasaan aku tidur di lantai, kenapa sekarang rasanya begitu empuk seperti di kasur?' batin Fatimah dengan mata yang masih tertutup dia membatin.
"Guling ini juga terasa begitu nyaman, walaupun agak sedikit keras, tapi rasanya begitu nyaman, bahkan sangat nyaman,' sambung Fatimah yang kini semakin mempererat pelukannya dan menikmati tidur nyenyak yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
__ADS_1
Detik jam terus berjalan malam yang penuh dengan kegelapan kini telah berlalu berganti sial di mana para bintang telah kembali ke peraduan dan berganti mentari yang kini mulai menampakkan cahayanya.
Kali ini berbeda seperti biasanya, jika Fatimah biasanya bangun terlebih dulu kini justru Satya lah yang bangun lebih dulu, menyadari jika ada yang memeluknya dari samping membuat setia tersenyum senang karena dia tahu dengan pasti siapa yang memeluknya saat ini.
'aku akan membiarkan Fatimah bangun dan menyadari apa yang sedang dia lakukan saat ini,' batin Satya yang tiba-tiba memiliki ide untuk menjahili Fatimah di pagi hari.
Fatimah yang semalam merasa begitu nyenyak kini mulai terbangun, perlahan tatapan mata Fatimah tertuju pada guling empuk sedikit keras yang terasa begitu nyaman semalam, mata Fatimah langsung membulat sempurna saat melihat Satya yang terpejam di sampingnya.
"Kenapa aku bisa ada di sini?" tanya Fatimah saat dia melihat wajah Satya saat ini.
Fatimah tak langsung menjauh ataupun menghindar, dia memilih diam sambil menatap lekat ke arah Satya yang tengah memejamkan mata.
"Ternyata kalau tidur Mas Satya terlihat imut dan tampan, seandainya saja jika dia bisa bersikap lembut, aku pasti akan merasa begitu bahagia," ujar Fatimah sambil terus menatap lekat ke arah Satya yang masih setia menutup mata.
"Apa sudah puas menatap wajah tampanku?" ujar Satya sambil tersenyum ke arah Fatimah dan menatapnya dengan tatapan lembut.
"Hah? apa?" sahut Fatimah yang langsung membalik badan mendapati Satya yang kini membuka mata.
Sungguh rasanya saat ini Fatimah ingin sekali pergi meninggalkan kamar, wajah Fatimah memerah mengingat jika saat ini dia ketahuan menatap Satya yang ternyata sudah terbangun.
"Kenapa aku bisa ada di sini? apa Mas Satya yang memindahkanku?" Fatimah yang memiliki ide untuk mengalihkan pembicaraan kini mulai mencari topik untuk di bicarakan.
__ADS_1
"Jangan asal nuduh! aku tidak mungkin memindahkanmu, coba kaku ingat-ingat dulu! apa kamu di pindahkan atau justru kamu yang pindah sendiri," jawab Satya yang justru memojokkan Fatimah.
Fatimah terdiam mencoba memikirkan apa yang sebenarnya terjadi, dia berusaha keras mengingat apa yang sudah terjadi semalam, tapi nihil, Fatimah tak mengingat apapun, yang dia ingat hanya satu, dia tertidur setelah memasang kartu yang semalam dia beli tanpa ada kesempatan untuk menghubungi sahabatnya karena rasa kantuk sudah merasuki dirinya.