
"Siapkan semua barangmu! kita akan pindah nanti sore," titah Satya.
Fatimah hanya diam tak mampu berkata-kata, saat ini perasaannya masih bimbang, antara ikut atau membuat penawaran lagi dengan Satya.
"Apa kamu mendengarku Fatimah?" tanya Sarya saat Fatimah tak menjawab perintah Satya.
"Tidak bisakah kita berada di sini lebih lama Mas?" tanya Fatimah.
"Aku tidak menerima penawaran lagi Fatimah, kemarin aku sudah menuruti permintaanmu, sekarang giliranmu yang menuruti permintaanmu," tegas Satya, dia terdengar begitu tegas tak terbantahkan lagi, bagi Satya saat ini dia ingin Fatimah menurut padanya.
"Apa kamu ingin menentang suamimu ini Fatimah?" sambung Satya saat melihat Fatimah hanya diam tanpa kata.
"Aku akan bersiap dan ikut denganmu," jawab Fatimah pasrah.
Fatimah tak memiliki pilihan lain selain mengikuti perintah Satya, karena saat ini dia adalah suami sekaligus kepala keluarga, makan sudah jadi kewajiban Fatimah untuk menurut pada perintah sangat suami.
"Bagus, sekarang siapkan semua barang-barangmu!" ujar Satya yang langsung melenggang pergi masuk ke dalam kamar mandi.
'Jika aku pergi, Ibu sama siapa di rumah ini?' batin Fatimah yang kini kepikiran sang Ibu yang sendirian di rumah, dengan langkah berat Fatimah menyiapkan semua barang-barang yang menurutnya penting dan harus di bawa.
'Aku akan melihat keadaan Ibu.' Fatimah kembali membatin saat semua barangnya sudah selesai di kemas.
"Bagaimana kabarmu Fatimah?" suara sang Bibik mengejutkan Fatimah yang memang berjalan sambil sedikit melamun.
"Aku baik Bibik," sahut Fatimah.
"Bagaimana laki-laki pilihan Bibik? dia baik dan bersikap lembut bukan? ahhh Bibik memang pintar mencarikan pasangan," seru Bibik yang terlihat begitu bangga pada dirinya sendiri karena sudah mempertemukan Fatimah dengan Satya.
'Bibik salah memilih, Bibik selalu saja melihat casing tanpa tahu dalamnya, karena itulah Bibik memilih Satya yang justru bersikap buruk saat tak ada siapapun dan kami hanya berdua saja,' batin Fatimah mengingat semua perlakuan buruk yang dia Terima selama ini.
"Fatimah, kenapa kamu hanya diam saja?" tanya sang Bibik.
__ADS_1
"Maaf, Bik, aku pergi ke kamar mandi dulu." Pamit Fatimah yang langsung melangkah pergi meninggalkan Ibu Halimah dan Bibik yang merasa aneh dengan apa yang di lakukan Fatimah.
"Apa Satya bersikap buruk pada Fatimah?" tanya Ibu Halimah yang merasa curiga dengan sikap Fatimah saat ini.
"Tidak mungkin Mbak, Satya sangat baik dan perhatian, Mbak sendiri juga melihat bagaimana Satya bersikap, dia sangat lembut dan penuh kasih sayang," Bibik Husna mencoba meyakinkan Ibu Halimah jika Satya memang laki-laki yang baik.
"Aku harap apa yang kamu katakan itu benar," ujar Ibu Halimah.
"Tentu saja benar Mbak, aku tidak mungkin menjerumuskan keponakan ku sendiri," sahut Bibik Husna dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
Ibu Halimah hanya tersenyum menanggapi ucapan Bik Husna, dia tidak ingin terus berfikiran buruk terhadap Satya ataupun Husna sang adik.
Sedang di sisi lain, Husna juga merasa curiga dengan sikap Fatimah yang sebenarnya.
'Apa yang sebenarnya terjadi selama aku pergi?' batin Bik Husna.
Setelah acara pernikahan terjadi, Bik Husna langsung pergi berlibur untuk menghabiskan uang yang di berikan oleh Satya, Bik Husna menghabiskan waktu selama tiga hari di bali.
"Aku hanya merasa jika waktu bergulir begitu cepat, tidak terasa Fatimah sudah sebesar ini dengan begitu cepat." Lirih Bik Husna yang hanya bisa memandang Fatimah hingga dia menghilang di balik tembok.
"Kamu benar Husna, Fatimah Puteri kecilku kini sudah menjadi istri orang dan dia sudah menikah," sahut Ibu Halimah, Bik Husna berhasil mengalihkan topik pembicaraan.
"Aku tidak boleh menunjukkan kesedihan atau kekurangan yang terjadi dalam rumah tangga ku, bagaimanapun keadaan dan sikap suamiku saat ini merupakan aib yang harus aku tutupi, bagaimanapun keadaannya aku akan tetap kuat dan terlihat bahagia di hadapan keluarga, terutama di hadapan Ibu," Fatimah berbicara pada dirinya sendiri, mencoba menguatkan hati yang sebenarnya tengah bingung dan terluka.
'Ceklek'
Perlahan Fatimah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang jauh lebih fresh dari sebelumnya.
"Kamu kenapa Fatimah? tadi kok main lari ke kamar mandi?" Ibu Halimah langsung bertanya saat melihat Fatimah yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Maaf Bu, tadi Fatimah sakit perut, jadi langsung lari ke kamar mandi," jawab Fatimah dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
__ADS_1
'MaafkanMaafkan aku ya Tuhan, aku sungguh tak bermaksud berbohong, hanya saja aku harus terlihat baik-baik saja agar Ibu dan yang lain tidak tahu bagaimana keadaan rumah tangga ku sebenarnya,' batin Fatimah meminta maaf pada sang Pencipta atas kebohongan yang sudah dia lakukan.
"Kenapa malah diam di situ Fatimah? panggil Satya dan kita sarapan bersama." Sela Bibik Husna yang sudah duduk manis di meja makan dengan berbagai menu yang tersedia di atasnya.
"Baik, Bibik," sahut Fatimah yang langsung melangkah menuju kamar dan memanggil Satya untuk sarapan bersama.
"Mas, ayo turun! kita sarapan bersama. Bik Husna dan Ibu sudah menunggu di ruang makan," ujar Fatimah sesaat setelah masuk ke dalam kamar dan melihat Satya yang kini duduk anteng di sofa.
Tanpa membalas ucapan Fatimah, Satya langsung berdiri melangkah melewati Fatimah dan berjalan di hadapannya.
"Bagaimana kabar kamu Satya?" tanya Bik Husna.
"Aku baik, bagaimana dengan liburannya Bibik? apa semua masih baik-baik saja? apa semuanya menyenangkan?" Satya balik bertanya dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
"Tentu saja baik dan menyenangkan," jawab Bik Husna dengan senyum manis yang cukup membuat Satya muak melihatnya.
'Dasar serigala berbulu domba,' batin Satya yang kini mengalihkan pandangannya melihat ke arah beberapa menu yang ada di hadapannya.
Sarapan pagi terjadi seperti biasa, Fatimah melayani sang suami dengan baik dan Satya makan dengan lahapnya.
Usai sarapan keempat penghuni rumah duduk bersantai di ruang keluarga sambil menikmati hari santai.
"Bagaimana keadaanmu Mbak? apa sekua sudah baik-baik saja?" tanya Bibik Husna.
"Aku baik Husna, dan bisakah kita bahas hal yang jauh lebih bermanfaat selain ini?" ujar Ibu Halimah yang tak ingin puterinya merasa sedih karena penyakit yang dia derita semakin parah.
"Bu, nanti sore aku dan Fatimah akan pindah ke rumah yang baru, apa Ibu mengizinkan?" sela Satrya yang kini terlihat serius.
"Tentu saja, Ibu akan mengizinkanmu," jawab Ibu Halimah dengan senyum yang terlihat begitu tulus.
"Apa Ibu tidak keberatan jika Fatimah tinggal sendiri di sini?" Fatimah mencoba memastikan jika Ibunya baik-baik saja jika dia pergi.
__ADS_1