Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Perintah Satya


__ADS_3

Merasakan sesuatu membentur punggungnya, Satya menoleh ke arah belakang di mana Fatimah yang sejak tadi mengikuti langkahnya.


Satya tak mengatakan apapun, dia hanya menatap lekat ke arah Fatimah yang kini kembali menunduk merasa malu dengan apa yang baru saja terjadi, seandainya saja dia berjalan sambil melihat ke depan pasti hal yang baru saja terjadi tidak akan pernah terjadi.


"Masuklah!" titah Satya yang ternyata hanya menatap ke arah Fatimah tanpa bersuara ataupun bertindak.


'Terima kasih ya Tuhan, akhirnya Mas Satya tidak melakukan apapun,' batin Fatimah yang merasa jika saat ini dia selamat, padahal tadi Fatimah sempat berfikir jika Satya akan melakukan hal yang cukup menyakitkan seperti kemarin, tapi kenyataannya Satya hanya melihat Fatimah sekilas.


Mendengar perintah Satya, Fatimah langsung masuk ke dalam sebuah ruangan yang cukup luas meski tak seluas ruang utama di kamar tidur tadi.


"Letakkan bajumu di sebelah sana! ini baju khusus aku ke kantor, ini baju khusus saat santai di rumah dan ini baju yang biasa aku gunakan saat pergi jalan-jalan," Satya menjelaskan semua baju yang ada di lemari besar di dekat tembok.


Mendengar penjelasan Satya membuat Fatimah terperangah terkejut akan apa yang baru saja dia dengar, Satya menjelaskan baju yang memang dia pakai saat-saat tertentu, seperti sesuatu yang sudah ditentukan, baju pun ada ketentuannya, berbeda dengan Fatimah yang tidak pernah membeda-bedakan baju, dia bisa memakai baju yang manapun yang dia inginkan dalam keadaan apapun tanpa pilih-pilih seperti apa yang dilakukan oleh Satya saat ini.


"Jangan hanya diam dan menganga seperti itu! carikan aku baju ganti! dan masukkan semua bajumu di ujung sana!" titah Satya saat melihat Fatimah hanya menatap kosong ke arah deretan lemari yang sudah terbuka dan siap diisi dan juga siap diambil untuk dipakai.


"Eh, iya Mas,"sesaat setelah dia sadar dengan apa yang baru saja dia lakukan, mendengar perintah Satya membuat Fatimah mengerti jika saat ini dia sedang menjalankan tugas dari satya sang suami.


"Tapi apa tidak lebih baik Mas saat yang memilih sendiri baju ganti untuk saat ini?" tanya Fatimah saat melihat keadaan Satya yang hanya memakai handuk di hadapannya, dia tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak dia inginkan karena itulah dia bertanya kepada Satya agar dia bisa segera pergi meninggalkan ruang ganti yang lebih mirip seperti tokoh.


"Aku ingin kamu yang memilihkan baju untukku," jawab Satya enteng tanpa memikirkan jika saat ini Fatimah tengah bingung dengan baju yang akan dia pilihan.

__ADS_1


"Dan satu lagi aku juga ingin melihat pilihanmu, apakah pilihanmu itu baik atau buruk," sambung Satya yang tadinya hendak pergi meninggalkan Fatimah, kini berbalik dan menghentikan langkahnya menoleh ke arah Fatimah yang masih mematung di tempatnya.


"Baik, Mas," jawab Fatimah.


Lagi-lagi Fatimah tidak bisa menolak atau memprotes perintah dari Satya, selain mengingat jika yang memberikan perintah adalah suaminya maka bisa dipastikan jika Fatimah akan melayangkan protes yang sejak tadi bersemayam di hatinya.


"Ini baju Untukmu, Mas," ucap Fatimah seraya memberikan baju yang baru saja dia pilih dari dalam lemari milik Satya.


Satya yang memang tengah menunggunya di atas kasur langsung mengambil alih baju yang di pilihkan oleh Fatimah, tanpa balasan, Satya hanya mengangguk kemudian berdiri hendak mengganti bajunya.


"Stoopp!!!" teriakan Fatimah cukup membuatnya terkejut dan melihat ke arah Fatimah sambil menghentikan tangannya yang sudah ada di ujung handuk yang tengah melilit pinggangnya.


"Kenapa?" tanya Satya sambil menoleh ke arah Fatimah yang kini tengah menunduk sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Terus kenapa jika aku tidak memakai apapun?" bukannya segera pergi, Satya justru semakin tertarik untuk menggoda Fatimah.


"Apa Mas tidak malu jika tidak memakai apapun di hadapan seorang gadis?" tanya Fatimah yang kini justru terlihat seperti seorang gadis yang belum cukup umur, dia terlihat sangat polos dan cukup membuat Satya semakin gemas dengannya.


Bukannya menghindar atau segera pergi ke kamar mandi untuk mengganti baju agar bisa cepat istirahat, Satya justru kembali berjalan mendekat ke arah Fatimah yang kini memasang badan untuk melindungi diri, gerakan reflek Fatimah cukup membuat Satya mengerti jika saat ini Fatimah masih trauma dengan apa yang pernah di lakukan Satya beberapa hari yang lalu.


"Sudahlah," ujar Satya.

__ADS_1


percuma menjelaskan apa yang belum pernah di lakukan sang gadis, Satya memilih melenggang pergi meninggalkan Fatimah yang masih menunduk sambil menutup kedua matanya, berharap Fatimah bisa langsung mengerti dengan tugasnya sebagai seorang istri.


Mengalah bukan berarti kalah, dia harus mengalah dan bersabar menunggu waktu yang tepat untuk mengajari Fatimah apa itu making love, tapi tunggu! apa sekarang Satya sudah bisa menghilangkan dendam dalam hatinya? atau Satya hanya terbawa suasana?


Satya yang memilih untuk kembali melangkah masuk ke dalam kamar mandi tanpa memperdulikan keberadaan Fatimah yang terlihat masih bingung dengan apa yang baru saja terjadi karena sejak tadi dia menutup mata.


"Huft, syukurlah" batin Fatimah yang merasa jika saat ini dia kembali bebas dari Satya yang mungkin bisa menyakitinya, mengingat apa yang telah dilakukan oleh Satya beberapa hari yang lalu membuat Fatimah merasa trauma dan sedikit takut dengan sentuhan tiba-tiba dari suaminya itu.


Melihat Satya yang masuk ke dalam kamar mandi dan tidak akan keluar membuat Fatimah bergegas untuk segera menata baju-bajunya agar terlihat rapi dan bersih sebelum Satya keluar dari kamar mandi.


Fatimah memutuskan untuk keluar dari kamar dan turun untuk membuatkan minuman dan camilan untuk Satya, dengan langkah ringan Fatimah berjalan menuju dapur.


"Kenapa suasananya begitu sepi?" lirih Fatimah saat melihat ruang keluarga kosong tak berpenghuni.


Tapi Fatimah yang memang baru berada di sana tidak terlalu memperdulikan apa yang terjadi, yang terpenting saat ini dia hatus ke dapur membuatkan minum untuk Satya.


"Nona Fatimah, sedang apa Nona di dapur?" tanya sang asisten rumah tangga saat melihat majikan barunya masuk ke ruang dapur.


"Dari mana Bibik tahu namaku? bukankah kita tidak pernah bertemu sebelumnya?" tanya Fatimah merasa heran dengan Bibik yang ada di dapur.


"Nyonya besar yang mengenalkan Nona lewat foto yang ada di ruang tamu," jawabnya.

__ADS_1


Di ruang tamu memang ada foto pernikahan Satya dan Fatimah terpampamg jelas di sana.


"Kalau begitu lebih baik sekarang saya mengenalkan diri secara resmi," ujar Fatimah.


__ADS_2