
"Ini bukti jika Bik Husna sudah mengambil alih seluruh harta milik Ibu," ujar Satya seraya memberikan setumpuk kertas putih berisi salinan harta yang di miliki Ibu Halimah yang seharusnya menjadi milik Fatimah.
"Apa rumah milik Ibu yang selama ini dia tempati juga di ambil?" tanya Fatimah dengan bulir air mata menetes membasahi pipi Fatimah.
"Iya," jawab Satya tegas.
"Tapi kamu tidak perlu khawatir! aku masih bisa memperjuangkannya untukmu," sambung Satya yang tidak ingin melihat istri tercintanya terluka.
__ADS_1
"Biarkan saja, mas," jawaban mengejutkan keluar dari bibir Fatimah.
"Maksud kamu bagaimana?" tanya Satya merasa bingung dengan ucapan Fatimah yang menurutnya terlalu baik.
"Biarkan saja Bik Husna mengambil semuanya, aku tidak mau pusing memikirkan perebutan harta itu, apa lagi jika kasusnya sampai ke pengadilan, aku ingin fokus menunggu proses persalinan anak kita, dan menjalani hidup dengan tenang tanpa harus berebut harta yang masih bisa di cari," jawaban yang mengejutkan kembali terdengar dari bibir Fatimah dan Satya hanya bisa mengikuti apa yang Fatimah inginkan, karena alasan yang diberikan oleh Fatimah memang masuk akal dan baik.
"Aku masih memiliki satu informasi lagi pengacara ibu menemuiku beberapa hari yang lalu dan memberitahuku jika Ibu sudah menyiapkan sebuah rumah beserta beberapa toko kelontong yang saat ini sedang dikelola oleh orang kepercayaannya, pengacara Ibu mengatakan jika semua aset itu atas namamu dan kamu bisa pergi ke sana hanya untuk sekedar mengunjungi ataupun tinggal," jelas Satya.
__ADS_1
"Kenapa kamu malah menangis, Sayang?" tanya Satya merasa heran dengan sikap Fatimah saat ini, dia terlihat pasrah dan ikhlas saat mendengar seluruh harta milik Ibu Halimah telah di ambil, sedang Fatimah langsung menangis Ketika dia tahu jika sang Ibu masih menyiapkan beberapa aset yang tidak di ketahui oleh siapapun, termasuk Bik Husna.
"Aku hanya terharu dengan apa yang telah Ibu lakukan untuk masa depanku, aku tidak pernah menyangka jika Ibu akan melakukan hal seperti itu, jika saja aku punya waktu sedikit lebih lama hidup di dunia ini bersama dengan Ibu, ingin rasanya aku membalas semua kebaikan yang dia berikan," tutur Fatimah.
Mendengar penuturan Fatimah membuat hati Satya luluh, dengan gerakan cepat Satya menarik pundak Fatimah dan memeluknya meletakkan kepala Fatimah tepat di dadanya, mencoba menyalurkan kekuatan untuknya, agar dia bisa lebih tegar menghadapi setiap ujian yang hadir dalam hidupnya.
"Aww, Mas sakit," rintih Fatimah sambil memegang perut.
__ADS_1
"Sayang, kamu kenapa?" sahut Satya yang langsung menegakkan badan mencoba menompang tubuh Fatimah yang hampir jatuh, melihat Fatimah kesakitan Satya langsung mengangkat tubuh Fatimah dan meletakkannya di atas sofa, saat ini keduanya memang sedang berada di ruang keluarga.
"Mama! tolong Satya," teriak Satya sekencang mungkin mencoba mencari bantuan.