
Mobil kembali melaju menuju rumah Mama Nia, meski keheningan menemani suasana di dalam mobil tapi rasa bahagia Mama Nia tetap mendominasi.
"Pa, sekarang Mama bisa masak," ujar Mama Nia penuh semangat dan percaya diri.
"Benarkah? Mama bisa masak apa?" sahut Papa Satya sambil tersenyum senang menatap ke arah Mama Nia Yang sedang bergelayut manja di pundaknya.
"Sejak beberapa Minggu yang lalu, dan aku bisa masak beberapa menu makanan," jawab Mama Nia yang tetap terlihat begitu bahagia, padahal sebenarnya Papa Satya sama sekali tidak perduli, Mama Nia bisa atau tidak memasak, dia akan tetap sayang dan cinta pada Mama Nia.
"Kalau begitu kamu bisa memaksa untukku? dan aku ingin makan masakanmu hari ini," sahut Papa Satya sambil mengusap lembut punggung tangan Mama Nia yang menggenggam erat tangan Papa Satya.
Fatimah yang sebenarnya sejak tadi mendengar apa saja yang dihafalkan oleh Mama Nia dan papa Satya merasa iri dan ingin memiliki hubungan seperti mereka, apa yang dia dengar baru saja sangat jauh berbeda dengan apa yang terjadi pada rumah tangganya, Satya memang sudah sah menjadi suaminya di dalam hukum Islam dan mata negara, tapi di kehidupan nyata Satya justru terlihat seperti seorang laki-laki asing yang sedang hidup bersama dengannya.
"Tapi, kamu belajar masak di mana?" sambung Papa Satya yang baru mengingat jika Nia sang istri mengalami trauma yang mengakibatkan dirinya takut Untuk mendekat ke arah dapur. Apa lagi sampai belajar memasak, dulu Mama Nia sangat takut jika harus berhadapan dengan kompor dan segala macam yang berhubungan dengan masak memasak.
"Aku akan memasak untukmu nanti," jawab Mama Nia dengan penuh semangat dia berucap.
Keduanya terlihat saling menggenggam tangan mencoba menyalurkan segala rasa sayang dan rindu yang bercampur jadi satu, rasa rindu yang tak bisa di ungkapkan dengan kata, tapi hanya bisa di tunjukkan dengan rasa dan sikap.
__ADS_1
"Fatimah!" panggil Mama Nia sesaat setelah sampai di dalam rumah, papa Satya dan Satya berjalan terlebih dahulu masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang keluarga.
"Iya ada apa, Ma?" Sakit Fatimah yang langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah mama Nia yang sedang berada di belakangnya.
"Nanti ajarin Mama membuat semur daging dan rendang, apa kamu bisa memasak dua menu itu?" Jawab Mama Nia yang memang ingin memasakkan menu kesukaan sang suami, meski dia tahu dengan pasti jika membuat rendang adalah hal yang paling rumit yang pernah dia tahu, tapi mama Nia yakin jika dia bisa membuatnya.
"Aku pasti akan mengajari Mama membuat rendang dan semur daging nanti," Fatimah yang memang pernah memasak rendang bersama dengan Umma bisa tersenyum dengan lega karena dia tahu bagaimana cara dan bumbu apa saja yang digunakan dalam menu masakan rendang itu, rendang adalah menu kesukaan Faris, karena itulah Fatimah bisa memasaknya, dulu Fatimah sering sekali membantu umma memasak rendang daging khusus untuk Faris.
"Kamu memang menantu yang paling bisa di andalkan," puji Mama Nia sambil memeluk sang menantu dengan penuh rasa sayang, sedang Fatimah hanya tersenyum bahagia mendapat perlakuan begitu baik dari sang Mama mertua.
"Kalian dari mana saja?" Tanya papa Satya saat melihat Fatimah dan mama Nia yang baru saja sampai di ruang keluarga dan bergabung bersama kedua orang pria yang sedang duduk berhadapan dan berbincang-bincang tentang bisnis, hal yang paling tidak disukai oleh Mama Nia.
"Kamu belum menjawabku dari mana kamu bisa belajar memasak, Sayang?" Papa Satya kembali bertanya karena tadi Mama Nia belum menjelaskan dan menjawab pertanyaannya.
"Kamu tahu pa? Menantu kita ini sangat pintar memasak dan masakannya itu sangat enak," Mama Nia kembali memuji Fatimah yang kini hanya tersenyum sambil menundukkan kepala di samping Satya.
"Benarkah?" sahut Papa Satya merasa terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar, di zaman seperti ini seorang gadis yang bisa memasak adalah seorang gadis yang masuk kategori gadis impian, semua itu terjadi karena zaman sekarang sangat jarang ada seorang gadis yang mau belajar atau bahkan bisa memasak, karena itulah Papa Satya merasa terkejut sekaligus bangga dengan apa yang baru saja dikatakan oleh sang istri, sungguh Satya akan menjadi laki-laki beruntung karena mendapatkan gadis secantik, sebaik dan sepintar Fatimah.
__ADS_1
"Tentu saja, mama tidak pernah berbohong pada papa, dan Papa harus tahu kalau mama belajar memasak itu dari Fatimah dan Fatimah juga yang menyadarkan Mama jika seorang wanita itu memang harus bisa memasak," ungkap Mama Nia.
Mendengar semua pujian yang diberikan oleh Mama Nia semakin membuat Satya sadar jika saat ini dia memang harus menerima keberadaan Fatimah dan mencintai dia sepenuh hati sebelum istrinya itu menyerah dan memutuskan untuk pergi meninggalkannya.
"Aku tidak sebaik itu Ma, aku juga mempunyai kekurangan yang mungkin mama, papa, dan Mas Satya belum ketahui," Fatimah yang tidak mau menjadi manusia sombong hanya karena sebuah pujian.
"Kamu selalu merendah, padahal sebenarnya dia memang gadis yang hampir mendekati sempurna," sahut Mama Nia yang cukup membuat Fatimah semakin takut karenanya.
Fatimah merasa semakin takut mendengar pujian Mama Nia karena dia tidak ingin menjadi sombong dan merasa menjadi manusia paling baik.
Mendengar pujian dari mama Nia membuat senyum di wajah Satya kini mulai terlihat, meskipun senyuman itu sangat tipis dan tak bisa dilihat jika kita tidak memperhatikannya, tapi setidaknya Satya terlihat bahagia dan penuh rasa syukur karena telah mendapatkan Fatimah sebagai istrinya.
"Kalau begitu lebih baik sekarang kita istirahat saja, dan nanti aku tunggu kamu sebelum jam makan siang di dapur ya Fatimah," sambung Mama Nia yang merasa jika papa dan dirinya juga yang lain butuh istirahat.
"Baiklah, kalau begitu aku akan pergi ke kantor sebentar. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan di sana,"pamit Satya yang memang telah memiliki janji dengan clien penting sebelum jam makan siang.
"Kenapa kamu masih tetap bekerja Satya? Bukankah mama sudah bilang jika saat ini kamu harus libur!" sahut Mama Nia yang merasa jika kedua putranya itu memang keterlaluan, masih saja sibuk dengan urusan masing-masing saat sang papa baru saja pulang setelah berminggu-minggu pergi jauh.
__ADS_1
"Aku harus menemui klien penting Ma, dan klien ini tidak bisa bertemu dengan wakilku, karena itulah aku mohon pada mama untuk mengerti, lagi pula aku hanya pergi sebentar dan akan kembali nanti sebelum makan malam," jujur Satya.
"Baiklah, jika memang itu sangat penting, mama bisa memaklumi," sahut mama yang langsung mengikuti langkah papa Satya lebih dulu pergi, sebagai seorang laki-laki papa Satya sangat mengerti dengan posisi putranya, karena itulah dia tidak banyak bicara dan memilih pergi agar sang istri juga segera menyusulnya dan tidak menyulitkan Satya lagi.