
"Saya Satya Tante, suami Fatimah," jawab Satya yang hendak menyalami tangan Ummah tapi Ummah yang memang tidak bisa bersentuhan dengan bukan mahromnya, maka Ummah hanya mengatupkan kedua tangan di dada sebagai tanda jika dia menghormati uluran tangan Satya.
"Kenapa dia tidak mau bersalaman denganku?" Satya kembali berbisik saat melihat Ummah tidak menanggapi uluran tangannya.
"Ummah tidak bisa bersentuhan dengan orang yang bukan mahromnya," Fatimah kembali menjelaskan sikap Ummah, meski dalam benaknya ada rasa sungkan yang terselip karena keduanya terus berbisik tapi Fatimah tak bisa berbuat banyak, karena dia masih merasa sungkan dan takut pada Satya.
"Apa kamu sudah bertemu dengan Zia?" Ummah kembali bertanya saat melihat Satya dan Fatimah hanya diam dengan senyum yang terlihat di wajahnya.
"Sudah, Ummah, tapi aku berjanji akan menemuinya lagi nanti," jawab Fatimah jujur.
"Kalau begitu, iku Ummah masuk ke rumah, sekalian kita makan siang bersama," ajak Ummah.
Fatimah dan keluarga Ummah memang cukup dekat, karena Zia yang senang berteman dengan Fatimah, keduanya bahkan sering menghabiskan waktu bersama, tak jarang pula Fatimah ikut makan dengan Ummah dan keluarganya ketika libur sekolah setelah membantu memasak di dapur ndalem.
"Baik, Ummah," jawab Fatimah yang tak pernah bisa menolak permintaan sang Ummah hingga saat ini.
"Kita mau ke mana?" pertanyaan yang muncul dari bibir Satya membuat langkah Ummah dan Satya terhenti.
"Kita akan pergi ke rumah Ummah untuk makan siang bersama di sana," jawab Fatimah.
"Oh, baiklah," sahut Satya yang kini berjalan di samping Fatimah mengikuti langkah Ummah yang kini berjalan di depan keduanya.
Ummah melangkah masuk ke dalam rumah dan membukakan pintu untuk kedua Tanu yang kini ada di belakangnya.
"Mbak!" panggil Ummah pada santri yang kebetulan lewat di depan rumah Ummah.
"Iya, Ummah," sahut santriwati yang baru saja lewat dengan satu kantong plastik berisi sayuran, sepertinya santri itu baru saja belanja.
"Tolong panggilkan Neng Zia!" titah Ummah yang selalu tersenyum dan jarang sekali terlihat marah, hingga rasanya sangat sulit melihat wajah marah Ummah.
"Baik, Ummah," jawab santri itu.
__ADS_1
"Masuklah!" titah Ummah dengan senyum yang merekah di wajahnya.
"Terima kasih Ummah," sahut Fatimah.
"Kamu duluan saja! aku harus mengambil ponsel di mobil sebentar." Pamit Satya yang memang mendapat pesan dari anak buahnya yang baru saja mengirim email ke ponsel yang lain Yang sengaja Satya tinggal di mobil.
"Bukankah Mas Satya sudah memegang ponsel?" ujar Fatimah saat melihat Satya sudah membawa satu buah ponsel di tangannya.
"Ini ponsel pribadi, dan aku harus lihat ponsel khusus yang biasa aku pakai untuk mengecek email dari anak buahku," Satya menjelaskan apa yang sebenarnya dia lakukan.
"Baiklah, aku masuk dulu." Fatimah yang tak ingin melarang atau bertanya terlalu dalam memilih untuk diam dan membiarkan Satya pergi.
"Mas Fariz," gumam Fatimah sesaat setelah dia masuk dan melihat Fariz tengah duduk di ujung ruang tamu, di ruang tamu Ummah memang ada sebuah mwja dan kursi lengkap dengan laptop dan printer, biasanya beberaoa santri kepercayaan mengunakannya untuk kepentingan pesantren tak jarang juga Fariz dan Zia juga menggunakannya untuk kepentingan pribadi mereka.
"Fatimah," spontan Fariz saat melihat Fatimah yang sebenarnya di sukai Fariz tapi tak hisa dia gapai datang ke pesantren.
"Loh, kalian sudah saling kenal?" tanya Ummah saat mendengar Fariz memanggil Fatimah.
"Sudah, Ummah," jawab Fariz sedang Fatimah hanya diam sambil menundukkan kepala merasa sungkan kepada sang Ummah.
"Emm," sahut Ummah yang hanya manggut-manggut mendengar jawaban Fariz.
"Duduklah! Ummah akan buatkan minum sebentar" Pakit Ummah.
"Tidak usah repot-repot Ummah," sahut Fatimah yang merasa semakin tak enak hati mendengar sang Ummah yang akan membuatkannya minum.
"Tidak apa-apa, lagi pula kamu tidak ke sini setiap hari," sahut Ummah sambil tersenyum ke arah Fatimah.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Fariz saat sang Ummah berjalan masuk ke dalam dapur.
"Baik, Mas Fariz bagaimana kabarnya?" jawab Fatimah seraya menanyakan kabar pujaan hati yang sekarang harus dia lupakan, Fatimah terus saja menunduk saat berbicara dengan Fariz, semua itu dia lakukan untuk menutupi raaa gugup yang selalu dia rasakan setiap kali Fatimah bertemu dengan Fariz.
__ADS_1
"Selamat ya atas pernikahanmu," seru Fariz dengan senyum manis yang semakin membuatnya terlihat tampan.
"Terima kasih Mas Fariz," jawab Fatimah yang kini masih saja menundukkan kepala.
"Khem," suara deheman Satya mengejutkan Fariz dan Fatimah yang kini sedang duduk berhadapan di ruang tamu.
"Mas Satya," lirih Fatimah yang kini langsung menoleh Satya yang menatap penuh rasa benci ke arah keduanya.
"Maaf kalau kedatanganku tidak tepat, kalian bisa lanjutkan reuninya! aku akan tunggu kalian di luar," ujar Satya yang kini berjalan hendak pergi meninggalkan keduanya.
"Mas Satya mau ke mana?" sela Fatimah yang langsung berdiri meraih tangan Satya, dia mencoba menahan Satya agar tidak pergi.
"Bukankah aku akan mengganggu kaloan jika tetap ada di sini," ujar Satya yang kini merubah ekspresi yang tadinya dia menatap tidak suka pada Fatimah dan Fariz, kini Satya menatap remeh ke arah keduanya.
Suasana yang tadinya tenang berubah menhadi sedikit tegang setelah kehadiran Satya.
"Maaf, Ummah agak lama, tadi Ummah sekalian bantu Mbak di dapur menata makanan untuk kita," suara Ummah memecahkan keheningan yang terjadi.
"Lebih haik sekarang kita langsung masuk makan siang dulu!" ajak Ummah.
"Ayo masuk! kita makan bersama," sebagai pemilik rumah Fariz harus tetap bersikap sabar dan biasa saja, meski tatapan Satya tidak menyenangkan hati.
Fatimah tersenyum menanggapi ucapan kedua orang yang pernah menjadi orang berarti dalam hidupnya, begitu juga dengan Satya yang hanya bisa diam tapi tetap mengikuti langkah Fatimah masuk ke dalam rumah.
"Mbak Fatimah! kenapa tidak manggil aku?" suara Zia mengejutkan Fatimah yang tengah berjalan mengikuti langkah Ummah.
"Zia, maaf," sahut Fatimah.
Zia yang memang sedang menunggu Fatimah dan merindukannya langsung merangkul pundak Fatimah tanpa memperdulikan Satya yang berada tidak jauh dari Fatimah.
"Zia! jangan seperti itu! lepaskan Mbak Fatimah!" titah Ummah yang mengerti jika sikap kekanak-kanakan Fatimah bisa merugikan Satya yang koni sudah menjadi suami Fatimah.
__ADS_1
Mendengar perintah sang Ibu, Zia langsung melepas rangkulannya dan memilih duduk di samping Fatimah tapi di sisi lain selain di samping Fatimah yang di tempati Satya.