
Dengan penuh semangat Zia bersiap untuk pergi bersama sang kakak Fariz.
"Kak antar aku ke tempat mie ayam yang ada di ujung jalan sana ya." Pinta Zia dan ekspresi penuh semangat dia menunjuk ke arah jalan raya yang biasa dia lewati.
"Pakai sabuk pengamanmu!" Titah Faris yang tak ingin terjadi sesuatu pada adik kesayangannya itu.
"Siap kakakku yang tampan," jawab Zia yang terlihat penuh semangat ia mengikuti perintah sang kakak.
Mobil melaju melewati jalan yang biasa memang dilewati oleh Zia dan Fariz, hingga sampailah mobil itu di sebuah kedai mie ayam di mana tempat yang paling Zia sukai.
"Ayo turun!" Ajak Faris yang melihat adiknya justru dia mematung menatap kedai mie ayam yang terlihat begitu ramai dan antri oleh pembeli.
Hari ini memang bukan jam sarapan ataupun makan siang dan makan malam, tapi kedai mie ayam ini selalu saja ramai dikunjungi oleh para pembeli apalagi di jam sekarang, jam di mana kebanyakan orang kembali merasa lapar setelah makan malam.
"Kenapa ramai sekali, Kak?" Tanya Zia dengan ekspresi wajah dan heran dia bertanya.
"Kalau sepi itu kuburan Ze, kamu jadi mau makan di sini atau enggak?" Faris yang hendak membuka pintu mobil kini urung setelah mendengar pertanyaan dari Zia.
"Jadilah Kak, sudah susah payah sampai di sini masak gak jadi," jawab Zia yang terlihat nekat untuk terus makan mie ayam meski kedainya terlihat begitu ramai dengan pembeli, sejak tadi Zia bersusah payah membujuk sang Kakak untuk mengantarnya makan mie ayam, hanya karena antri harus kembali, itu adalah hal yang sangat tidak mungkin di lakukan oleh Zia.
"Kalau jadi ayo turun!" seru Fariz yang terlihat gemas dengan sikap sang adik.
Faris sadar dengan posisinya sebagai kakak, sudah sepantasnya Faris meladeni kemanjaan yang ditunjukkan oleh Zia, meski adik kecilnya itu terlihat sangat keras kepala dan susah diatur, tapi Zia adalah tipe gadis yang memiliki pendirian tinggi, dia selalu mengerti dengan posisinya sebagai Putri seorang kyai yang memiliki pesantren, ziah selalu punya batasan-batasan sendiri dalam pergaulan sehingga dia bisa menjaga nama baik pesantren juga kedua orang tuanya, karena itulah Faris selalu menuruti setiap hal yang diinginkan oleh Zia selama dia bisa mewujudkannya.
Masih dengan semangat yang sama Zia berjalan keluar dari mobil menuju kedai mie ayam yang masih terlihat ramai.
__ADS_1
"Tunggu Kakak di sebelah sana!" titah Fariz yang kini memilih antri agar adik kesayangannya itu bisa makan tanpa harus lelah antri terlalu lama.
"Siap Kakak," jawab Zia dengan senyum yang terlihat begitu manis, sungguh Fariz adalah kakak terbaik sepanjang hidup Zia.
Seutas senyum sebagai balasan terlihat di wajah Fariz yang langsung pergi meninggalkan Zia untuk ikut mengantri sedang Zia sekarang duduk di kursi yang ada di pojok ruangan.
"Maaf, tempatnya penuh, apa aku boleh ikut duduk di sini?" tanya seorang laki-laki yang baru saja datang dengan satu mangkok mie ayam dan satu gelas jus jeruk yang kini ada di tangannya.
"Eh,~" Zia yang bingung dengan apa yang di minta laki-laki yang bahkan belum pernah di temui oleh Zia.
"Maaf, apa saya boleh gabung di sini?" sekali lagi laki-laki berperawakan tinggi dan berkulit putih yang kini menunggu jawaban dari Zia, apa dia mendapat izin atau tidak untuk duduk di meja yang sama dengan Zia, konsep kedai yang saat ini di datangi Zia memang seperti lesehan.
"Silahkan," jawab Zia yang tidak mungkin menolak ataupun melarang sesama pembeli untuk duduk.
"Terima kasih," ucap sang laki-laki.
"Aku baru datang dan Kakakku masih antri untuk mendapatkan mie ayamnya," jujur Zia.
"Bagaimana kalau kamu makan punyaku dulu? rasanya tidak etis jika aku makan sendiri sedang kamu hanya diam di situ," laki-laki di hadapan Zia terlihat sok akrab dan perhatian, tapi Zia yang kebal dengan gombalan seorang laki-laki yang seperti dia hanya tersenyum datar.
"Santai saja! aku tidak akan mengganggu Mbak, tapi sebelum itu perkenalkan aku Satria," laki-laki yang harusnya pendiam sangat berbeda dengan laki-laki sok akrab di hadapannya.
"Makan saja! tidak perlu memperdulikan aku! santai saja!" jawab Zia dengan ekspresi cuwek seolah tak peduli meskipun sebenarnya Zia ingin segera menikmati semangkuk mie ayam itu, tapi dia tidak mengatakannya.
"Baiklah, kalau begitu aku makan dulu." Ujar Satria yang memang sejak tadi lama mengantri dan gilirannya makan malah tempat untuk makannya tidak ada, semuanya hampir penuh dengan pengunjung, hanya di tempat Zia yang terlihat begitu longgar karena dia sendirian, sebagian besar orang yang datang bersama keluarganya atau teman-temannya, karena itulah kedai ini selalu ramai dengan pengunjung.
__ADS_1
"Iya, silahkan!" sahut Zia yang kini memilih untuk menatap ponsel pintar yang ada di tangannya.
'Zia duduk sama siapa?' batin Fariz yang melihat sang adik yang seharusnya sendirian tapi malah bersama dengan seorang laki-laki yang tidak di kenal oleh Fariz.
Fariz semakin mempercepat langkahnya mendekat ke arah Zia dan memilih langsung duduk di samping Zia.
"Dia siapa?" tanya Fariz sesaat setelah dia duduk di samping Zia.
Zia yang mendapat satu mangkok mie ayam yang sejak tadi di tunggu lebih memilih menyantapnya dan tak menjawab pertanyaan Fariz yang menurutnya tidak penting.
"Kamu siapa?" Fariz yang sangat mengerti dengan sikap asli Zia memilih untuk bertanya sendiri dari pada menunggu jawaban dari Zia yang pasti tidak akan dia dapatkan.
"Maaf kalau keberadaanku mengganggu, namaku Satria, tadi aku hanya numpang duduk di sini karena di tempat lain sudah penuh," jelas Fariz.
"Oh," sahut Fariz singkat.
"Aku Fariz, dan anda?" Satria yang memang ramah dan memiliki banyak teman mengajak Fariz berkenalan, bagi Satria semakin banyak teman maka akan semakin mempermudah segalanya.
"Aku Fariz," sahut Fariz yang langsung menjabat tangan Satria.
Keduanya mengobrol mulai dari hal serius hingga bercanda, Satria yang memang mudah akrab dengan orang sangat mudah mengobrol bersama Fariz, keduanya terlihat cukup akrab hingga meski baru saja bertemu.
"Mas Fariz, aku duluan ya." Pamit Satria sebelum dia pulang.
"Ya sudah, hati-hati!" sahut Fariz.
__ADS_1
Fariz merasa nyaman mengobrol dengan Satria karena orangnya baik dan nyambung di ajak ngomong, dan Fariz bersyukur bisa kenal dengan Satria begitu pula sebaliknya.