
"Non Fatimah!" panggil Bibik saat Fatimah tak kunjung kembali, dia malah melamun di tepi kolam.
"Iya, ada apa Bik?" sahut Fatimah.
"Di panggil Den Satya," jawab Bibik.
"Bik, tolong bereskan piringnya ya." Pinta Fatimah sebelum dia pergi meninggalkan kolam.
"Siap, Non," sanggup sang Bibik yang langsung membersihkan peralatan makan Fatimah yang ada di samping kolam.
Fatimah berjalan masuk ke dalam kamar menemui Satya yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Kenapa kamu lama sekali? dari mana saja?" tanya Satya, sejak pulang tadi sebenarnya Satya menunggu Fatimah yang tak kunjung datang.
"Aku baru selesai makan, memangnya ada apa?" Fatimah menjawab pertanyaan Satya dengan pertanyaan.
"Makan sendiri tanpa memikirkan suami, apa itu yang namanya istri soleha? santri kok gak ngerti bagaimana cara jadi istri yang soleha," gerutu Satya yang sengaja memancing emosi Fatimah.
"Mas Satya mau makan? kalau Mas Satya mau makan biar aku siapkan, kalau Mas Satya minta di temenin aku bisa makan lagi buat nemenin Mas Satya makan," ujar Fatimah sambil tersenyum manis ke arah Satya, tapi hatinya tengah cenat cenut merasa emosi dan ingin meluapkan emosinya itu saat ini.
"Aku mau makan, siapkan sekarang!" titah Satya.
"Mas Satya mau makan semur daging yang sudah di masak Bibik atau mau makan menu yang lain?" tawar Fatimah yang tak ingin Satya meminta menu lain setelah dirinya menyiapkan semuanya.
"Buatkan aku soto!" titah Satya.
"Baiklah, tunggu sebentar!" jawab Fatimah.
'Hah, dia minta soto, kenapa harus soto?' gerutu Fatimah mengingat soto adalah menu makanan yang tergolong rumit untuk di kerjakan.
"Bik," panggil Fatimah sesaat setelah dia sampai di dapur.
__ADS_1
"Ada apa, Non?" sahut Bibik.
"Bik, aku mau masak soto. Apa bahan-bahannya masih ada?" tanya Fatimah yang tidak mengerti dengan stok bahan masaka di rumahnya, selama ini Fatimah tidak pernah mengurusi urusan dapur meski dia bisa masak tapi urusan dapur dan semua bahan yang di perlukan di sana menjadi urusan Bibik.
"Sepertinya masih ada Non," jawab Bibik, dia langsung berjalan mendekat ke arah kulkas di mana biasanya dia menyimpan makanan.
"Bik, tolong bantu Fatimah membuat soto ya," pinta Fatimah.
"Siap, Non," jawab Bibik bergerak mengambil bahan yang di perlukan untuk memasak soto.
Meski sikap dan ucapan Satya masih kurang baik pada Fatimah, tapi dia tidak menyerah untuk melakukan yabg terbaik, menjalankan semua kewajiban seorang istri selama dia mampu.
"Syukurlah selesai juga, ternyata masak sendiri cukup menguras tenaga," lirih Fatimah setelah menyelesaikan masakannya.
Tadi Bibik memang membantunya, tapi setelah mendapat panggilan dari Ibu Halimah Bibik meninggalkan Fatimah untuk meyelesaikan sendiri masakannya.
"Mas," panggil Fatimah.
Satya terlelap setelah menyelesaikan pekerjaannya, rasa lelah karena sejak pagi dia harus menatap layar laptop dan berhenti sejenak saat menemui Fatimah di tokoh buku membuatnya terlelap tanpa dia sadari, Satya terlelap dengan posisi duduk di sofa dan laptop yang masih menyala.
"Makanannya sudah siap, Mas Satya mau makan di sini atau di ruang makan?" tawar Fatimah.
"Tunggu sebentar!" sahut Satya seraya berjalan menuju kamar mandi.
Satya termasuk irang yang selalu menjaga kebersihan, setelah bangun dari tidur, baik itu tidur malam atau ketiduran karena terlalu lelah dia akan tetap pergi ke kamar mandi untuk membrsihkan diri. Minimal mencuci mukanya sebelum pergi.
"Temani aku makan!" titah Satya sesaat setelah keluar dari kamar mandi dan menutup laptop yang tadi masih menyala.
Fatimah tak menjawab perintah Satya, dia berjalan mengikuti langkah pria asing yang kini sudah menjadi suaminya itu.
"Apa segini cukup?" tanya Fatimah sambil menunjukkan satu porsi nasi yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Sudah cukup," jawab Satya seraya mengambil alih piring yang ada di tangan Fatimah.
"Kenapa kamu tidak makan?" tanya Satya saat melihat Fatimah kembali duduk manis di sampingnya tanpa mengambil makanan.
"Aku baru saja selesai makan, Mas," jujur Fatimah, dia memang baru saja menghabiskan satu porsi nasi dengan semur daging yang Bibik masakkan.
"Bukankah kamu bilang kalau kamu mau temani aku makan?" ujar Satya.
"Iya, ini aku sedang temani kamu makan," jawab Fatimah.
"Tapi kamu tidak makan, buat apa jika hanya duduk diam di hadapanmu? kamu bukan boneka yang sedang aku pajang di situ, makanlah! atau lebih baik aku makan di luar saja?" tegas Satya dengan nada dan ekspresi serius dia berucap.
'Kenapa Satya suka sekali memaksa, lagi pula aku baru saja majan, kenapa di suruh makan lagi? apa dia sengaja melakukannya karena tadi aku makan sendiri dan rak memperdulikannya?' batin Fatimah.
Fatimah tak pernah berani untuk mengungkapkan semua rasa sakit dan perasaan aneh yang ada dalam dirinya, dia hanya mampu membatin tanpa suara.
"Aku menyuruhmu mskan Fayimah, bukan malah diam melamun seperti itu," sekali lagi suara Satya mengejutkan Fatimah yang sedang melamun memikirkan setiap hal yang sudah terjadi.
"Maaf," lirih Fatimah, mengalah adalah hal paling baik dan satu-satunya hal yang bisa Fatimah lakukan, dia masih takut jntuk melawan sang suami yang memang harus dia taati, sebisa mungkin Fatimah mencoba berfikir positif, mungkin saja Satya menyuruhnya makan karena dia tidak ingin melihat dirinya sakit, atau mungkin Satya sengaja menyuruhnya makan karena dia tahu memasak soto yang dia inginkan membutuhkan waktu yang cukup lama, dan juga menguras tenaga.
Seiring dengan keputusannya untuk mengalah memaksa Fatimah untuk makan lagi, kali ini Fatimah mengambil makanan dengan porsi yang sedikit, semua itu dia lakukan agar dia bisa menghabiskan makanan yang dia ambil.
Fatimah dan Satya kembali masuk ke dalam kamar setelah menyelesaikan makan dan membersihkannya. Tanpa di duga Satya yang sejak tadi memakai celana panjang dan kaos langsung membukanya dan menyisakan boxer pendek. Fatimah yang baru melihat pemandangan yang tak pernah dia lihat langsung menutup mata dan berbalik, jantungnya berdetak begitu kencang, ada rasa takut bercampir penasaran yang kini menjalar ke dalam dirinya, pasalny tubuh Satya terlihat begotu sempurna dengan perut yang berbentuk kotak-kotsk.
Jika Fatimah reflek berbalik sambil memejamkan mata, maka berbeda dengan Satya yang justru tersenyum licik ke arah Fatimah, melihat reaksi Fatimah membuat ide cemerlang muncul dalam diri Satya.
"Fatimah!" panggil Satya.
"Iya," jawsb Fatimah.
"Aku lelah, pijit punggungku!" titah Satya.
__ADS_1
"Hah? apa?" sahut Fatimah yang terkejut mendengar perintah Satya.
"Pijit punggungku!" Satya mengulang perintah yang baru saja dia ucapkan pada Fatimah yang justru terkejut karenanya.