
Fatimah merapikan semua barang miliknya, tempat baru terasa begitu asing, tapi ini bukan pertama kalinya Fatimah pergi ke tempat baru, dulu dia juga pernah merasakan hal yang sama, saat pertama kali masuk pesantren.
'Memulai dari awal adalah hal tersulit yang pernah aku lewati, ini bukan pertama kalinya Fatimah, kamu pasti bisa,' batin Fatimah menyemangati dirinya sendiri, baginya ini memang sangat sulit, tapi bagaimanapun dia sudah pernah berada di posisi sekarang, dan tidak mungkin Fatimah mundur ataupun menyerah, dia akan tetap bertahan dan terus menjalankan hidup ini sebaik mungkin apapun yang terjadi.
"Apa semuanya sudah beres?" tanya Satya saat melihat Fatimah sudah selesai meletakkan semua barangnya.
"Sudah, Mas," jawab Fatimah singkat.
"Jika semuanya sudah selesai pergilah ke ruang makan!" titah Satya sebelum dia keluar dari kamar.
"Baik, Mas," sahut Fatimah.
"Satya, apa kamu memesan makanan?" tanya Mama Satya seraya membawa beberapa bungkus makanan di tangannya.
"Iya, aku sengaja memesannya untuk makan malam kita," jawab Satya yang langsung berjalan menuju meja makan yang ada di ruang makan.
"Banyak sekali makanannya," seru Ibu Halimah yang melihat beberapa menjadi yang ada di atas meja makan.
"Ini tidak seberapa, tidak sebanding dengan apa yang Ibu dan Mama berikan," sahut Satya sambil meletakkan beberapa menu lauk pauk untuk Satya dan keluarganya.
"Kapan kamu masak nasi Satya?" kali ini Mana Satya yang bertanya.
"Aku memasaknya saat kalian masih sibuk membersihkan ruangan tadi.
" Sayang, ayo makan dulu!" ajak Satya saat melihat Fatimah yang baru saja keluar dari kamar.
__ADS_1
Dalam apartemen Satya terdapat dua kamar, satu kamar utama dan satu kamar berukuran kecil, satu dapur yang bergabung dengan ruang makan, satu ruang tamu dan ruang keluarga kecil, ukuran apartemennya cukup luas, dan Fatimah yakin jika harga apartemen yang ditempatinya saat ini memiliki harga yang sangat mahal.
"Kamu dapat dari mana semua makanan ini?" tanya Fatimah merasa heran dengan banyaknya makanan yang ada di hadapannya saat ini.
"Aku pesan dari luar, makanlah! aku yakin kamu pasti lapar," ujar Satya dengan senyum manis yang bisa di pastikan tidak akan terlihat jika mereka sedang berdua saja.
Tanpa banyak bicara Fatimah berjalan mendekat kemudian makan bersama, semua anggota keluarga makan dengan lahapnya hingga semua menu yang ada di atas meja tandas tak tersisa.
"Mama sudah mengisi lemari es dengan berbagai bahan masakan, jika kamu bingung mau masak apa, Mama juga menaruh resep makanan di atas lemari es, untuk satu minggu ini kamu tidak usah membeli bahan untuk memasak lagi, semuanya sudah siap tinggal di eksekusi," jelas Mama Satya yang cukup membuat Fatimah terkejut dengan apa yang baru saja di katakan oleh Mama Satya.
"Apa kamu mendengar ucapan Mama, Fatimah?" tanya Mama Satya saat melihat Fatimah hanya diam tak menjawab ucapannya.
"Eh? iya Ma," sahut Fatimah.
"Jeng, saya pamit pulang dulu, kapan-kapan jangan lupa main ke rumah ya Fatimah, kamu belum pernah ke rumah," pesan Mama Satya sebelum pergi.
"Iya, Mas," jawab Fatimah singkat.
Sejak pertama kali Fatimah menikah, dia belum pernah sekalipun pergi atau tahu di mana rumah Satya, dia yang memang baru bertemu dengan Satya begitu pula dia baru bertemu dengan keluarga Satya, meski begitu sikap Mama Satya seperti seseorang yang sudah saling mengenal sebelumnya, bahkan Mama Satya lebih banyak berbicara dengan Fatimah dari pada dengan Satya.
"Fatimah, Ibu ingin berbicara empat mata denganmu," ujar Ibu Halimah yang di dengar oleh Satya yang hanya diam di belakang keduanya sejak sang Mama berpamitan.
"Aku akan pergi memesan air mineral untuk kita minum dan membeli beberapa camilan di supermarket, Ibu dan Fatimah busa berbicara di ruang tamu," sela Satya yang mengerti dengan maksud ucapan sang Ibu mertua.
"Terima kasih sudah memberi Ibu waktu untuk berbicara bersama Fatimah," ujar ibu Halimah sebelum Satya pergi.
__ADS_1
"Ibu tidak perlu sungkan, sejak saya menikah, maka sejak itu Ibu bukan hanya menjadi Ibu Fatimah tapi juga Ibuku," ujar Satya dengan manis yang membuat Ibu Halimah merasa tenang.
Ibu Halimah membalas ucapan Satya dengan senyuman yang tak kalah manis.
Dengan senyum yang di tampilkan oleh Satya yang kini mencium punggung tangan Ibu Halimah sebelum keluar dari apartemen.
"Nak, ikut Ibu! ada yang ingin Ibu bicarakan," ajak Ibu Halimah seraya meraih tangan sang putri yang kini berasa di sampingnya.
"Ada apa, Bu?" tanya Fatimah sesaat setelah Fatimah dan sang Ibu duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
"Nak, sebenarnya bagaimana keadaanmu? Ibu tidak bisa kau bohongi dengan kata-kata, coba ceritakan yang sebenarnya! apa kamu bahagia dengan pernikahanmu ini?" Ibu Halah bertanya dengan nada serius.
Tadi saat pindahan rumah Bibik Husna tidak ikut mengantar dengan alasan masih sangat lelah setelah menempuh perjalanan cukup jauh, dia akan datang di lain hari, karena itulah Ibu Fatimah bisa bertanya tentang keadaan Fatimah yang sebenarnya, biasanya Bibik Husna akan menghasut Ibu Halimah agar tidak berfikir macam-macam.
Sejenak Fatimah terdiam memikirkan jawaban yang tepat untuk sang Ibu agar dia tidak kepikiran dan jawaban Fatimah tidak membuat kesehatan sang Ibu menurun.
"Aku bahagia Bu, tenang saja! aku baik-baik saja, Ibu tidak perlu khawatir atau berfikir macam-macam tentang keadaanku, yang harus Ibu tahu saat ini Fatimah sabgat menyayangi Ibu, dan Fatimah ingin Jbus egera sembuh seperti dulu," jawaban yang seratus delapan puluh persen bohong, Fatimah yang tahu jika sang Ibu masih belum sembuh sepenuhnya, karena itulah Fatimah memilih berbohong agar sang Ibu bisa sehat dan tidak memikirkan apa yang terjadi padanya.
"Apa kamu serius, Nak?" sekali lagi Ibu Halimah mencoba meyakinkan diri jika jawaban Fatimah adalah jawaban yang paling benar.
"Tentu saja aku serius Ibu, untuk apa aku berbohong padamu? aku bahagia dan Mas Satya sangat baik padaku," Fatimah yang mengerti jika sang Ibu pasti merasakan sesuatu yang dia rasakan mencoba meyakinkannya agar Ibu nya percaya dengan apa yang baru saja dia katakan.
"Ibu melihat kamu banyak berubah, kamu sering diam dan melamun, sebenarnya apa yang kamu fikirkan, Nak?" Ibu Halimah kembali bertanya.
"Aku hanya merasa terkejut dengan semua keadaan ini Bu, aku juga sedang menyesuaikan diri dengan keadaan yang terjadi, pernikahan ini terlalu mendadak untukku, karena itulah aku butuh waktu unyuk membiasakan diri hidup bersama orang yang bahkan baru aku temui," Fatimah kembalj mencari jawaban yang menurutnya paling pas dan dapat di percaya.
__ADS_1