Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Kenapa Kamu menatapku?


__ADS_3

Satu masalah terlewati, kini Fatimah merasa begitu senang dan lega karena dia yakin jika Farah tidak akan pernah kembali untuk mengganggu rumah tangganya lagi sekarang tinggal mengurus perasaan Fatimah dan Satya agar keduanya bisa saling menyukai dan mencintai.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" Tanya Satya saat melihat Fatimah menatapnya dengan tatapan yang tak terbaca.


"Jika sejak awal kamu akan melakukan hal seperti tadi kenapa kamu tidak bilang terlebih dulu padaku?" Fatimah menjawab pertanyaan saat ya dengan sebuah pertanyaan yang sejak tadi menguasai pikirannya.


"Melakukan hal apa maksudmu?" saat dia sangat mengerti dengan pertanyaan yang dikatakan oleh Fatimah hanya saja dia ingin tahu bagaimana Fatimah menjelaskan apa yang dia masih jadi pertanyaan yang baru saja dia katakan.


"Aku tidak mengatakannya karena kamu tidak bertanya sebelumnya," jawaban simpel, singkat, dan jelas tapi sangat menjengkelkan keluar dari bibir Satya, tapi meski ucapan saat ya terdengar begitu menjengkelkan tak mengubah rasa senang yang kini dirasakan oleh Fatimah.


Fatimah tidak peduli lagi dengan ucapan dingin yang selalu keluar dari bibir saat ya, yang dia tahu saat ini adalah Satya adalah laki-laki setia dan dapat dipercaya meskipun dia tidak bisa menjadi laki-laki romantis dan penyayang juga tidak bisa menjadi suami sempurna seperti yang diidam-idamkannya tapi setidaknya Satya laki-laki yang cukup bisa dipercaya.


"Jangan senyum-senyum terus! Bereskan semua minuman ini dan siapkan aku air untuk mandi!" Kita Satya yang merasa risih karena Fatimah terus saja menatapnya dengan tatapan yang masih belum bisa diartikan olehnya.


Sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Satya, Fatimah berjalan meninggalkan ruang tamu dan melaksanakan semua yang diperintahkan oleh Satya, membersihkan sisa minum, menyiapkan air untuk Satya agar dia bisa mandi.


"Mas, airnya sudah siap," ucap Fatimah.


Satya yang tengah serius menatap kiriman email dari anak buahnya, kini mulai mengalihkan pandangan dan perhatiannya menoleh ke arah Fatimah.

__ADS_1


"Terima kasih," sahut Satya yang langsung berdiri dan melanggar pergi masuk ke dalam kamar mandi.


'sejak kapan mas Satya bisa mengucapkan kata terima kasih?' mesin Fatimah yang merasa aneh dengan kata terima kasih yang baru saja dikatakan oleh Satya, karena sejak keduanya menikah Fatimah jarang sekali bahkan hampir tidak pernah terdengar dari bibir manis Satya.


Meski Fatimah jarang sekali mendengar kata terima kasih dari bibir Satya, tapi dia tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang istri, tanpa diminta ataupun diperintahkan Fatimah langsung menyiapkan baju ganti untuk Satya dan mengambilkan handuk untuknya.


Satu masalah terlewati, kini Fatimah merasa begitu senang dan lega karena dia yakin jika Farah tidak akan pernah kembali untuk mengganggu rumah tangganya lagi sekarang tinggal mengurus perasaan Fatimah dan Satya agar keduanya bisa saling menyukai dan mencintai.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" Tanya Satya saat melihat Fatimah menatapnya dengan tatapan yang tak terbaca.


"Jika sejak awal kamu akan melakukan hal seperti tadi kenapa kamu tidak bilang terlebih dulu padaku?" Fatimah menjawab pertanyaan saat ya dengan sebuah pertanyaan yang sejak tadi menguasai pikirannya.


"Melakukan hal apa maksudmu?" saat dia sangat mengerti dengan pertanyaan yang dikatakan oleh Fatimah hanya saja dia ingin tahu bagaimana Fatimah menjelaskan apa yang dia masih jadi pertanyaan yang baru saja dia katakan.


"Aku tidak mengatakannya karena kamu tidak bertanya sebelumnya," jawaban simpel, singkat, dan jelas tapi sangat menjengkelkan keluar dari bibir Satya, tapi meski ucapan saat ya terdengar begitu menjengkelkan tak mengubah rasa senang yang kini dirasakan oleh Fatimah.


Fatimah tidak peduli lagi dengan ucapan dingin yang selalu keluar dari bibir saat ya, yang dia tahu saat ini adalah Satya adalah laki-laki setia dan dapat dipercaya meskipun dia tidak bisa menjadi laki-laki romantis dan penyayang juga tidak bisa menjadi suami sempurna seperti yang diidam-idamkannya tapi setidaknya Satya laki-laki yang cukup bisa dipercaya.


"Jangan senyum-senyum terus! Bereskan semua minuman ini dan siapkan aku air untuk mandi!" Kita Satya yang merasa risih karena Fatimah terus saja menatapnya dengan tatapan yang masih belum bisa diartikan olehnya.

__ADS_1


Sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Satya, Fatimah berjalan meninggalkan ruang tamu dan melaksanakan semua yang diperintahkan oleh Satya, membersihkan sisa minum, menyiapkan air untuk Satya agar dia bisa mandi.


"Mas, airnya sudah siap," ucap Fatimah.


Satya yang tengah serius menatap kiriman email dari anak buahnya, kini mulai mengalihkan pandangan dan perhatiannya menoleh ke arah Fatimah.


"Terima kasih," sahut Satya yang langsung berdiri dan melanggar pergi masuk ke dalam kamar mandi.


'sejak kapan mas Satya bisa mengucapkan kata terima kasih?' mesin Fatimah yang merasa aneh dengan kata terima kasih yang baru saja dikatakan oleh Satya, karena sejak keduanya menikah Fatimah jarang sekali bahkan hampir tidak pernah terdengar dari bibir manis Satya.


Meski Fatimah jarang sekali mendengar kata terima kasih dari bibir Satya, tapi dia tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang istri, tanpa diminta ataupun diperintahkan Fatimah langsung menyiapkan baju ganti untuk Satya dan mengambilkan handuk untuknya.


Hari semakin sore kini mentari mulai kembali ke peraduan yang berarti jika hari tengah malam, sejak sore Fatimah sibuk memasak untuknya dan Satya, dia merasa beberapa menu makanan yang menurutnya disukai oleh Satya, tak lupa juga Fatimah membuatkan soto ayam yang pernah diminta oleh Satya beberapa hari yang lalu.


"Mas Satya, makanannya sudah siap," tutur Fatimah setelah dia merasa jika semua menu yang akan disiapkan sudah selesai dan tertata rapi di atas meja makan.


Kali ini Satya terlihat lebih santai dari biasanya, dia duduk di Sofa ruang tamu dan nonton televisi, meskipun yang dia tonton adalah siaran berita, cari baju Fatimah apa yang dilakukan saat dia saat ini cukup santai dari pada hari biasanya di mana saatnya selalu serius menatap laptop ataupun ponsel pintarnya.


Seperti biasa, Satya tidak menyahuti ucapan Fatimah, tapi dia memilih langsung berjalan menuju ruang makan yang menyatu dengan tempat makan.

__ADS_1


__ADS_2