Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Rumah Baru


__ADS_3

Mobil terus aja maju menyusuri jalan raya yang terlihat begitu langgeng hari ini, hingga sampailah di sebuah pekarangan luas dengan rumah yang mewah dan pagar besi yang menjulang tinggi menunjukkan betapa kaya pemilik rumah itu.


"Apa ini rumah yang Mas Satya maksud?" Tanya Fatimah saat melihat Satya menelepon seseorang dan berhenti tepat di depan gerbang rumah mewah itu.


"Iya," jawab saja enteng dan biasa saja.


"Mas, ini bukan rumah," contoh Fatimah seraya menatap dengan penuh rasa kagum ke arah rumah yang memang berdiri megah bak istana di hadapannya.


"Jika ini bukan rumah kamu fikir apa? Penjara? Atau museum? Atau jangan-jangan kamu mengira rumah di depan kita itu tempat rekreasi?" Jawab saat yang merasa lucu dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Fatimah, rumah yang Satya siapkan memang jauh lebih baik daripada rumah milik kedua orang tuanya, meski begitu Satya tidak pernah merasa sombong ataupun berbesar hati atau bahkan meninggikan dirinya sendiri saat bersama dengan Fatimah.


"Isshh, aku hanya bertanya kenapa jawabannya seperti itu?" Keluh Fatimah saat mendapat jawaban menohok dari Satya.


Mendengar keluhan Fatimah membuat satya yang sadar jika ucapannya mungkin saja melukai hati Fatimah, dan entah sejak kapan Satya mulai memperdulikan apa yang baru saja dia katakan padahal sebelumnya dia tidak pernah peduli dengan perkataannya sendiri sekalipun perkataannya itu bisa melukai hati orang yang diajak bicara.


Saat yang menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya pelan mencoba menyadarkan dirinya sendiri akan ucapan yang memang terdengar sedikit menyakitkan hati, "Itu memang rumahku Fatimah, dan itu artinya kamu juga berhak atas rumah itu, jadi bisa disimpulkan jika itu adalah rumahmu dan rumahku atau bisa dikatakan rumah kita," jelas Satya dengan senyum yang terlihat tulus dan manis di wajahnya.


'Kenapa jantungku berdebar begitu kencang saat Mas Satya mengatakan kalau rumah itu juga menjadi milikku,' batin Fatimah merasakan sesuatu yang aneh menjalar ke dalam hatinya.


"Fyuuuh," melihat Fatimah yang melamun dan dia membantu membuat jiwa jail Satya meronta dan ingin menjauhi istrinya itu, dan dengan sekejap saja Satya meniup wajah Fatimah.


"Astaghfirullah," spontan Fatimah yang merasakan tiupan angin menerpa wajahnya, angin aneh yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.


"Turun! Kita sudah sampai kenapa kamu malah melamun bukannya langsung turun Fatimah," ujar Satya saat melihat Fatimah masih saja diam setelah dia meniup wajahnya.


"Siapa juga yang melamun?" bantah Fatimah saat mendapat protes dari Satya sang suami.


Tanpa mengatakan sepatah kata lagi, Fatimah langsung berjalan keluar dari mobil masuk ke dalam rumah mewah yang ada di hadapannya tanpa memperdulikan Satya yang terus memanggilnya.


"Dasar keras kepala, dia malah jalan sendiri ke dalam," lirih Satya yang merasa di tinggal oleh Fatimah, sedang Fatimah yang sejak tadi berjalan dengan santai hendak masuk ke dalam rumah kini berhenti secara tiba-tiba saat mengingat jika dia tidak mungkin masuk ke dalam rumah begitu saja, sedangkan dia belum pernah ke sana lagi.

__ADS_1


"Kenapa diam di depan pintu?" tanya Satya saat melihat Fatimah berhenti di depan pintu.


"Aku takut mau masuk, bukankah aku belum pernah ke sini sebelumnya?" lirih Fatimah sambil menundukkan kepala merasa malu dengan apa yang baru saja dia lakukan, sedang Satya hanya tersenyum simpul mendengar pengakuan Fatimah.


"Apa ini rumah Tuan dan Nona?" tanya Bik Murni sambil menyaksikan suasana rumah baru Satya yang sebenarnya baru seminggu selesai di renovasi.


"Iya, sekarang kalian bisa masuk, masuklah!" ujar Satya sambil membuka pintu mempersilahkan Bik Murni, Pak Yusuf dan Pak Salman yang kini berjalan mengikuti langkah Satya.


"Mas, sejak kapan kamu punya rumah semewah ini?" tanya Fatimah sambil memperhatikan setiap sudut di ruang tamu rumah baru mereka.


"Aku baru saja selesai bernafas dengan minggu yang lalu, dan sebenarnya aku ingin mengajakmu pindah ke sini setelah semuanya benar-benar selesai, tapi keadaan yang kita alami saat ini tidak memungkinkan aku menundanya, jadi aku mengajak kamu dan semua pekerja yang ada di rumah ibu untuk pindah ke sini," jelas Satya.


"Apa mama dan yang lain juga tahu tentang rumah ini?" Fatimah kembali bertanya saat dia mengingat keluarga Satya yang tak terlihat sejak tadi saat Fatimah dan Satya bersiap untuk segera pindah.


"Sudah, aku baru saja memberitahunya mungkin sepuluh menit lagi mereka akan sampai di sini," jawab Satya enteng tanpa beban.


"Apa itu artinya kamu tidak berunding dulu dengan Mama dan yang lain sebelum pindah ke sini?" Tanya Fatimah yang merasa tidak enak hati dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Satya.


"Sebenarnya mereka sudah tahu tentang rumah ini, tapi mereka tidak pernah ke sini dan aku juga tidak pernah mengatakan kepada mereka kapan aku akan menempati rumah ini, dan setahuku mereka tidak akan marah hanya karena aku tidak berunding dulu akan masuk ke rumah ini kapan, karena saat ini kita berada dalam masalah yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, karena itulah aku yakin Mama, papa dan Kak Satria pasti maklum jika aku tiba-tiba menempati rumah ini," Satya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan keadaan yang tengah dialami pada Fatimah yang kini mengerti dengan apa yang dipikirkan juga keputusan yang telah diambil oleh Satya bukanlah keputusan yang gegabah ataupun sembarangan, saat ini Satya sangat mengerti dengan keadaan yang terjadi dan apa yang harus dia lakukan karena itulah Fatimah tersenyum merasa bangga memiliki suami yang begitu pengertian seperti Satya.


"Jangan tersenyum tanpa sebab!" Ujar Satya.


"Senyum itu ibadah, Mas," sahut Fatimah yang kini terlihat masih tersenyum ke arah Satya.


"Kamu terlihat aneh saat tersenyum tanpa sebab seperti saat ini, stop senyum atau kamu bakal aku panggil orang gila," saja kembali memperingatkan Fatimah agar dia tidak terus-terusan tersenyum ke arahnya.


Mendengar perkataan Satya membuat Fatimah langsung diam dan menghilangkan senyumannya sejak tadi terpampang jelas di wajahnya, tanpa banyak bicara lagi Fatimah berjalan mengikuti langkah Satya mengelilingi setiap sudut ruangan yang ada di rumah itu.


"Mas, Bik Murni pasti akan sangat lelah jika mengurus semuanya sendirian," tutur Fatimah yang menyadari jika rumah yang saat ini disiapkan oleh Satya jauh lebih besar dari rumah Ibu Halimah dan juga rumah Mama Nia, bahkan rumah Satya dua kali lebih besar.

__ADS_1


"Aku punya asisten rumah tangga sendiri sebelumnya, biar mereka membagi tugas sendiri, tapi bedanya asisten yang biasa membersihkan rumah ini hanya datang di pagi hari dan pulang di sore hari," jawab saja yang cukup membuat hati Bik Murni sedikit lebih lega.


"Baiklah, terima kasih atas segalanya, Mas," ujar Fatimah merasa bersyukur dengan apa yang baru saja dia dapatkan.


"Ini sudah menjadi kewajibanku terhadapmu sebagai istriku," sahut Satya sambil mengusap lembut kepala Fatimah yang tertutup kerudung.


"Sekarang kalian bisa pergi ke kamar kalian masing-masing, dan Bik Murni tolong bantu Bik Irma yang saat ini sedang sibuk di dapur," sambung Satya saat dia merasa jika semua hal yang perlu dia tunjukkan telah selesai.


"Baik, Tuan," sahut ketiganya hampir bersamaan.


Ketiga pekerja yang bekerja di rumah Ibu Halimah merasa bersyukur karena mereka busa langsung mendapat pekerjaan setelah majikan lamanya meninggal dan rumah tempat mereka bekerja telah di jual dan mereka langsung mendapat pekerjaan baru.


"Tutup mulutmu!" titah Satya sambil menutup mulut Fatimah yang terbuka saat melihat isi kamar baru yang telah di siapkan oleh Satya.


"Apa semua ini kamu yang siapkan?" tanya Fatimah merasa begitu heran dengan apa yang dia lihat saat ini, kamar yang bisa tergolong hampir sempurna itu sungguh memukau.


"Sebagian barang yang ada di sini pindahan dari rumah Ibu, aku sengaja menyuruh orang meletakkan di rumah ini agar kenangan tentang Ibu tidak hilang begitu saja," jelas Satya.


"Kapan kamu midahnya?" Fatimah kembali bertanya saat dia sadar jika barang-barang itu tidak mungkin bisa berpindah secepat itu.


"Sebenarnya aku tadi sengaja mengulur waktu dengan memperlambat laju mobil dan mengajak kalian makan agar para pekerja yang aku utus menyelesaikan semua ini dengan cepat, dan ternyata hasil nya sangat memuaskan," Satya kembali menjelaskan cara dia menyelesaikan pindahan secepat kilat.


"Mas Satya memang laki'-laki hebat yang sangat sulit di tebak," spontan Fatimah yang membuat Satya bingung karenanya.


"Maksudnya apa?" tanya Satya.


"Tidak ada, apa kamar mandinya ada di sana?" Fatimah yang keceplosan memilih untuk mengalihkan pembicaraan dati pada menjawab pertanyaan Satya yang sebenarnya muncul karena ucapannya sendiri.


"Iya," jawab Satya yang cukup untuk Fatimah.

__ADS_1


Dengan langkah seribu Fatimah berjalan cepat meninggalkan Satya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri sekaligus menghindari setiap pertanyaan yang di tanyakan oleh Satya.


"Syukurlah," lirih Fatimah sambil mengurut dada dan bersandar di pintu kamar mandi setelah merasa berhasil menghindar dari Satya.


__ADS_2