
"Selamat kembali ke rumah menantuku tersayang," sambut Mama mertua Fatimah yang tak lain adalah Mama Nia.
"Mama," sahut Fatimah dengan senyum yang merekah di wajahnya.
Tapi sambutan Mama Nia jauh berbeda dengan biasanya, seolah dia mengerti apa yang baru saja terjadi di antara Fatimah dan Satya.
"Bagaimana keadaanmu, Sayang?" tanya Mama Nia yang kini merangkul pundak Fatimah menuntunnya untuk duduk di sofa di ruang keluarga.
"Aku baik-baik saja, Ma," jawab Fatimah semakin bingung dengan apa yang terjadi semalam saat Fatimah dan Satya pergi meninggalkan rumah.
"Apa tidak ada yang sakit? atau kamu merasa lelah? bagaimana kalau Mama panggilkan tukang pijat?" tawar Mama Nia yang membuat rasa penasaran Fatimah semakin parah.
Fatimah hanya diam tak bisa menjawab pertanyaan Mama Nia yang sebenarnya menimbulkan rasa penasaran yang muncul dalam hati Fatimah.
"Ma, aku dan Fatimah ke kamar dulu ya. Kami mau istirahat," sela Satya seolah mengerti dengan situasi yang baru saja terjadi.
__ADS_1
"Aku mengerti, kalian pasti lelah, sekarang lebih baik kalian masuk ke kamar! biar nanti Bik Mina mengantar minuman untuk kalian ke kamar." Sahut Mama Nia yang tiba-tiba menyetujui ucapan Satya, bahkan menyuruh Fatimah dan Satya segera pergi ke kamar tanpa perduli dengan jawaban yang seharusnya di berikan oleh Fatimah saat ini.
"Mas," lirih Fatimah sesaat setelah sampai di dalam kamar.
"Ada apa, Sayang?" sahut Satya yang langsung memusatkan perhatian ke arah Fatimah yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Kenapa sikap Mama berbeda?" tanya Fatimah.
"Kemarin aku sempat bilang ke Mama akan menginap di hotel saat dia memintaku untuk menginap di rumahnya, aku mengatakan padanya jika aku akan membuatkan cucu untuknya, Karena itulah sekarang aku mengajakmu pulang ke rumah mama," jelas Satya yang cukup membuat mata Fatimah membulat sempurna karena terkejut.
"Sudahlah, jangan terlalu di fikirkan! menyenangkan hati Mama bukankah berarti menuai pahala yang besar," ujar Satya sambil tersenyum genit ke arah Fatimah, sedang Fatimah yang melihat rambu-rambu kuning sebagai tanda bahaya memilih untuk berjalan cepat masuk ke dalam kamar mandi menghindari Satya yang terlihat dalam mode on.
Hari demi hari terlewati dengan penuh kebahagiaan, rasa syukur tak pernah hilang dalam benak Fatimah, memiliki Satya yang penuh perhatian dan kasih sayang membuatnya merasa menjadi perempuan paling beruntung di dunia.
"Hoek ... hoek ... hoek .... "
__ADS_1
Suara Fatimah menggema di kamar mandi, sudah seminggu ini Fatimah merasa ada yang aneh dengan tubuhnya, sedang Satya tidak berada di sisinya.
"Nona! apa Nona baik-baik saja?" suara Bik Mina terdengar dari luar kamar.
'Ceklek'
Perlahan pintu kamar terbuka, wajah pucat Fatimah terlihat mengkhawatirkan.
"Nona, apa Nona Fatimah baik-baik saja?" Pertanyaan yang selalu di dengar Fatimah seminggu ini, Satya sedang izin keluar kota untuk mengurus perusahaannya yang terkena masalah.
"Tidak apa-apa Bik, mungkin cuma masuk angin," jawab Fatimah yang merasa jika dirinya baik-baik saja.
"Nona, maaf sebelumnya, apa boleh Bibik mengatakan pendapat Bibik?" tanya Bik Mina yang terlihat sedikit takut untuk mengatakan apa yang sedang dia rasakan.
"Katakan saja! ada apa, Bik?" jawab Fatimah.
__ADS_1
"Apa mungkin Nona Fatimah hamil?" Bik Mina mengatakan apa yang dia rasakan saat ini.