
Mobil terus melaju menuju apartemen Satya. Selama perjalanan suasana di gunung tanpa ada yang berbicara, setelah Satya memerintahkan apa yang dia inginkan kepada Fatimah dia terdiam dan hanya fokus menatap jalanan begitu pula dengan Fatimah yang masih sibuk dengan pemikirannya sendiri, memikirkan apa yang akan dia lakukan saat bertemu dengan teman-teman Satya nanti.
"Farah," lirih Fatimah ketika melihat gadis yang seharusnya sudah menyerah karena ucapannya kemarin malah berdiri tegak di depan pintu apartemen Satya saat ini.
Melihat keberadaan seorang gadis di depan pintu apartemen suami membuat Fatimah reflek meraih lengan saat ya yang tengah berjalan di sampingnya. Satya yang melihat apa yang dilakukan oleh Fatimah merasa sedikit terkejut dan bingung meski begitu saja diam tak melawan ataupun bertanya karena saat ini dia juga melihat keberadaan Farah yang tengah berdiri tegak di depan pintu apartemennya, Satya mengerti penyebab Fatimah melakukan hal itu saat ini, di ujung hatinya yang paling dalam ada rasa bahagia karena Fatimah tengah berusaha mempertahankannya dan menjaga dirinya agar tidak tergoda oleh Fatimah yang terlihat sedang menunggunya itu.
"Ada apa?" Tanya Satya saat dia sudah berada di depan Farah yang kini tersenyum manis ke arahnya.
Satya bertanya seraya melihat ekspresi wajah Fatimah yang kini tengah murung dan tidak suka karena keberadaan Farah, melihat ekspresi wajah Fatimah membuat sebuah ide muncul dalam benak Satya dia ingin tahu apakah Fatimah cemburu atau tidak jika dia menanggapi Farah yang sebenarnya masih berharap agar bisa kembali bersama dengan Satya.
"Aku sengaja ingin menjengukmu karena aku masih merindukanmu dan tidak bisa melupakanmu Satya," jawab Farah dengan senyum yang merekah dan binar kebahagiaan yang semakin terlihat jelas di wajahnya, mendengar pertanyaan Satya membuat Farah berpikir jika saat ini Satya bisa menerima kehadirannya dan Satya mau memberikan kesempatan kedua untuknya, Farah tidak peduli jika Satya sudah menikah bahkan dia rela menjadi yang kedua asalkan dia bisa bersama dengan Satya lagi seperti dulu.
__ADS_1
Ekspresi wajah Farah jauh berbeda dengan ekspresi wajah Fatimah yang kini menatap penuh amarah dan kejengkelan yang sengaja ditahan olehnya. Ekspresi wajah Fatimah tak luput dari perhatian Satya karena itulah dia semakin gencar untuk melakukan rencananya mencari tahu dan melihat bagaimana sikap Fatimah jika dia menanggapi Farah.
"Masuklah!" titah setia yang langsung membuka pintu apartemen seolah mempersilahkan Farah untuk masuk ke dalamnya, melihat apa yang dilakukan oleh Satya membuat Fatimah meradang matanya melotot menatap penuh amarah dan kilat permusuhan ke arah Satya dan Farah secara bersamaan.
'Bisa-bisanya Mas Satya mengizinkan Farah masuk ke dalam apartemen, apa dia tidak sadar jika aku ada di sini dan aku pasti akan merasa sakit hati jika dia memasukkan wanita lain ke dalam apartemen ini?'Fatimah selalu saja membatin tanpa bisa berbicara jika Satya melakukan sesuatu yang menyakiti hatinya.
"Apartemen ini tidak pernah berubah sejak dulu saat terakhir kali aku ke sini hingga sekarang, semuanya masih tetap sama dan aku merindukan saat-saat itu, Satya," ujar Farah dengan nada manja dan wajah sok imut yang ditujukan ke arah Satya, apa yang dilakukan Farah benar-benar membuat Fatimah muak, ingin rasanya saat ini dia mencakar ataupun menjambak wajah dan rambut parah yang tergerai indah sampai punggungnya.
Jika Fatimah bersikeras menentang dan mempertahankan apa yang menurutnya sudah menjadi miliknya, maka jauh berbeda dengan Satya yang justru menikmati suasana yang ada, dia menatap lekat ke arah Fatimah dengan seutas senyum yang sangat tipis yang tersungging di bibirnya, rasanya begitu puas dan menyenangkan melihat Fatimah cemburu dan mengatakan hal yang dulu bahkan tidak pernah terpikirkan olehnya, dulu saat Satya menyatakan cinta dan mencoba mendapatkan Fatimah agar bisa menjadi kekasihnya adalah masa yang paling sulit, jangankan berharap Fatimah bisa cemburu seperti saat ini bahkan Satya tidak pernah bermimpi untuk memegang tangannya ataupun berjalan di sampingnya sebagai seorang kekasih.
"Duduklah! aku akan buatkan minum untuk kalian." Suara Satya terdengar biasa saja di telinga siapapun yang tidak sedang punya masalah dengannya, tapi hal itu berbeda dengan apa yang dirasakan oleh Fatimah, dia semakin melebarkan mata menatap tajam ke arah Satya yang justru terlihat acuh kepadanya.
__ADS_1
Seolah tanpa dosa ataupun rasa bersalah Satya melenggang pergi meninggalkan kedua gadis yang sedang yang sedang memasang sinyal permusuhan.
Ruangan ber-ac yang harusnya dingin kini terasa begitu panas membakar emosi siapapun yang ada di dalamnya, terutama bagi Fatimah, dia yang merasa jika Satya saat ini tengah memancing emosi yang sejak lama dipendam membuat Fatimah tidak mampu lagi untuk menahan emosi yang telah memuncak sampai ke ubun-ubun.
"Fatimah," suara lembut Farah menyapa telinga Fatimah yang tengah menatapnya tajam, kini keduanya duduk saling berhadapan di atas sofa yang ada di ruang tamu apartemen milik Satya.
Tak ada sahutan dari Fatimah dia hanya diam dan terus menatap tajam ke arah parah yang justru membalasnya dengan senyuman manis semanis madu.
"Jangan menatapku seperti itu! Bagaimanapun juga aku pernah ada dalam hati suamimu dan aku pernah jadi orang yang paling penting dalam hidupnya, aku harap kamu bisa menerima jika Satya masih mencintaiku dan menginginkan aku dalam hidupnya, karena jika itu terjadi aku siap jadi yang kedua dan kau pun juga harus siap jika ada aku dalam rumah tanggamu," tutur Farah yang terlihat begitu percaya diri dan yakin jika Satya mau menerimanya kembali dan menjadikannya yang kedua.
"Jangan pernah! bermimpi karena aku tidak akan pernah membiarkan suamiku memilihmu atau menjadikanmu yang kedua, ingatlah tidak ada gadis baik-baik yang mau merusak rumah tangga orang lain ataupun menjadi yang kedua dalam hubungan orang lain!" sahut Fatimah dengan nada penuh penekanan seolah Fatimah tengah membangun tembok besar sebagai pelindung rumah tangganya agar tak ada gadis murahan yang masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
Farah langsung terdiam tanpa bisa berbicara setelah mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Fatimah, sedang Satya yang sejak tadi memantau keduanya lewat cctv tersembunyi yang sengaja dia pasang di ruang tamu hanya tersenyum tanpa ada niat menghampiri keduanya karena Satya ingin tahu apa yang akan di lakukan Fatimah dan Farah setelah ini.