
Fatimah dan Faris berjalan masuk ke dalam apartemen dengan beberapa kantong plastik yang berisi belanjaan yang ada di tangan Fariz, sedang Fatimah hanya berjalan di samping Fariz tanpa membawa apapun.
"Apa apartemen yang kamu tinggal ada di sini? "Tanya Faris sesaat setelah dia sampai di depan pintu apartemen dan Fatimah berhenti di depannya.
"Iya, aku tinggal di sini sekarang," jawab Fatimah.
"Kebetulan sekali apartemen tempatku tidak jauh dari sini, kamu tinggal jalan beberapa langkah karena tempat kamu dan tempatku hanya disekat dengan satu ruangan saja," ujar Fariz dengan ekspresi wajah sumringah setelah dia tahu jika apartemen yang di tempati Fatimah berada di dekat apartemen yang di tempatinya.
"Benarkah?" sahut Fatimah dengan ekspresi wajah terkejut.
"Kamu lihat apartemen yang itu!" tunjuk Fariz ke arah apartemen miliknya.
"Iya, apa itu apartemen milikmu?" tebak Fatimah.
"Benar, dan kita bisa saling bertegur sapa," ujar Fariz yang terlihat semakin senang karenanya tapi hal berbeda ditunjukkan oleh Fatimah yang kini justru merasa bingung dan takut.
"Iya," jawab Fatimah sambil tersenyum mencoba menunjukkan jika tidak ada apa-apa yang terjadi meskipun dalam hatinya ada sejuta rasa khawatir yang timbul karena Fatimah tidak ingin Satya berfikiran buruk ataupun cemburu seperti kemarin, meskipun kecemburuan yang dimaksud Fatimah belum pasti karena itu hanya perkiraan dirinya saja.
"Kalau begitu aku masuk dulu ya." Pamit Fatimah yang tidak ingin terlalu lama bersama Faris di depan pintu apartemen.
__ADS_1
"Masuklah! Aku akan kembali ke apartemenku." Sahut Fariz yang juga ingin kembali ke apartemennya untuk menata belanjaan yang tadi dia beli dan beristirahat karena nanti sore ada jadwal operasi yang harus dia kerjakan.
Fatimah menghembuskan nafas lega saat dia sudah berada di dalam apartemen dan melihat Fariz benar-benar telah pergi ke apartemennya sendiri.
'Semoga saja Mas Satya tidak tahu jika aku diantarkan oleh Faris dan aku juga berharap jika Mas Satya tidak tahu jika Faris juga berada di apartemen yang sama dengan ku saat ini.' batin Fatimah yang berharap Satya tidak pernah tahu dengan apa yang sudah terjadi barusan.
Apa yang diharapkan Fatimah berbanding terbalik dengan apa yang sebenarnya terjadi, tanpa sepengetahuan Fatimah, Satya sengaja memasang beberapa CCTV di beberapa titik untuk memantau segala sesuatu yang terjadi di apartemennya saat dirinya tidak ada, dan CCTV itu memang sudah ada di sana jauh sebelum Satya menikah dengan Fatimah.
Siang ini Satya sedang beristirahat setelah bertemu dengan klien di cafe, dia menikmati waktu istirahatnya di ruangan yang begitu nyaman dengan sekotak nasi yang baru saja dipesankan asisten pribadinya, Satya yang merasa kesepian memilih melihat apa yang terjadi di apartemennya lewat laptop yang tersambung dengan CCTV yang dipasang di apartemennya.
"Sial," umpat Satya saat melihat Fatimah baru saja pulang diantar oleh Faris, orang yang memiliki potensi menjadi seorang pembinor atau seorang laki-laki yang mungkin saja bisa merebut Fatimah darinya atau justru berselingkuh di belakangnya sama seperti apa yang dilakukan oleh Farah padanya sebelumnya.
"Aku akan memberikan kamu pelajaran Fatimah, agar kamu tahu posisimu saat ini," sambung Satya yang merasa jika apa yang dilakukan oleh Fatimah bukanlah hal yang bisa dibenarkan, dan sangat menyakiti hatinya, emosi yang entah datangnya dari mana kini menguasai hati dan pikiran Satya, tanpa pikir panjang dia yang sejak tadi duduk di kursi ternyaman yang ada di kantor itu langsung berdiri melenggang pergi tanpa memperdulikan nasi kotak yang ada di hadapannya.
"Aku harus pergi." jawaban singkat yang sebenarnya terdengar sederhana tapi sangat merepotkan bagi asisten Satya yang harus menghedel seluruh pekerjaannya jika Satya pergi begitu saja.
"Setelah jam makan siang ini ada pertemuan dengan klien Tuan, jika Tuan pergi bagaimana pertemuannya?" Tanya sama asisten dengan ekspresi wajah penuh kebingungan dia bertanya.
"Batalkan semua pertemuan hari ini! Aku ada urusan jauh lebih penting dari pertemuan yang akan kita laksanakan nanti."jawab Satya yang memang saat ini merasa jika urusannya dengan Fatimah jauh lebih penting dibandingkan dengan pertemuan bersama kliennya yang sudah direncanakan.
__ADS_1
"Apa? Tuan, apa yang harus aku katakan pada mereka nanti jika tuan tidak bisa hadir? "Tanya asisten pribadi Satya yang memang bingung harus mengatakan apa? jika klien yang sudah membuat janji dengannya tidak bisa bertemu dengan Satya saat ini.
"Katakan saja jika aku mendadak sakit katakan aku sakit kepala dan sakit perut karena itu aku tidak bisa hadir dalam pertemuan kali ini, batalkan semua pertemuannya ganti dengan besok!" Titah Satya yang memang merasa jika apa yang akan dilakukannya saat ini jauh lebih penting dari apapun. Dan apa yang dilakukan oleh Satya sungguh membuat sang asisten pusing tujuh keliling, bisa dipastikan jika dia yang akan mendapatkan protes dari para klien yang memang sudah menunggu dan membuat janji dari beberapa hari yang lalu.
Tanpa memperdulikan ucapan sang asisten, Satya kembali berjalan melanggar pergi meninggalkan perusahaan yang dia pimpin menuju apartemen di mana istrinya berada.
"Nasib seorang asisten memang seperti ini, astaga, kalau tahu seperti ini aku lebih memilih menjadi bos jika saja aku bisa memilih ya Tuhan, tabahkan hatiku ini," gumam sang asisten yang memang selalu menjadi tumbal setiap kali Satya pergi begitu saja dan membatalkan pertemuan yang sudah dijanjikan secara tiba-tiba.
Satya melajukan mobil dengan kecepatan cukup tinggi hingga tanpa sadar dia sudah berada di depan tempat parkir apartemen sepuluh menit lebih cepat dari biasanya.
Satya terus saja melangkah keluar dari mobil menuju apartemen dengan langkah lebar dan tergesa-gesa.
Pikirannya tertuju pada Fatimah karena saat ini Yang dia ingat hanya gambaran Fatimah yang baru saja pulang dari supermarket dengan Faris yang berada di belakangnya membawa beberapa belanjaan yang dibeli oleh Fatimah.
"Fatimah!" panggil Satya sesaat setelah dia masuk ke dalam apartemen dan melihat ruang apartemen yang sepi seperti tak berpenghuni.
"Fatimah!" Satya kembali memanggil Fatimah karena saat dipanggil Fatimah tidak menyahuti panggilannya.
"Mas Satya," Fatimah saat mendengar suara Satya menggema ruangan.
__ADS_1
"Ada apa, Mas?" Tanya Fatimah dengan ekspresi wajah yang bingung, terlihat polos dan tak berdosa, tapi apa yang dilihat Satya saat ini tak mampu meredam emosi yang masih membara dalam hatinya.
Satya tak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Fatimah dengan tetapan pembunuh Satya berjalan mendekat ke arah Fatimah dan terus memojokkannya hingga punggung Fatimah membentur tembok yang ada di ruang tamu.