Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Tidak Sesuai Rencana


__ADS_3

Meski muak dengan ucapan Satya, Fatimah tetap berusaha menjadi istri yang baik, menyiapkan semua yang di butuhkan dan di inginkan oleh Satya.


Fatimah mengambilkan minum dengan senyum yang terpaksa dia tunjukkan, saat ini Fatimah sadar jika dirinya berada di hadapan sang Ibu, Fatimah tidak ingin sang Nama merasa kecewa ataupun ke fikiran dengan kehidupan pernikahannya yang terasa begitu aneh.


"Setelah ini kalian mau ke mana?" tanya Ibu Fatimah.


"Kita mau pergi ke alun-alun kota, aku ingin mengajak Fatimah jalan-jalan, Bu," sahut Satya, sedang Fatimah hanya diam menyembunyikan segala perasaan yang berkecambuk dalam dirinya, pasalnya Satya tidak mengatakan apapun tentang ajakan yang baru saja dia katakan.


"Baguslah, sesekali ajak Fatimah pergi Jalan-jalan, Nak, selama ini dia hanya ada di pesantren, jarang sekali keluar untuk jalan-jalan," tutur Ibu Fatimah.


"Tentu Ibu, aku akan buat Fatimah bahagia," sahut Satya yang langsung menggenggam erat tangan Fatimah yang kebetulan ada di atas meja, tepat di samping Satya duduk, Fatimah yang mendapat sentuhan tiba-tiba berusaha menolak dan melepas genggaman tangan Satya, tapi apalah daya, Fatimah tak sekuat itu untuk melawan Satya.


Senyum palsu dan sikap manis yang juga palsu selalu terlihat di wajah Satya, ingin rasanya Fatimah mengatakan kepada sang Ibu jika Satya tidak semanis dan sebaik yang Ibu lihat sekali, bahkan Fatimah selalu mendapatkan perlakuan tidak baik dari Satya, meskipun Satya tidak memukulnya, tapi Fatimah terus-terusan di pukul oleh rasa sakit karena ucapan dan sikap dingin Satya.


"Bersiaplah! kita akan pergi jalan-jalan!" ujar Satya.


"Ke mana?" tanya Fatimah.


"Apa tadi kamu tidak mendengar percakapanku sama Ibu?" bukannya menjawab nada bicara Satya terdengar sedikit mengeras.


"Aku tahu," jawab Fatimah yang tidak mau berdebat dengan Satya, sudah cukup dwngan semua yang terjadi, Fatimah merasa malas untuk meneruskan pertengkaran yang tak seharusnya terjadi.


Sesuai dengan keinginan Satya, Fatimah bersiap dengan gamis berwarna biru laut dan tas selempang hitam yang melengkapi penampilan Fatimah, kini dia terlihat begitu anggun dan cantik, sungguh saat ini Fatimah benar-benar sangat cantik, tapi kecantikan Fatimah tak merubah sikap Satya padanya saat ini.

__ADS_1


"Bu, aku pamit pergi dulu." pamit Fatimah seraya mencium punggung tangan sang Ibu di ikuti langkah Satya yang melakukan hal yang sama kemudian pergi meninggalkan rumah.


"Pasang sabuk pengamanmu!" titah Satya.


'Dasar balok es, judes pula, nyuruh masang sabuk pengaman saja pakek nada tinggi, apa tidak bisa pelan sedikit?' batin Fatimah yang kini memasang wajah masam.


Fatimah yang gemar membaca novel dan film drakor selalu berharap bisa mendapatkan seorang suami yang tampan, kaya dan penuh cinta juga perhatian, tapi semua itu sirna saat Fatimah mengenal Satya, laki-laki yang sekarang sudah menjadi suaminya.


Sesuai dengan keinginan Satya, Fatimah bersiap dengan gamis berwarna biru laut dan tas selempang hitam yang melengkapi penampilan Fatimah, kini dia terlihat begitu anggun dan cantik, sungguh saat ini Fatimah benar-benar sangat cantik, tapi kecantikan Fatimah tak merubah sikap Satya padanya saat ini.


Satya memang mengajak Fatimah le alun-alun kota, tapi bukannya mengajak Fatimah jalan-jalan, Satya malah meninggalkan mengajak Fatimah ke restauran yang ada di dekat alun-alun kemudian meninggalkannya begitu saja.


"Kamu tunggu aku di sini! jangan pergi kemanapun, aku ada pertemuan penting dengan clien," pesan Satya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Fatimah merasa aneh dengan sikap Satya saat ini.


"Aku tahu dan aku juga sudah dengar, tapi aku juga ingin tahu ke mana kamu akan pergi?" Fatimah mencoba memberanikan diri untuk bertanya, dia yang mendengar jika Satya akan mengajaknya jalan-jalan merasa bingung, karena saat ini Fatimah justru melihat Satya berpamitan untuk pergi dan meninggalkan dia sendiri di restauran.


"Aku akan duduk di kursi paling ujung yang ada di sebelah sana," Jelas Satya sambil menunjuk ke arah meja di mana dia akan pergi, di sana sudah terlihat seorang gadis muda dan seorang laki-laki yang mungkin seusia dengan Satya duduk di sana.


"Kataku kita mau jalan-jalan Mas, kenapa aku malah di suruh menunggu kamu di sini?" Fatimah kembali bertanya setelah sadar jika Satya tidak mengajaknya jalan-jalan, tapi dia malah mengajak Fatimah menemaninya menemui client.


"Semua yang ku lakukan merupakan usahaku untuk keluarga kita Fatimah, aku sedang menjalankan tugasku sebagai seorang suami," jelas Satya.

__ADS_1


Fatimah hanya diam tanpa ada niat untuk membalas ucapan Satya.


'Menjalankan tugas apa? dia bahkan tidak memberiku uang sama sekali, bahkan kemarin aku minta uang untuk membeli buku saja tidak di beri,' gerutu Fatimah dalam hati, sungguh Fatimah merasa jika Satya benar-benar menyebalkan.


Cukup lama Fatimah diam mematung tanpa bisa melakukan apapun, dia hanya diam tanpa berpindah ke tempat yang lain, sesekali Fatimah membuka ponsel pintar yang ada di tangannya, melihat media sosial untuk menghibur diri agar tidak merasa bosan, hingga seorang pelayan datang dengan beberapa menu camilan dan minuman.


"Silahkan di nikmati, Mbak!" ujar sang pelayan sambil menaruh camilan yang dia bawa ke atas meja.


"Loh, saya tidak memesan apapun Mbak," seru Fatimah saat melihat menu camilan yang di berikan cukup banyak.


"Tuan yang ada di ujung sana yang memesan makanan ini untuk Mbak," jelas sang pelayan.


'Satya, memesan cemilan ini, ishhh tetap saja aku merasa aneh dengan apa yang di lakukan Satya


"Sudah cukup, jangan taruh semua makanan ini di sini! ini terlalu banyak, aku tidak akan sanggup memakannya," cegah Fatimah saat melihat betapa banyaknya makanan yang di tata di atas meja makan.


"Maaf Mbak, semua makanan ini sudah di pesan untuk meja ini, saya tidak bisa mengembalikannya, karena semua ini sudah di bayar," jawab sang pelayan.


"Kalau begitu aku minta yang ini, ini dan ini juga ini di bungkus!" pinta Fatimah yang merasa jika dia tidak akan mampu menghabiskan semuanya, dari pada mubazir Fatimah memiliki ide lebih baik lagi dari pada membuangnya sia-sia


"Apa di sini tidak di perbolehkan untuk membungkus makanan?" Fatimah kembali bertanya saag melihat sang pelayan hanya diam tanpa kata atau merespon ucapannya.


"Tentu saja boleh, biar aku bawa kembali ke dapur untuk di bungkus, silahkand ini nikmati hidangannya, saya akan kembali setelah membungkusnya untuk Mbak," ujar sang pelayan yang langsung masuk membawa kembali makanan yang tadi sudah di tunjuk oleh Fatimah.

__ADS_1


Apa yang di lakukan oleh Fatimah tak luput dari pengawasan Satya, dia bingung dengan apa yang di lakukan oleh Fatimah.


'Kenapa Fatimah malah menyuruh pelayan itu membawanya.' Batin Satya sambil terus menatap kke arah Fatimah.


__ADS_2