
"Fatimah!" suara Mama Nia terdengar begitu nyaring dan memekakan telinga, meskipun sang empu sedang berada di luar ruangan tapi suaranya masuk ke dalam kamar dan terdengar begitu nyaring.
Fatimah yang baru saja hendak memejamkan mata mencoba mengistirahatkan badan yang mulai merasa lelah, kini mengurungkan niat saat mendengar suaranya dipanggil oleh sang Mama mertua, Fatimah yang memang lebih mementingkan panggilan sang Mama mertua memilih untuk kembali bangun dan berjalan membuka pintu dari pada melanjutkan istirahat yang sejak tadi ia rencanakan.
"Ada apa, Ma?" Tanya Fatimah sesaat setelah pintu kamar terbuka, dan tampaklah sang Mama mertua sedang berdiri tegak dengan wajah penuh kebahagiaan dan senyum merekah di bibirnya.
"Bukankah tadi aku sudah bilang padamu kalau aku ingin belajar memasak dan menyiapkan makan siang juga makan malam hari ini," jawab Mama Nia, dengan penuh semangat dia berkata, kedatangan papa Satya mengubah mama menjadi lebih bersemangat dan lebih ceria dari sebelumnya.
"Apa kita perlu memasaknya sekarang, Ma?" Sahut Fatimah yang merasa jika sang Mama datang di waktu yang tidak tepat, semua itu karena saat ini jam dinding masih menunjukkan pukul sepuluh, dan biasanya keluarga ini akan makan siang saat jam dinding sudah menunjukkan pukul satu siang.
"Tentu saja, Mama akan memasaknya sendiri dan kamu hanya bertugas melihat juga memberitahu apa saja yang harus Mama kerjakan?" ujar Mama Nia yang memang berniat memasak semur daging untuk makan siang khusus untuk sang suami.
Fatimah sejenak terdiam mendengar perkataan Mama Nia yang menurutnya cukup mengejutkan, biasanya Mama Nia hanya akan menyaksikan Fatimah memaksa atau sedikit membantunya, tapi kali ini Mama Nia mengatakan jika dia ingin memasak semuanya sendiri tanpa bantuan Fatimah dan Fatimah hanya bertugas mengawasi juga memberitahu apa saja yang harus dilakukan oleh Mama.
"Apa Mama serius dengan apa yang baru saja Mama katakan?" tanya Fatimah yang terlihat tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Mama Nia.
"Tentu saja, Mama tidak pernah berbohong ataupun bercanda, apa yang Mama katakan itulah yang akan terjadi," ujar sang Mama dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya.
Fatimah yang selalu patuh pada perintah orang tua memilih untuk mengikuti apa yang Mama Nia inginkan dari pada mengikuti rencananya yang ingin istirahat.
"Baiklah, ayo Ma!" sahut Fatimah yang langsung mengikuti langkah sang Mama untuk pergi ke dapur dan mengikuti langkahnya.
"Untuk makan siang mama mau masak dengan menu apa?" tanya Fatimah sesaat setelah dia sampai di dapur dan melihat sang mama hanya berdiri menatap beberapa bahan makanan yang tersedia di dalam kulkas.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita masak semur daging lebih dulu?" tawar Nama Nia yang merasa jika menu semur daging jauh lebih mudah di masak di banding rendang.
"Kalau begitu Mama harus menyiapkan bahan-bahannya terlebih dahulu," ujar Fatimah yang langsung memberitahukan apa saja yang perlu disiapkan oleh Mama Nia.
"Apa semua ini sudah lengkap atau masih ada bahan yang perlu dibeli di luar?" Mama Nia kembali bertanya saat melihat beberapa bahan masakan sudah tertata rapi.
"Semuanya udah lengkap Ma, tidak perlu membeli bahan lagi di luar,"jawab Fatimah saat melihat semua bahan masakan sudah lengkap dan tinggal memasaknya saja.
"Baiklah, ayo mulai memasak!" Seru mama Nia dengan penuh semangat dia mulai memasak.
"Ma, ini tidak seperti ini motongnya,"
"Yang ini di goreng dulu, jangan langsung di masukkan!"
Fatimah terus saja memberitahu apa yang tidak boleh dilakukan oleh mamania dan membenarkan apa yang salah, meski sebenarnya ada rasa sungkan dan takut yang terselip dalam hati Fatimah tapi dia tetap melakukan tugasnya sebagai pemandu agar mamanya bisa memasak semur daging dengan sempurna.
"Ishh kenapa ribet banget sih," keluh Mama Nia sambil mengerucutkan bibir merasa jengkel dengan apa yang baru saja di katakan oleh Fatimah.
"Maaf Ma, apa aku terlalu bawel?" cicit Fatimah saat mendengar keluhan Mama Nia yang memang terdengar begitu lelah dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh Fatimah.
"Eh, kenapa jadi kamu yang meminta maaf?" sahut Mama Nia yang merasa aneh dengan apa yang baru saja di katakan oleh Fatimah.
"Mama lelah karena mendengar aku terus memprotes pekerjaan Mama," ujar Fatimah dengan ekspresi wajah penuh kepedihan.
__ADS_1
"Mama tidak mengeluh karena ucapannya, lagi pula setiap ucapan mu juga baik untuk Mama," jelas Mama Nia.
"Jika bukan karena ucapanku, terus Mama mengeluh karena apa?" tanya Fatimah mencoba mencari tahu penyebab Mama Nia mengeluh.
"Mama hanya merasa kesulitan dan merutuki diri Mama sendiri karena tidak bisa memasak dengan benar," jujur Mama Nia.
"Sudah, jangan terbawa perasaan! lebih baik sekarang kita lanjut memasak." Seru Mama Nia yang langsung melanjutkan pekerjaannya dan Fatimah kembali memberitahu apa saja yang harus di lakukan oleh Fatimah.
Mama Nia bekerja begitu keras agar bisa membuat menu semur daging yang memang menjadi menu favorit bagi Papa Satya.
"Akhirnya," seru Mama Nia setelah melihat semur daging telah siap di atas meja.
"Ma, semur dagingnya sudah matang, Fatimah pamit ke kamar dulu ya." Pamit Fatimah sambil mencuci tangan.
"Terima kasih sudah membantu Mama," sahut Mama Nia dengan senyum yang mengembang di wajahnya, Mama Nia terlihat begitu puas dengan semur daging yang dia masak dengan penuh perjuangan.
"Setelah ini jangan lupa kembali ke sini! kita makan bersama!" pesan Mama Nia sebelum Fatimah melangkah meninggalkan dapur.
"Ma, aku masih kenyang karena tadi sudah makan banyak di bandara, jika aku tidak ikut makan siang apa Mama mengizinkan?" Dengan ekspresi wajah takut dan penuh khawatir Fatimah berusaha mengatakan apa yang dia rasakan dan apa yang ingin dia lakukan, karena membacakan diri untuk makan lagi dan memaksa memasukkan makanan saat dinyatakan bukan hal yang baik dan Fatimah tidak ingin melakukannya.
Sejenak mama Nia terdiam dan memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada Fatimah hingga dia tidak ingin makan siang bersama.
"Kenapa kamu tidak mau makan bersama dengan mama dan papa?" Mama Nia tidak ingin berburuk sangka atau menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi pada Fatimah, karena itulah Mama Nia memilih untuk bertanya langsung kepada Fatimah apa yang sebenarnya terjadi, hingga dia tidak mau makan siang bersama.
__ADS_1
"Aku masih kenyang Ma, dan memaksakan diri untuk tetap makan saat perut kenyang bukanlah hal yang baik dan aku tidak ingin melakukannya," jujur Fatimah, dia tidak ingin Mama Nia salah faham dan mengira jika Fatimah tidak mau makan siang bersama karena dia tidak suka pada Papa.