Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Kedatangan Farah part 1


__ADS_3

Seperti biasa Satya tak banyak bicara, dia langsung duduk di kursi meja makan menyeruput kopi yang ada di hadapannya tanpa ada sepatah katapun.


"Mas Satya!" panggil Fatimah, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.


"Hm," sahut Satya singkat.


"Apa semalam Mas Satya yang memindahkanku?" tanya Fatimah dengan penuh hati-hati


"Iya, dan kamu sangat berat, lain kali jika aku pulang terlalu malam, langsung tidur jangan menungguku jika pada akhirnya kamu tertidur juga," jelas Satya dengan wajah datarnya.


"Dasar merepotkan," sambung Satya tanpa menoleh ke arah Fatimah.


Sedang Fatimah hanya bisa diam tanpa bisa menjawab ucapan Satya yang terdengar menyayat hati.


"Sarapan dulu Mas!" pinta Fatimah sambil meletakkan satu porsi makanan yang ada di hadapannya ke hadapan Satya.


Satya tak langsung melahap makanannya, dia justru terdiam menatap makanan yang terlihat menggiurkan itu, biasanya Satya akan sarapan dengan roti dan selain di pagi hari, awalnya dia merasa sarapan roti dan selain karena menurutnya hanya makanan itu yang praktis untuk di buat.


"Kenapa? apa Mas Satya tidak suka menu itu?" tanya Fatimah saat melihat Satya tak segera melahap makanannya.


Saat ini Fatimah memasak soto ayam lengkap dengan tempe goreng dan sambalnya.


"Tidak," jawab Satya singkat, dia langsung memakan menu yang ada di hadapannya tanpa menghiraukan Fatimah yang kini diam memperhatikan Satya.


"Bagaiamana? apa masakanku enak? atau ada yang kurang?" tanya Fatimah dengan antusiasnya dia bertanya.

__ADS_1


"Lumayan," Satya kembali menjawab pertanyaan panjang Fatimah dnegan satu kata singkat yang tidak memiliki alasan untuk di perpanjang.


'Dasar es batu,' batin Fatimah merasa jengkel dengan apa yang di katakan oleh Satya.


"Pakai ini! beli apapun yang kamu inginkan!" titah Satya seraya melempar kartu ATM ke atas meja, meski dia menikahi Fatimah karena dendam, tapi Satya sadar jika dia juga harus memenuhi kewajibannya menafkahi sang istri.


"Berapa pinnya?" tanya Fatimah sebelum Satya pergi.


Satya pergi begitu saja tanpa memperdulikan Fatimah yang kini bingung harus apa? Fatimah yang tidak mengerti seluk-meluk apartemen yang baru saja ia tempati memilih untuk berdiam diri di rumah mau bersihkan seluruh apartemen dan menunggu kepulangan Satya yang entah kapan dia akan pulang.


" Kenapa tadi aku tidak bertanya tentang Apartemen ini?" Nama Fatin setelah menyadari kebodohan dirinya yang tak menanyakan seluk-beluk Apartemen ini.


Berada di dalam ruangan selama seharian Bukalah hal yang sulit bagi Fatimah Dia sudah terbiasa berada di dalam ruangan atau bahkan satu lingkup dalam waktu berhari-hari bahkan bertahun-tahun karena sejatinya selama di pesantren Fatimah seperti berada di sebuah penjara yang suci penjara di mana isinya adalah orang yang tengah berjihad melawan kebodohan dan mencari ilmu


'Ceklek'


"Ternyata pin kuncinya masih sama," gumam Farah saat dia mencoba pun di apartemen Satya.


Farah berjalan masuk ke dalam rumah dengan satu tantang makanan yang dulu pernah dia bawa saat mereka masih menjalin hubungan.


"Tumben apartemennya rapi dan wangi?" Farah kembali bergumam saat melihat keadaan apartemen Satya yang jauh berbeda di bandingkan dulu.


Farah terus mm melangkah masuk ke dalam rumah menuju dapur dengan langkah santai dan ringan. Farah bersikap seperti di rumahnya sendiri, tidak ada rasa sungkan atau takut, hingga netra matanya tertuju pada Fatimah yang sedang menata makanan.


"Kamu siapa?" pertanyaan yang seharusnya di tanyakan oleh Fatimah kini malah keluar dari bibir Farah.

__ADS_1


Sedang Fatimah yang ikut terkejut dengan apa yang dua lihat hanya bisa diam seribu bahasa, dia mematung mendapati seorang gadis berpakaian minum masuk ke dalam apartemen tanpa memberi tanda apapun, atau permisi.


'Kenapa gadis ini bisa masuk? bukankah tadi aku sudah mengunci pintunya?' batin Fatimah menatap heran ke arah Farah yang juga terkejut dengan keberadaan Fatimah di hadapannya.


"Kamu yang siapa?" bukannya menjawab, Fatimah malah balik bertanya.


"Aku pacar pemilik apartemen ini, kamu siapa? pembantu barunya?" jawaban yang sungguh menyakitkan hati terdengar dari bibir Farah.


"Pacar?" Fatimah mengulang kata yang cukup membuatnya sakit hati, meski dia tahu dengan pasti jika cinta masih belum tumbuh di antara keduanya, tapi Fatimah yang belajar menerima Satya apa adanya dan mencoba menyingkirkan prasangka buruk tentang sikap Satya yang dingin, ketus dan tidak mau menunaikan kewajiban dan hak Fatimah sebagai seorang istri.


'Apa semua sikap buruknya itu karena dia masih punya pacar?' Fatimah terus membatin dan menerka apa yang sebenarnya terjadi, melihat Farah bisa berasa di hadapannya cukup membuat sejuta tanya yang perlu mendapat jawaban.


"Kenapa hanya diam?" ujar Farah yang kini justru berfikir jika yang berdiri di hadapannya itu seorang pembantu.


"Aku membawakan makanan kesukaan majikanmu, cepat tata di atas meja!" Titah Farah seraya menaruh makanan yang dia bawa di atas meja.


"Singkirkan masakan ini! Satya alergi dengan udang dan satu lagi, buatkan aku minum!" Farah yang mengira jika Fatimah adalah pembantunya memberi perintah seenaknya sendiri pada Fatimah.


"Apa? pembantu?" tanya Fatimah, mengulangi kata-kata Farah, sungguh rasanya saat ini Fatimah ingin melempar sepatula yang ada di tangannya, saat Farah datang Fatimah memang sedang memakai daster panjang dengan kerudung blush yang memang menjadi baju ternyaman saat dia beraktifitas di rumah dan saat ini Fatimah sedang mencuci peralatan masak yang baru saja di pakai, mungkin karena itulah Fatimah di kira seorang asisten rumah tangga atau pembantu.


"Sudah jangan banyak bicara! lebih baik cepat buatkan aku minum!" suara Farah semakin semena-mena, dia terdengar seperti nyonya di apartemen ini.


"Kenapa aku harus membuatkanmu minum? dan kenapa kamu bisa masuk?" bukannya langsung melaksanakan apa yang Farah perintah, Fatimah malah melempar pertanyaan pada Fatimah.


"Yang pertama, aku ini pacarpemilik apartemen ini, yang kedua aku haus, dan yang terakhir, aku ini pacar Satya, pemilik rumah ini, jelas saja aku tahu pasword masuk apartemen ini, karena passwordnya itu tanggal lahirku," tegas Farah yang membuat Fatimah tak berkutik, dia fikir nomor nonor yang di berikan padanya adalah tanggal lahir Satya, tapi apa yang dia duga ternyata salah.

__ADS_1


'Jika pasword pintu itu tanggal lahirnya, berarti pin di kartu ATM ini juga menggunakan tanggal lahirnya,' batin Fatimah.


__ADS_2