
Fatimah terdiam saat mendengar pendapat asisten rumah tangganya yang mengatakan apa yang dia pikirkan.
"Apa mungkin Bik? Aku dan Mas Setia baru saja menikah, Mungkinkah aku bisa merasa cepat itu, Bik?" Tanya Fatimah yang merasa ragu dengan apa baru saja dikatakan oleh asisten rumah tangganya itu, keraguan Fatimah memang memiliki dasar karena saat ini dia baru menikah beberapa bulan dengan Satya.
"Mungkin saja Non, jika Tuhan sudah mentakdirkan maka tidak ada yang mungkin di dunia ini," Ujar Bik Mina, mencoba meyakinkan Fatimah dengan perasangka yang tengah bergemelut dalam hatinya.
"Kamu benar Bik, bagaimana kalau kita periksa ke dokter?" Fatimah yang merasa jika ucapan sang Bibik ada benarnya jugajuga.
"Bibik setuju Non," jawab Bik Mina penuh semangat mengingat jika Tuan majikannya akan segera memiliki momongan.
__ADS_1
"Kalau begitu sekarang Bibik siap-siap saja! kita berangkat ke dokter." Ajak Fatimah yang langsung di ikuti oleh Bik Mina.
"Tunggu Non!" cegah Bik Mina yang baru mengingat sesuatu dan ingin Fatimah yang dia kira lupa juga mengingatnya.
"Kenapa, Bik?" sahut Fatimah menghentikan langkah menoleh ke arah Bik Mina yang memang ada di belakangnya.
"Tidak perlu Bik! jika aku memang sedang hamil nanti biar aku buat kejutan untuknya," Tolak Fatimah yang sebenarnya memang belum sih belum yakin dengan apa yang dikatakan oleh Bik Mina, Fatimah tidak ingin melihat Satya kecewa, karena itulah dia memilih untuk mengecek sendiri apa dia benar-benar hamil atau dia cuma masuk angin.
"Kita mau ke mana Neng?" Tanya seperti pribadi Fatimah yang memang disediakan oleh Satya untuk menemaninya kemanapun dia pergi selama Satya mengerjakan Tugasnya di luar kota.
__ADS_1
"Tolong antar saya ke rumah sakit sekarang!" titah Fatimah Setelah dia mendengar pertanyaan sang sopir.
"Apa Nona sakit?" tanya sang sopir merasa heran dengan permintaan Fatimah yang tiba-tiba mengajaknya ke rumah sakit.
"Ada beberapa hal yang sangat perlu mendapatkan kepastian dan yang aku harapkan tidak ada memberitahukan berita ini dulu kepada Mas Satya," jelas Fatimah dan sang sopir hanya bisa menunduk pasrah sebagai tanda Jika dia setuju atas apa yang baru saja dikatakan oleh Fatimah karena Percuma saja sekalipun dia melanggar apa yang telah diatur oleh Fatimah tetap saja, Satya juga tidak bisa membela Karena dia terkadang juga ikut mendapat hukuman dari Fatimah.
Mobil terus saja melaju menuju parkiran rumah sakit di mana Biasanya keluarga Satya datang ke Rumah Sakit yang di rekomendasikan oleh Satya agar Fatimah datang ke rumah sakit itu jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan atau ketika Fatimah membutuhkan tenaga medis.
"Pak, tunggu aku di sini!" Fatimah kembali memberi perintah setelah dia keluar dari mobil dan berjalan santai masuk ke dalam rumah sakit tanpa memperdulikan sang sopir yang kini tengah mengetik sesuatu dan memberitahukan kepada Satya tentang apa yang dilakukan oleh Fatimah, meski sansekertao jika pesan yang dia kirim tidak akan sampai di ponsel milik Satya tetapi tetap saja sang sopir mengirim pesan agar dia tidak dipersalahkan nantinya dan Satya bisa melihat pesan yang dia kirimkan dan tidak marah kepada sang sopir Karena dia sudah tahu lebih dulu apa yang terjadi kepada Fatimah.
__ADS_1