Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Di Kira Pengantin Baru


__ADS_3

"Aku pergi dulu." Pamit Satya, dia terlihat begitu rapi dengan jas berwarna abu-abu dan celana setelan berwarna senada.


Pagi ini Satya berencana meeting dengan cliennya, karena itulah dia pergi begitu pagi dan untungnya Fatimah yang terbiasa bangun pagi sudah menyiapkan semua kebutuhan Satya, termasuk sarapannya.


"Mas Satya nanti pulang jam berapa?" tanya Fatimah sebelum Satya keluar dari apartemen.


"Entahlah, mungkin sore, atau mungkin malam, lihat nanti saja," jawab Satya.


Fatimah bersyukur karena sekarang Satya bersikap sedikit lebih baik dari sebelumnya, meskipun masih terlihat ada jarak, tapi setidaknya Satya bisa di ajak berbicara.


"Kenapa kamu tanya aku kapan pulang?" Satya yang merasa aneh dengan pertanyaan yang tidak biasa dia dengar kembali bertanya.


Saat ini sudah lebih dari dua Minggu setelah kejadian Farah yang tiba-tiba datang dan meminta kembali dengan Satya, dalam beberapa Minggu Satya bersikap jauh lebih baik dari sebelumnya dan Fatimah sangat bersyukur juga bahagia karenanya, dia semakin yakin jika suatu saat nanti rumah tangga yang tengah dia bangun akan menjadi rumah tangga yang sakinah mawadah warohma juga penuh cinta.


"Sebenarnya kemarin Mama telfon, kita di suruh berkunjung ke rumahnya, karena kita belum pernah ke sana setelah acara pernikahan waktu itu, lagi pula aku juga belum pernah tahu di mana dan seperti apa rumah kamu," jelas Fatimah.


Memang terdengar sedikit aneh saat Fatimah mengatakan jika dia sama sekali tidak pernah tahu di mana rumah Satya, lebih tepatnya rumah kedua orang tua Satya, waktu itu acara pernikahan di laksanakan di gedung, setelah acara pernikahan selesai Fatimah dan Satya juga kedua orang tua mereka langsung menginap di apartemen ketika Fatimah dan Satya pindahan.


"Nanti aku akan pulang jam tiga," Satya yang tidak ingin kena omel sang Mama memilih untuk membatalkan beberapa janji yang tidak terlalu penting agar Satya bisa pulang lebih awal dan berkunjung ke rumah sang Mama.


"Mas Satya mau di masakin apa nanti?" Fatimah kembali bertanya saat dia mengingat jika dia memang harus menyiapkan makan untuk suami tercinta.


"Jangan masak apapun! tunggu aku pulang!" jawab Satya yang memang memiliki rencana lain soal perut.


"Baiklah, kalau begitu aku minta izin padamu," ujar Fatimah yang membuat Satya megernyitkan dahi bingung mendengar apa yang baru saja di ucapkan oleh Fatimah.

__ADS_1


"Izin untuk apa?" tanya Satya yang kini terus menatap bingung ke arah Fatimah yang berdiri di hadapannya.


"Persediaan makanan ringan di lemari es sudah habis, dan ada beberapa barang yang ingin aku beli, karena itulah aku meminta izin padamu," Fatimah menjelaskan maksud dari izin yang baru saja di minta oleh Fatimah.


"Pergilah!" tapi ingat untuk tetap berhati-hati! jaga diri dan jaga hati!" pesan Satya yang justru membuat siapapun senang di saat mendengarnya.


'Setidaknya sikap Mas Satya jauh lebih baik dari sebelumnya,' batin Fatimah sambil menatap punggung Satya yang semakin menjauh dan menghilang di balik pintu.


Fatimah kembali masuk ke dalam apartemen setelah melihat Satya tak terlihat dan pergi, dia melangkah menuju supermarket yang ada di dekat apartemen, memilih beberapa makanan yang memang dia inginkan, dan membeli beberapa bahan masakan yang bisa di masak untuk menu makanan di apartemen.


"Fatimah," suara Fariz yang familier di telinganya terdengar menyapa Fatimah yang sedang memilih beberapa makanan untuk persediaan di apartemen.


"Mas Fariz," sahut Fatimah seraya menoleh ke arah Fariz Yangs Edang berdiri tegak di sampingnya.


"Kamu sedang apa di sini?" tanya Fariz.


"Apartemen? apa kamu sekarang tinggal di apartemen di seberang jalan?" tanya Fariz.


"Iya, apa Mas Fariz juga tinggal di sana?" Fatimah menjawab pertanyaan Fariz dengan sebuah pertanyaan.


"Iya, aku terkadang tinggal di apartemen karena letak apartemen ini lebih dekat dengan rumah sakit di banding dari pesantren," jawab Fariz.


"Benarkah? jadi selama ini Mas Fariz juga tinggal di sini?" sahut Fatimah dengan ekspresi terkejut yang terlihat jelas di wajahnya.


"Itu artinya kita menjadi tetangga," ujar Fariz.

__ADS_1


"Benar," jawab Fatimah.


"Kamu sedang belanja ya?" tanya Fariz saat melihat Fatimah membawa beberapa makanan di troli yang tengah dia dorong.


"Bahan masakan di apartemen habis, dan aku ke sini untuk mengisinya," jawab Fatimah dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


"Loh, suami kamu ke mana? kenapa kamu sendirian?" Fariz kembali bertanya saat melihat Fatimah pergi sendirian tanpa ada yang menemani.


"Suamiku sedang bekerja, karena itulah aku pergi sendirian," Fatimah kembali menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh Fariz.


"Bagaimana kalau aku membantumu membawakannya?" tawar Fariz yang melihat barang bawaan Fatimah cukup banyak.


Sejenak Fatimah terdiam saat mendengar tawaran dari Fariz, ada banyak pertimbangan yang dia pikirkan apa yang akan terjadi jika dia menerima tawaran Faris dan rasa tak enak hati yang timbul jika dia menolak tawaran dari Fariz.


"Hey, Fatimah!" tegur Fariz saat melihat Fatimah justru terdiam dan tak menjawab tawaran yang baru saja dia berikan.


"Eh, iya," spontan Fatimah yang sedikit terkejut dengan teguran Fariz.


"Bagaimana? Apa kamu mau? tenang saja di sini ada banyak orang dan aku tidak akan masuk ke apartemenmu jika suamimu tidak ada di sana, lagi pula aku tidak bermaksud apa-apa aku hanya ingin membantumu saja,"ujar Faris yang mengerti jika saat ini Fatimah tengah merasa bimbang dan bingung dengan jawaban yang akan dia berikan.


"Baiklah, Mas Fariz boleh membantuku selama Mas Fariz tidak terganggu ataupun merasa di repoti karena ini," Fatimah Yang akhirnya menerima menerima tawaran dari Fariz kini melepaskan tangan dari dorongan troli yang ada di hadapannya dan menyerahkannya kepada Fariz yang ada di samping.


Faris yang mendapat kode jika Fatimah sudah setuju dengan tawaran yang diambil troli yang ada di depan Fatimah. Keduanya berjalan beriringan menuju beberapa tempat makanan yang ada di supermarket itu keadaan supermarket memang sangat ramai tapi apa yang dilakukan oleh Faris dan Fatimah seperti seorang pengantin baru yang tengah membeli bahan makanan untuk mengisi rumah mereka.


"Pengantin baru ya, mbak?" tanya pegawai toko yang tengah menghitung beberapa barang yang sudah dibawa oleh Fatimah dan Fariz.

__ADS_1


"Bukan," jawab Fatimah yang tak ingin terjadi kesalah fahaman meskipun Fatimah dan Fariz tidak mengenal kasir yang ada di hadapannya itu, tapi fatimah tidak ingin dia salah faham dang mengira jika Fatimah dan Fariz merupakan sepasang kekasih ataupun suami istri.


__ADS_2