Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Pujian Dari Teman-teman Fatimah


__ADS_3

"Setelah aku sampai di pesantren kamu hanya punya waktu lima menit untuk menghabiskan waktu bersama teman-temanmu setelah itu kita harus pulang! karena aku tidak ingin kemalaman di jalan di jalan," pesan teks masuk ke dalam ponsel Fatimah dan cukup membuat Fatimah mengerti jika apa yang dikatakan oleh Satya memang benar dia tidak bisa berada lebih lama di pesantren mengingat jika saat ini dia sudah tinggal di apartemen Satya yang jaraknya lebih jauh dari rumah.


"Baik, Mas," Fatimah menjawab perintah Satya dan menurutinya tanpa ada niat untuk berdebat ataupun bernegoisasi lagi bagi Fatimah saat ini Satya sudah berkenan mengantarnya ke pesantren sudah lebih dari cukup, Fatimah tidak berharap apapun lagi dari Satya yang masih saja bersikap dingin dan tak menyempurnakan ibadahnya sebagai seorang suami.


Fatimah kembali melangkah masuk ke dalam rumah sesaat setelah sambungan telfonnya tertutup.


"Apa semuanya baik-baik saja, Fatimah?" tanya Zia yang langsung menyambut Fatimah dengan sebuah pertanyaan.


"Mas Satya menanyakan berapa banyak makanan yang harus dia bawa," jelas Fatimah.


"Oh, ternyata, suami kamu diam-diam perhatian juga," sahut Zia dengan senyum yangengemvabg di wajahnya, sedang Fariz yang memang kurang menyukai Satya memilih untuk diam dan pamit pergi meninggalkannya, sedang Fatimah hanya tersenyum menanggapi ucapan Zia.


'Andai kau tau apa yang sebenarnya terjadi?' batin Fatimah menatap penuh kepedihan ke arah Zia yang justru terlihat begitu bahagia setelah tahu jika saat ini Fatimah mendapatkan suami yang begitu menyayanginya.


"Neng Zia," lirih Fatimah dengan ekspresi wajah penuh kebahagiaan yang dia harap bisa meyakinkan Zia jika dia sependapat dengan apa yang baru saja di tunjukkan oleh Zia.


"Iya, kenapa?" sahut Zia yang langsung menoleh ke arah Fatimah dengan tatapan serius.


"Bagaimana kalau kita pergi ke kamar dan menghabiskan waktu bersama yang lain di sana?" tawar Fatimah yang cukup membuat Zia mengerti dan menyetujui apa yang sebenarnya di inginkan oleh Fatimah.


"Baiklah jika seperti itu ayo pergi!" ajak Zia yang merasa jika Fatimah masih ingin menghabiskan sisa waktu yang dia punya di pesantren bersama teman-teman yang lain.


Fatimah dan Zia kembali berjalan masuk ke dalam pesantren dan langsung menuju kamar yang dulu pernah di tempati oleh Fatimah.

__ADS_1


Semua terasa begitu singkat dan cepat, Fatimah yang merasa begitu bahagia karena bisa bertemu dengan semua teman yang dulu pernah menjadi orang yang paling dekat dengannya selama berada di pesantren.


'Thing'


"Aku di depan gerbang masuk ke pondok Putri, kemarilah!" Satu notif pesan yang terdengar dan masuk ke dalam ponsel Fatimah membuatnya merasa sedikit sedih, karena pesan yang dia dapat berasal dari, karena pesan yang didapat berasal dari ponsel Satya yang tak lain adalah suaminya sendiri jika perusahaan itu sudah masuk berarti Fatimah harus segera pergi dan pulang.


"Ada apa, Fatimah? "Tanya Zia saat melihat ekspresi wajah sedih yang kini langsung muncul di wajah Fatimah tanpa sebab yang tidak diketahui oleh Zia.


"Suamiku sudah datang ke pesantren dia sudah berada di depan gerbang dan menungguku saat ini karena itulah aku permisi dulu ya." Pamit Fatimah kepada semua teman-teman yang sedang duduk di sana.


"Apa kamu mau langsung pulang, Fatimah?" tanya salah satu teman Fatimah saat melihat dia hendak berjalan meninggalkan kamar.


"Tidak, aku mau mengambil makanan setelah itu aku akan kembali ke sini lagi," jawab Fatimah.


Fatimah melangkah meninggalkan kamar menuju halaman depan pesantren، di mana Satya sudah menunggu nya dengan wajah yang terlihat seperti seseorang yang tengah jenuh menunggu


Menurutnya dia sudah perbaiki hati mengantarkan Fatimah dan menuntut semua keinginannya hari ini karena itulah saat dia tidak ingin menunggunya terlalu lama lagi.


"Aku akan segera kembali, dan aku tidak akan lama mas Satya," sahut Fatimah yang mengerti dengan apa yang di rasakan oleh Satya saat ini.


"Bagus, cepatlah!" Sahut Satya.


Fatimah merasa senang meskipun dia sudah diancam tapi Satya sudah berbaiki hatimu mengantarnya dan menunggunya di pesantren, hal yang memang ingin dia lakukan sehari setelah hari pernikahannya waktu itu.

__ADS_1


Fatimah kembali ke kamar memberikan semua bakso yang dia pesan dan membaginya, tak lupa dia juga memberikan bakso yang baru saja diberikan oleh Satya kepada Neng Zia dan keluarganya, Fatimah memang merasa bahagia karena bisa ke pesantren hari ini, rasanya ingin sekali Fatimah berada di pesantren ini jauh lebih lama, tapi Fatimah sadar jika saat ini dia sudah punya suami dan kehidupan baru yang harus dia jalani, karena itulah Fatimah harus berpamitan dan kembali pulang bersama Satya yang kini sudah menjadi suaminya.


"Apa sudah selesai?" tanya Satya saat melihat Fatimah baru saja keluar dari wilayah pesantren putri.


"Sudah, Mas," jawab Fatimah.


Fatimah memang keluar dari gerbang sendirian, tapi di balik pintu gerbang ada banyak santriwati yang tak lain teman sekamar Fatimah yang tengah mengintip Fatimah dan melihat bagaimana rupa suami Fatimah.


"Wahh suami Fatimah tampan sekali," puji teman Fatimah.


"Dia terlihat berwibawa, tegas dan kaya," sahut Teman Fatimah yang lain.


"Benar juga," celotehteman-teman Fatimah yang memuji Satya yang memang sebenarnya tampan.


"Bagus, ayo pulang!"ajak setia yang sebenarnya sudah merasa bosan berada di dalam pesantren karena sejak tadi dia hanya diam dan tidak punya teman untuk diajak bicara.


"Besok sore kamu harus bersiap!" ujar Satya sesaat setelah keduanya sudah berada di dalam mobil.


"Bersiap bagaimana maksudnya?" sahut Fatimah yang merasa bingung dengan perintah yang baru saja dikatakan oleh Satya.


"Hari ini aku sudah menuruti semua keinginanmu, aku juga sudah mengantarmu ke pesantren, membelikanmu makanan, dan aku juga sudah menunggumu yang tengah berkumpul dengan teman-temanmu jadi besok kamu harus ikut aku berkumpul dengan teman-temanku!" setia menjelaskan maksud dari apa yang baru saja dia jelaskan.


Sejenak Fatimah terdiam mendengar apa yang diperintahkan oleh Satya, ada banyak hal yang dipertimbangkan oleh Fatimah tapi Fatimah tidak mungkin menolak perintah Satya, apalagi suaminya itu sudah menuruti semua yang dia inginkan dan mengantarnya ke pesantren, karena itulah Fatimah memilih untuk menuruti semua yang Satya perintahkan meski sebenarnya jauh dalam hatinya Fatimah takut jika dia tidak cocok dengan teman-teman Satya.

__ADS_1


"Besok aku akan ikut denganmu, Mas," jawab Fatimah dengan senyum yang membuat siapapun terpanah karenanya.


"Bagus, kamu harus bersikap semanis mungkin dan berpakaian sepantas mungkin! jangan permalukan aku!" tegas Satya yang semakin membuat Fatimah merinding setelah mendengar peringatan yang di katakan oleh Satya.


__ADS_2