
"Apa kita mengikuti lokasi yang baru saja Tuan kirimkan ke ponsel saya?" tanya Pak Santo yang baru saja mendapat pesan singkat di ponselnya dari Satya.
"Iya, ikuti sharelock yang baru saja aku kirimkan ke kamu!" Jawab Satya tegas.
Ponsel Pak Santo memang direkatkan di sebelah tempat dia menyupir biasanya Pak Santo menggunakan Google map ketika dia tidak tahu arah ke mana dia harus pergi, Google map yang digunakan sangat membantu perjalanannya.
Mobil terus berjalan menyusuri jalan raya yang terlihat begitu lenggang hari ini, entah kenapa tampak beberapa orang saja yang lewat dalam beberapa kendaraan dan juga jalan kaki, biasanya jalanan yang saat ini dilewati Satya merupakan jalan utama yang biasanya akan sangat ramai.
"Pergilah! Aku akan menelponmu nanti jika aku sudah selesai dengan urusanku," titah Satya pada Pak Santo.
"Baik, Tuan," sahut Pak Santo memang sering mendapatkan perintah yang baru saja diperintahkan oleh Satya, sebuah perintah yang terdengar terdengar sederhana tapi sangat sulit untuk dijalankan oleh Pak Santo, pasalnya dia tidak tahu kapan Satya akan pulang dan selesai dengan urusannya, karena itulah Pak Santo tidak pernah bisa pergi terlalu jauh dari tempat mengantar sang tuan karena dia khawatir jika pergi terlalu jauh dan Satya sudah selesai dan urusannya sedang Pak Santo pergi terlalu jauh maka dia bisa disalahkan karena Satya pasti akan menunggu Pak Santo kembali untuk menjemputnya.
'Apa yang sudah dilakukan bi Husna pada ibu Halimah?' batin Satya terus bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi pada sang ibu mertua, rencana yang telah dia ketahui sejak lama membuat satya berpikir negatif tentang Bibik Husna dan mencurigainya saat terjadi sesuatu pada ibu Halimah.
'Ceklek,'
__ADS_1
Perlahan tapi pasti Satya membuka pintu ruangan Ibu Halimah dan tampaklah Fatimah yang sedang menundukkan kepala sembari memegang tangan sang ibu, meski tak ada suara tangisan yang terdengar tapi Satya begitu yakin jika saat ini istrinya itu tengah menangis.
"Tenangkan dirimu! Percayalah, semua akan baik-baik saja," suara lembut Satya terdengar menyapa telinga Fatimah yang kini tengah menangis tanpa suara, meski air matanya mengalir begitu jelas tapi tak ada suara sedikitpun terdengar di sana, tangan lembut yang semalam memeluknya dengan erat kini terasa mengusap lembut kepalanya, ada rasa sayang yang coba ditunjukkan oleh Satya kepada Fatimah dan dirasakan olehnya, sebuah ketulusan yang selama ini dilakukan oleh Fatimah kini benar-benar dia rasakan, suara dan sentuhan lembut Satya membuat Fatimah sadar jika saat ini dia tidak sendirian, tanpa banyak berpikir Fatimah mendongak menatap sebentar ke arah Satya yang kini sudah sah menjadi suaminya kemudian tanpa diduga Fatimah langsung memeluk Satya yang kini berdiri di sampingnya mencoba mencari ketenangan yang lebih dari dalam diri Satya, dengan begitu Fatimah berharap rasa sakit dan rasa sedih yang dia rasakan saat ini bisa sedikit berkurang atau bahkan menghilang setelah dia memeluk Satya yang ini sudah sah menjadi suaminya, cukup lama keduanya berpelukan hingga suara seorang laki-laki yang sangat familiar di telinga Fatimah dan Satya membuat keduanya melepaskan diri dari pelukan yang sebenarnya memberikan kekuatan bagi Fatimah.
"Maaf mengganggu, aku hanya ingin memberikan ini, jangan lupa panggil aku sesaat setelah ibumu sadar!" Ujar Faris, tadi sebelum Faris keluar dari ruangan dia lupa untuk memberikan sebuah kalung yang ada di tangan Ibu Halimah saat dia dibawa ke rumah sakit.
"Terima kasih, dokter Faris," sahut Fatimah seraya mengambil kalung yang baru saja di sedorkan ke arah Fatimah.
"Sama-sama, kalau begitu aku permisi." Pamit dokter Faris yang langsung meninggalkan ruang rawat inap Ibu Halimah tanpa ada kata lagi ataupun menolak ke arah belakang.
"Mas Satya kenapa? apa ada yang aneh?" tanya Fatimah menata barang ke arah Satya yang masih saja menatap ke arah pintu dengan tatapan penuh kebencian.
"Kenapa Faris bisa memegang kalung milik ibumu? Apa sebelumnya kalian janjian di sini? atau kalian memang memiliki hubungan di belakangku?" Bukannya menjawab pertanyaan dari Fatimah, saatnya justru mencerca Fatimah dengan berbagai pertanyaan yang sangat sulit untuk dipercaya jika Satya menanyakan hal itu sekarang.
"Apa maksudmu, Mas?" Sahut Fatimah sambil mengurutkan dahi bingung dengan pertanyaan yang baru saja diungkapkan oleh Satya.
__ADS_1
"Apa kamu masih belum mengerti dengan maksud dari apa yang baru saja aku katakan?" sahut Satya sembari menatap tajam ke arah Fatimah.
Sejenak Fatimah terdiam memikirkan maksud dari setiap kata yang di ucapkan oleh Satya, hingga Fatimah mengerti dan memahami jika sebenarnya Satya berfikir buruk tentang dia dan Faris.
Fatimah menghirup udara dalam kemudian menghembuskannya perlahan, "Mas Satya, jika maksud dari semua pertanyaan yang baru saja kau ucapkan itu karena tadi ada Faris di ruangan ini dan Mas mengira aku sudah menghianatimu, maka Mas salah besar," ujar Fatimah tegas, kini dia melangkah mundur sedikit menjauh dari Satya.
Fatimah melirik sekilas ke arah Ibu Halimah yang terbaring lemah di sampingnya, kemudian menarik tangan Satya dan mengajaknya keluar dari ruang inap sang Ibu.
"Mas," lirih Fatimah sambil meraih kedua tangan Satya, keduanya berada di depan ruang rawat inap sang Ibu.
"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada ibuku, begitu pula dengan Mas Faris yang ternyata bertugas menjaga ibuku, dia adalah dokter di sini dan ini adalah rumah sakit milik keluarganya, sedikitpun aku tidak pernah berniat untuk menghianati Mas Satya, apalagi sampai merencanakan semua ini, siapa yang ingin melihat ibunya terlalu lemah di atas brankar rumah sakit mas? dan siapa yang ingin berada di tempat seperti ini? andai aku bisa memilih dan andai aku bisa meminta, aku ingin melihat Ibuku sembuh, sehat dan bisa beraktivitas seperti dulu, sungguh aku tidak ingin melihat Ibuku seperti ini dan aku juga tidak bisa menolak Mas Faris untuk mengobati ibuku, untuk kali ini saja, aku mohon padamu, mengertilah!" Ujar Fatimah dengan suara lemah yang menandakan jika dia tengah merasa lelah dengan apa yang terjadi dan cobaan yang telah menimpanya, sedang Satya hanya terdiam menatap Fatimah yang kini menunduk dengan air mata yang terus mengalir tanpa suara.
"Maafkan aku," bisik Satya tepat di telinga Fatimah, dengan gerakan cepat Satya langsung memeluk Fatimah dan mencoba memberi kekuatan kepada istrinya itu, melihat air mata dan mendengar setiap kata yang keluar dari bibir Fatimah membuat Satya sadar jika saat ini bukanlah waktu yang tepat untuknya cemburu atau memikirkan Faris yang kini telah mengobati dan mengawasi Ibu Halimah.
"Maafkan aku, Fatimah,"sekali lagi Satya berbisik dan mengucapkan kata maaf yang terdengar begitu tulus dari hatinya yang paling dalam.
__ADS_1