
"Ada yang bisa saya bantu Nona?" tanya seorang dokter wajah tampan yang kini duduk manis di hadapan Fatimah.
"Apa benar ini ruangan dokter bagian obgyn?" Fatimah mencoba meyakinkan dirinya jika dokter yang ada di dalam ruangan itu adalah dokter bagian obgyn yang bertugas memeriksa kandungan.
"Benar, tapi saya sebenarnya sedang menggantikan tugas dokter Cynthia yang berhalangan hadir hari ini," jelas dokter yang bername tag Zein.
"Begini dok, saya sering kali merasa mual dan tidak enak badan bahkan sampai muntah-muntah di pagi hari, Saya ingin memeriksakan diri apakah saya benar hamil atau hanya masuk angin," Fatimah mengungkapkan semua rasa penasaran yang sejak tadi mengendap dalam hatinya.
"Apa Anda sudah memeriksanya dengan alat tes kehamilan?" Dokter Zain Kembali bertanya.
"Belum dokter," jawab Fatimah.
__ADS_1
" kalau Anda belum mengetes mana mungkin saya bisa memastikan jika anda sedang hamil atau tidak kalau begitu lebih baik anda melakukan tes terlebih dahulu menggunakan alat mesin jika memang sudah positif maka anda bisa kembali ke sini atau Anda mau mengeceknya di sini?" Terang dokter Zain yang sebenarnya memang bukan Dokter khusus bagian obgyn dia hanya menghentikan tugas dan dia akan kerjanya yang saat memukul karena memiliki kepentingan keluarga.
"Kalau begitu biar aku tes sendiri di rumah dokter kalau sudah aku akan langsung ke sini dan memberitahukan hasilnya kepada dokter, untuk memastikan jika hasilnya benar atau tidak nanti," ujar Fatimah yang merasa sadar jika Apa yang dia lakukan memang terlalu gegabah, tadi dia tidak berpikir untuk membeli alat tes kehamilan tapi justru langsung pergi ke rumah sakit.
"Saya permisi, Dok." pamit Fatimah yang langsung berdiri meninggalkan ruang obgyn dan kembali pulang.
"Dari mana kamu?" suara Satya menyambut kedatangan Fatimah yang baru saja menginjakkan kaki di ruang tamu.
Satya yang awalnya merasa kesal karena tak mendapati Fatimah di rumah ketika dia pulang lebih awal berniat untuk memberi kejutan padanya, seketika menghilang, semua sirna entah kemana, bagaimanapun pelukan rindu yang di berikan Fatimah mampu mengubah suasana hati Satya saat ini.
"Kamu dari mana saja, Sayang?" bisik Satya yang kini masih memeluk Fatimah dnegan sangat erat.
__ADS_1
"Aku baru saja pulang dari rah sakit, Mas," jawab Fatimah.
Mendengar jawaban Fatimah membuat Satya terkejut, dia langsung melepas pelukan dan memeriksa apa yang telah terjadi selama dia pergi, rasa khawatir langsung menguasai Satya.
"Kamu sakit? apanya yang sakit? coba katakan kenapa kamu ke rumah sakit, Sayang?" rentetan pertanyaan keluar dari bibir Satya yang langsung memeriksa tubu Fatimah dan mencoba mencari bagian tubuh mana yang sakit.
Fatimah hanya bisa diam tak bergerak menatap heran ke arah Satya yang masih setia memeriksa tubuh Fatimah memastikan jika tidak ada bagian yang terluka.
"Aku baik-baik saja, Mas, tidak perlu sekhawatir itu," ujar Fatimah yang tidak ingin melihat Satya semakin khawatir dengan keadaannya.
"Terus, kamu ngapain ke rumah sakit?" tanya Satya sambil menatap lekat ke arah Fatimah.
__ADS_1