Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Ada Apa, Om?


__ADS_3

"Mas, berhenti di depan!" pinta Fatimah yang semakin membuat Satya bingung.


Suara Fatimah memecah keheningan yang terjadi di dalam mobil, sejak pertama kali masuk ke dalam mobil, suasana di dalamnya begitu hening seperti tak berpenghuni, semua itu terjadi karena Satya dan Fatimah Sama-sama diam tanpa ada niat untuk memulai percakapan.


"Kamu mau ngapain turun di depan?" tanya Satya.


"Ada sesuatu yang ingin aku lakukan, tolong turunkan aku di depan sebentar," jawab Fatimah.


Satya yang penasaran tapi tak bisa memaksa Fatimah untuk menjelaskan padanya memilih untuk mengikuti apa yang Fatimah inginkan dan melihat apa yang di lakukannya dari pada memaksanya bercerita.


Sesuai dengan keinginan Fatimah, kini Satya menghentikan mobilnya tepat di depan kolong jembatan, tanpa ada ragu atau kata Fatimah berjalan keluar dari mobil dengan beberapa bungkus makanan yang tadi sempat di isi uang oleh Fatimah.


"Kamu mau ngapain ke sana Fatimah?" tanya Satya saat melihat Fatimah hendak turun dan keluar dari mobil.


"Aku ingin memberikan makanan dan sedikit yang ini untuk anak-anak yang ada di sana." jawab Fatimah sambil menunjuk ke arah beberapa anak jalanan yang sedang duduk di tepi jalan dengan gitar yang ada di pangkuannya.


"Jangan ke sana! biar aku yang memanggilnya," cegah Satya yang tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Fatimah, di tempat ini sering sekali terjadi tindakan kejahatan, jika Fatimah memaksa diri untuk pergi Satya tidak bisa menjamin keselamatanya, sebenar nya tidak berpengaruh juga Fatimah mau celaka atau tidak, hanya saja Satya tidak ingin di salahkan oleh Ibu mertuanya jika terjadi hal buruk pada puterinya saat sang putri pergi bersamanya, pasalnya saat ini hari sudah cukup malam.


"Apa mereka mau jika di panggil?" tanya Fatimah dengan ekspresi wajah ragu.


"Siapapun tidak akan menolak jika akan di beri uang, apa lagi uang yang di berikan cuma-cuma seperti yang akan kamu lakukan itu.


Satya turun dari mobil dan melambaikan tangan memberi tanda jika dia sedang memanggil beberapa anak kecil yang duduk di tepi terotoar sambil menyanyi dengan riangnya.


Tanpa Fatimah duga, beberapa anak kecil datang dengan senyum polos mereka.


"Ada apa, Om?" tanya salah satu dari beberapa anak yang berjalan mendekat.


"Istriku ingin memberikan sesuatu untuk kalian, ikut aku;" jawab Satya.

__ADS_1


Beberapa anak kecil yang tadi mendekat kini mengikuti langkah Satya yang berjalan mendekat ke arah tangan.


"Benarkah?" tanyanya lagi.


"Mendekat saja! Aku tidak akan membohongimu," sahut Satya dingin, dia kini berjalan kembali masuk ke dalam mobil tanpa perduli dengan anak kecil yang tadi dia panggil.


"Sini!" Fatimah melambaikan tangan memberi tanda agar anak kecil yang tadi di panggil Satya mau mendekat.


"Ada apa, Bu?" tanya anak kecil itu.


"Ini untuk kalian makanlah' dan pergunakan uangnya dengan baik, dan ingat! jangan di habiskan sendiri! berbagilah degan yang lain!" pesan Fatimah setelah memberikan bungkusan makanan yang tadi dia bawa ke anak-anak yang terlihat senang menerima nya.


"Terima kasih Bu, semoga rezekinya semakin lancar," ujarnya dengan senyum gembira.


"Sama-sama," jawab Fatimah.


'Ternyata, sifat Fatimah tak pernah berubah,' batin Satya.


Mobil terus melaju hingga sampai di halaman rumah Fatimah, seperti biasa Fatimah dan Satya tak saling bicara hingga keduanya masuk ke dalam rumah.


"Kalian sudah pulang," sambut Ibu yang terlihat baru keluar dari kamar mandi.


"Sudah Ibu, ini ada martabak kesukaan Ibu," Fatimah memberikan martabak yang tadi sempat di belikan oleh Satya saat mereka sedang berada di jalan.


"Wah Terima kasih," sahut Ibu dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


"Bu, Satya ke kamar dulu." Pamit Satya melenggang pergi meninggalkan kedua wanita yang sedang asyik mengobrol.


Satya langsung membersihkan diri sesaat setelah sampai kamar kemudian melangkah merai bantal dan selimut dan langsung tidur di atas sofa, untuk sementara waktu Satya memilih tidur di sofa dari pada di kasur bersama Fatimah, dia masih belum bisa menahan diri jika berdekatan dengan Fatimah, meski sebenarnya mereka sudah sah, tapi rasa benci dan dendam Satya belum terbalaskan, saat ini adalah awal dari segalanya.

__ADS_1


Fatimah tidak langsung masuk, dia memilih menemani sang Ibu di ruang keluarga menonton film bersama.


"Fatimah," panggil sang Ibu dengan suara lembutnya.


"Iya, Ibu," sahut Fatimah,


"Kamu sudah memiliki kewajiban, Nak, pergi dan temani suamimu!" Jawab Ibu.


"Tapi Fatimah masih ingin menemani Ibu," sahut Fatimah mencoba menjelaskan apa yang sedang dia lakukan.


"Ibu tidak apa-apa sendirian, lagi pula Fatimah bukan anak kecil lagi yang butuh di temani atau menemani Ibu, lebih baik Fatimah susul Satya," titah Ibu Halimah yang sangat mengerti dengan tugas dan apa yang harus di lakukan Fatimah.


"Baiklah, Fatimah ke kamar dulu, Bu." Pamit Fatimah yang langsung melangkah masuk ke dalam kamar.


'Loh, kenapa Satya malah tidur di sofa? apa dia tidak suka tidur di sampingku?' batin Fatimah merasa aneh dengan apa yang di lakukan oleh Satya saat ini.


Melihat sikap Satya membuat Fatimah bingung, kenapa sampai saat ini Satya tidak meminta haknya, jangankan meminta hal, bahkan saat ini Satya justru memilih tidur di sofa dari pada bersamanya di atas kasur.


'Apa yang sebenarnya terjadi? sebenarnya apa tujuanmu menikahiku Mas Satya?' batin Fatimah kembali bertanya-tanya sambil menatap lekat ke arah Satya yang terlihat lelap dalam tidurnya.


Tanpa bisa berkata, Fatimah berdiri berjalan mendekat ke arah Satya yang tidur dengan selimut berantakan, Fatimah membenarkan selimut Satya seraya berkata.


"Semoga suatu saat aku bisa tahu apa yang sebenarnya kau rencanakan Mas? tapi selama itu aku akan tetap berbakti padamu," lirih Fatimah sambil membenarkan selimut Satya.


Mendengar ucapan Fatimah sedikit meluluhkan hati Satya yang keras, meski begitu Satya tetap memejamkan mata meski dia tidak terlelap.


'Maaf Fatimah, rasa sakit akibat penolakanmh dulu masih tergambar jelas di wajahku,' sahut Satha dalam hati, dia etap berpura-pura tidur dan tak mendengar apapun, sedang Fatimah kembali melangkah menjauh dari Satya, membersihkan diri dan ikut melakukan hal yang sama dengan Satya di tempat yang berbeda.


"Semoga besok akan menjadi hari yang lebih baik dari sekarang," lirih Fatimah yang kini menarik selimut dan muali berbaring di sana.

__ADS_1


Malam penuh kejadian kini tengah berlalu, meninggalkan sebuah kenangan yang mungkin akan terus di ingat oleh semua hamba yang bernafas di kemudian hari.


__ADS_2