
Mama Nia langsung berlari mendekat ke arah Satya yang terlihat kelimpungan dengan Fatimah yang terus merintih kesakitan sambil memegang perutnya.
"Apa yang terjadi Satya? Fatimah kenapa?" tanya Mama Nia mencoba memeriksa Fatimah, hingga pandangan matanya tertuju pada tetesan air yang terlihat di kaki Fatimah.
"Itu pasti air ketuban, ayo cepat bawa Fatimah ke rumah sakit!" perintah Mama Nia yang langsung di turuti oleh Satya.
Mobil melaju cukup cepat menuju rumah sakit, hati yang campur aduk mengetahui jika sebentar lagi calon bayi yang dia tunggu akan segera hadir, meskipun sesekali rasa tidak tega terlintas di benak Fatimah, tapi sekuat tenaga Satya mencoba menguatkan diri agar Fatimah bisa melewati masa sulit persalinan ini dengan baik.
"Dokter!" Satya seperti seseorang yang kesetanan, melihat istrinya terus mengeluh membuatnya gelap mata, tanpa melihat situasi Satya berteriak sekuat tenaga tatkala melihat dokter langganan nya berdiri tidak jauh dari tempatnya berada.
"Tuan Satya, apa yang Tuan lakukan di sini? apa yang terjadi dengan Nona?" respon sang dokter yang juga ikut panik melihat Satya panik.
"Dia mau melahirkan, tolong lakukan yang terbaik untuk istri saya, berapapun biayanya, aku akan membayarnya," seru Satya yang mendapat anggukan dari dokter langganannya itu.
"Baik, Tuan," sahut sang dokter yang langsung membawa brankar Fatimah yang berada di atasnya ke dalam ruang bersalin.
"Mas, temani aku! aku takut," rengek Fatimah yang langsung meraih pergelangan tangan Satya ketika dia mendapat peluang untuk melakukannya.
Suasana ruang bersalin terasa begitu mencekam dan menakutkan, di campur jerit rasa sakit dari bibir Fatimah semakin memperparah perasaan Satya, hingga tanpa terasa tetes demi tetes air mata membasahi pipi Satya.
__ADS_1
'Aku akan selalu mencintai dan menyayangimu Fatimah, kamu akan mencari istri satu-satunya dalam hidupku,' batin Satya seraya mencium dahinya dan menggenggam erat tangan Fatimah, mencoba memberi kekuatan untuk Fatimah yang sedang berjuang.
Oek ... Oek ... Oek ....
Jerit tangis seorang bayi menandakan jika Satya junior sudah lahir.
"Selamat ya Tuan, anaknya seorang laki-laki," tutur seorang dokter yang sejak tadi menangani kelahiran putera Satya.
Raut bahagia terlihat jelas di wajah Satya, sejenak dia terlihat diam mematung memandang penuh takjub ke arah bayi yang ada di hadapannya itu, rasa syukur tak luput terucap dari bibirnya, meski pelan tapi Satya terlihat begitu bersyukur dengan apa yang dia dapat saat ini.
"Bagaimana Satya? apa semuanya baik-baik saja?" tanya sang Ibu sesaat setelah semua proses persalinan selesai dan Satya keluar dari ruang bersalin menunggu Fatimah yang sedang di tangani dan akan di pindah ke ruang pasca persalinan.
"Akhirnya aku menjadi Ayah, Ma," satu kalimat yang mampu menjawab seluruh pertanyaan sang Mama yang langsung mengucapkan kata syukur seraya memeluk erat Satya sebagai tanda jika dia tengah merasa bahagia atas apa yang telah di katakan oleh Satya.
"Aku punya seorang putera Ma, dia sangat tampan," sambung Satya yang semakin membuat Mama Nia merasa bahagia karenanya.
Sungguh lengkap sudah kebahagiaan Satya dan Mama Nia, mereka mendapatkan menantu, istri sekaligus putera dan cucu yang begitu baik, tak ada lagi hal yang mereka inginkan selain kebahagiaan yang Mama Nia harap bisa mereka dapatkan.
Kadang kala kita memang harus merelakan sesuatu demi sesuatu yang jauh lebih berharga, harta memang di butuhkan untuk menunjang sebuah kehidupan, tapi ingatlah! harta itu bukan segalanya, masih ada hal paling berharga yang harus di utamakan yaitu keluarga.
__ADS_1
"Mas," lirih Fatimah sesaat setelah dia di pindahkan ke ruang rawat pasca melahirkan.
"Iya, ada apa, Sayang? apa ada sesuatu yang kamu inginka?" tanya Satya yang langsung memusatkan perhatian ke arah Fatah setelah tadi fokus menatap layar ponsel mengecek semua email yang di kirim karyawannya.
Fatimah memang belum di izinkan pulang karena kondisinya masih lemah, karena itu dia harus menginap sejak kemarin dan hari ini dia di izinkan pulang setelah sang Dokter memeriksa keadaannya.
"Jika kita pulang nanti, apa Mas Satya bersedia jika aku mengajak Mas Satya pulang ke rumah yang Ibu berikan? aku tidak akan tinggal selamanya di sana, aku hanya ingin tinggal beberapa bulan saja, setidaknya sampai aku benar-benar sembuh, satu atau dua bulan," pinta Fatimah dengan penuh kehati-hatian dia berucap.
"Tentu saja, asisten pribadiku sudah mengecek semuanya, dan rumah itu memang sudah siap untuk di tempati, kamu juga bisa mengurus tokoh kelontong yang Ibu berikan, tapi untuk mengurusnya kamu bisa melakukannya nanti setelah anak kita sudah besar, untuk sementara biarkan orang kepercayaan Ibu yang mengurusnya," jawaban mengejutkan keluar dari bibir Satya, sungguh Fatimah tak pernah menyangka jika Satya akan langsung menyetujui keinginannya, padahal sebenarnya sekarang Satya bukanlah Satya yang dulu, jangankan pindah rumah, Satya bahkan akan melakukan apapun yang Fatimah inginkan, semua itu karena Satya sudah mencintai Fatimah bahkan sangat mencintainya.
"Terima kasih, Mas," ucap Fatimah sambil Tersenyum ke arah Satya yang ikut tersenyum melihatnya.
"Sudah jangan fikirkan apapun! lebih baik kamu istirahat agar cepat pulih," titah Satya yang langsung di turuti oleh Fatimah.
Hidup Fatimah begitu bahagia, dia memiliki putera yang tampan, mertua yang penuh perhatian dan kasih sayang lengkap dengan suami yang begitu menyayanginya, hidupnya benar-benar sempurna dan semua itu dia dapat karena rasa sabar yang selalu dia terapkan, hal ini jauh berbeda dengan hidup Bik Husna, setengah tahun setelah kepergian Ibu Halimah, Bik Husna di tipu oleh rekan bisnisnya dan jabar terakhir yang di dapat oleh Fatimah, dia kini hidup di kontrakan kecil sambil berjualan rujak sebagai penumpang hidupnya, begitulah akhir cerita dari seorang Bibik yang serakah.
Tamat
NB : kakak2 untuk cerita Satya dan Fatimah sudah tamat sampai di sini ya, cerita Satrya dan Zia juga Fariz akan author buat di novel yang lain dengan judul yang berbeda, tapi author masih mikirin jalan cerita yang menarik untuk cerita mereka, untuk sementara author mau buat novel baru judulnya MY First Love, ceritanya insya allah tak kalah nenariknya dengan yang ini, dan cerita ini sudah author siapkan beberapa bulan yang lalu, jadi author tunggu di novel berikutnya, salam manis dariku untuk kalian pembacaku yang paling baik.
__ADS_1
oh ya, author pengen kenal kalian, bagaimana kalau kita buat group chat? kalau setuju komen ya, atau yang udh follow bisa langsung chat pribadi lewat akun ini,