Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Perasaan Nyaman Satya


__ADS_3

Setelah merasa semua sudah rapi dan rambutnya sudah bisa diatur Fatimah berjalan kembali mendekat ke arah kasur di mana saja yang masih duduk menatap ponselnya.


Mendengar suara langkah kaki yang di yakini jika alangkah itu milik Fatimah, Satria langsung menoleh ke arah asal suara Kak langkah kaki itu.


"Apa kamu Fatimah?" Pertanyaan lucu terlantar dari bibir Satya yang kini menatap penuh heran ke arah Fatimah yang berjalan ke arahnya.


"Tentu saja, memangnya kenapa?" sahut Fatimah yang merasa heran dengan pertanyaan Satya yang terdengar lucu dan aneh di telinganya.


Satya sejenak terdiam hingga dia mengingat jika tadi siang Fatimah pergi bersama sang mama dan Satya yakin jika perubahan yang dialami oleh Fatimah merupakan hasil karya dari sang mama.


"Jangan bilang tadi kamu pergi ke salon!" Ujar Satya yang membuat Fatimah sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Satya, bagaimana dia bisa tahu kalau tadi sama mama ngajaknya pergi ke salon?


"Mas Satya tahu dari mana kalau aku tadi pergi ke salon?" bukannya menjawab pertanyaan Satya, Fatimah malah menjawab pertanyaan Satya dengan sebuah pertanyaan.


"Tentu saja aku tahu, rambutmu bisa berubah seperti itu pasti ulah mama," tebak Satya yang memang tepat sekali.


Fatimah tersenyum mendengar tebakan saat dia yang memang benar, sungguh Fatimah tidak menyangka jika Satya akan seperhatian itu, diam-diam Satya memperhatikan perubahan yang ada pada diri Fatimah dan hal itu membuat Fatimah cukup senang.


'kenapa jantungku semakin berdebar melihat senyuman Fatimah, ah sial! Fatimah terlihat semakin cantik dengan perubahan rambutnya, Mama memang paling bisa memake over seorang gadis,' batin Satya yang merutuk dirinya sendiri, karena saat ini dia terpesona dengan perubahan yang terjadi pada diri Fatimah dan dia menyesal karena telah mengizinkan Fatimah pergi bersama sang mama.


"Mas Satya!" Tegur Fatimah yang merasa heran dengan apa yang terjadi pada Satya sang suami, sejak tadi dia hanya terdiam mematung menatapnya penuh kagum, Fatimah yang tidak ingin merasa kepedean mencoba menyadarkan dirinya sendiri jika saat ini Satya hanya terkejut padanya.


"Tidurlah!" Titah Satya yang tidak ingin terbawa suasana yang akan membawa dirinya larut dalam pesona Fatima.


'Dasar aneh,' batin Fatimah melihat tingkah Satya yang memang terlihat aneh malam ini, meski begitu Fatimah tetap menuruti apa yang di perintahkan sang suami, dia melangkah mendekat dan tidur tepat di samping Satya.

__ADS_1


Awalnya terasa biasa saja, hingga aroma tak biasa tercium di hidung Satya, dan Satya sadar jika aroma menggoda yang kini menguasai panca Indra penciumannya itu berasa dari Fatimah.


'Sial, ini pasti ulah Mama,' gerutu Satya dalam hati.


Satya yang mengenal dengan baik seperti apa kelakuan sang Mama menduga jika apa yang terjadi saat ini pasti ulah sang Mama, aroma menggoda membuat si Joni yang tertidur pulas kini terbangun tanpa bisa di perintah untuk tidur.


'Besok ada meeting pagi, tidak mungkin aku berendam malam-malam seperti ini, kalau aku memaksa bisa di pastikan besok aku akan demam, tapi aku juga tidak bisa menyalurkannya sekarang, rasanya masih gengsi untuk melakukannya,' Satya terus berperang dengan pemikirannya sendiri, padahal jika di lihat dengan seksama, sudah menjadi haknya dan kewajibannya memberi nafkah batin untuk dirinya dan Fatimah yang kini sudah sah menjadi istrinya itu, tapi gengsi dan ego yang tinggi mampu mengalahkan semua keinginan dan pengetahuan Satya tentang hak dan kewajibannya.


Cukup lama Satya terdiam, matanya memang tertutup, tapi telinganya masih mampu mendengar, hingga suara deru nafas Fatimah yang terdengar teratur dan halus terdengar jelas karena keheningan malam, hal itu membuat otak Satya memunculkan sebuah ide yang begitu cemerlang.


Dengan gerakan cepat seperti seseorang yang sudah lelap dan tidak lagi sadar, Satya langsung memeluk Fatimah dari belakang dan menikmati aroma wangi yang menguat dari diri Fatimah.


'Ternyata, tidur sambil memeluk Fatimah cukup membuat aku merasa nyaman, kalau tahu begini sudah sejak awal aku melakukannya,' batin Satya kembali berkomentar.


"Kakak!" panggil Zia saat melihat sang kakak sedang duduk santai diteras rumah.


"Hm," sahut Fariz yang mengerti dengan gelagat Zia.


"Kak, ayo pergi!" rengek Zia.


Sejak Fatimah tidak lagi menjadi santri di tempat Zia, dia sering sekali merengek pada Fariz sang kakak, entah itu minta di antar ke kampus atau hanya pergi jalan-jalan keluar dari rumah untuk menghilangkan penat yang di rasakan Zia.


"Kamu mau ke mana lagi Zia," sahut Fariz yang merasa lelah dengan semua rengekan Zia, hari ini Fariz ingin menikmati hari liburnya dengan bersantai di rumah, tapi rencana itu selalu gagal setiap kali Zia datang.


"Hari ini aku ingin makan mie ayam di pinggir jalan," jawab Fatimah tegas.

__ADS_1


"Kenapa tidak suruh sopir saja yang membelinya?" tanya Fariz yang merasa jika membeli mie ayam hanya sebuah alasan agar Zia bisa keluar malam ini.


Zia memang tak pernah mendapat izin keluar dari rumah saat hari sudah malam, sangat jauh berbeda jika Zia pergi bersama Fariz, Ummah dan Buya pasti akan memberi izin.


"He he he, Kakak tahu aja kalau aku lagi pengen jalan-jalan keluar," ujar Zia cengengesan karena sang Kakak mengerti jika adiknya itu memang senang jalan-jalan akhir-akhir ini.


Fariz sejenak terdiam hingga dia sadar jika Zia memang tidak akan pernah bisa keluar dari pesantren jika tanpa dirinya.


"Makanya, kalau di suruh nikah itu nurut, biar kamu bisa jalan-jalan dengan suamimu tanpa ganggu Kakak," seru Fariz yang langsung berdiri melenggang pergi meninggalkan Zia yang masih berdiri di depannya.


"Ishhh, kakak jurusannya ke situ Mulu," gerutu Zia yang selalu di sindir soal pernikahan oleh Fariz.


"Kakak! kakak mau ke mana?" panggil Zia yang kini berjalan menyusul langkah Fariz yang lebih dulu pergi.


"Ganti baju," jawab Fariz yang menandakan jika saat ini Fariz mau mengantar Zia pergi.


"Aku juga akan bersiap Kak," seru Zia dengan semangat yang menggebu-gebu dia berucap.


"Terserah," sahut Fariz sambil terus berjalan tanpa menoleh ke arah Zia.


"Selalu saja begitu jawabnya," gerutu Zia yang selalu mendapat jawaban dingin seolah tak peduli dengan apa yang akan di lakukan oleh Zia.


"Bersiaplah! aku akan mengantarmu ke manapun yang kamu mau," ujar Fariz yang tak pernah bisa menolak permintaan sang adik.


"Terima kasih, Kakak," seru Zia kegirangan mendengar jawaban sang Kakak yang mau menemaninya pergi ke manapun yang dia mau, Fariz adalah kakak paling baik yang Zia miliki.

__ADS_1


__ADS_2