
Suasana yang tadinya ramai kini berubah menjadi tenang dan hening, tak ada satu orangpun yang berbicara semua diam memusatkan perhatian ke arah Satya yang kini berjalan menuju tempat akad nikah, duduk tepat di depan tempat sang Penghulu yang lebih dulu duduk ditempatnya.
'Ceklek,' suara pintu terbuka menandakan jika ada seseorang yang masuk ke dalam kamar.
Seorang wanita paruh baya yang tak pernah Fatimah temui, bahkan Fatimah tak pernah melihatnya.
"Kamu cantik banget, Nak," satu kalimat pujian terdengar dari bibir wanita itu, sedang Fatimah masih saja diam mematung menatap penuh heran ke arah wanita yang baru saja masuk ke dalam kamar.
"Fatimah," kali ini suara sang Bibik yang terdengar memanggil, dia datang bersamaan dengan sang Ibu.
"Iya," sahut Fatimah dengan ekspresi wajah bingung yang terlihat jelas di wajahnya.
"Dia Ibu mertuamu, Mama dari Satya," jelas Bik Husna yang mengerti dengan kebingungan Fatimah saat ini, pantas saja Fatimah merasa bingung dengan apa yang terjadi, dia juga tak bisa berbicara apapun selain diam melihat apa yang sedang terjadi.
"Astaga, Mama sampai lupa mengenalkan diri padamu," cetus Mama Satya.
"Mama adalah Ibu kandung dari Satya, calon suamimu, kita memang tidak pernah bertemu sebelumnya, tapi Mama sudah banyak tahu dirimu dari beberapa foto dan video yang di tunjukkan Satya padamu, maaf ya, Mama tidak melakukan acara pertunangan lebih dulu, semua itu karena Satya yang ingin langsung menikah denganmu, dia sudah sangat lama menunggumu, Nak," tutur Mama Satya.
Fatimah hanya diam sambil terus berfikir, dari mana Satya mendapat foto dirinya apa Bik Husna yang memberikannya? jika benar masih masuk akal, tapi video yang di tunjukkan Satya pada Mamanya, dari mana pria itu dapatkan video Fatimah, selama ini Fatimah jarang sekali membuat Video, jangankan membuat video memegang ponsel saja Fatimah tidak bisa, dia memegang ponsel jika pulang dari pesantren itupun hanya beberapa hari, dan Fatimah juga mempergunakannya jika dalam keadaan yang penting, jarang sekali Fatimah berfoto atau bahkan membuat video, rasanya Fatimah tak memiliki waktu yang cukup untuk hal itu, dia bukan termasuk seorang gadis yang gila kamera.
__ADS_1
Ingin rasanya Fatimah bertanya banyak hal pada sang Mama mertua, dia ingin tahu dari mana sang Putera memiliki foto-foto dirinya dan Video yang bahkan dirinya saja jarang punya itu.
"Nak, waktunya sudah tiba, ayo keluar dan temui calon suamimu!" ajak Ibu Halimah yang sebenarnya merasa sedikit bersalah melihat Fatimah yang diam tanpa bahasa, dia tidak tega melihat sang Puteri yang terlihat bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi, Ibu Halimah sangat mengerti dengan apa yang terjadi saat ini, tapi dia tak bisa berbuat banyak, dia hanya diam tanpa bahasa.
"Ibu benar, ayo kita keluar! acara akad nikahnya akan segera di mulai," sahut Mama Satya yang kini ikut mengajak Fatimah keluar dari kamar yang sudah di hias dengan berbagai hiasan, kamar yang awalnya terlihat biasa saja kini berubah menjadi sebuah kamar yang begitu indah dan mempesona.
Fatimah Melangkah dengan langkah pelan mengikuti langkah sang ibu dan mama mertua yang kini berjalan di samping kiri dan kanan.
Fatimah semakin tertegun melihat begitu banyak tamu yang sudah berkumpul di ruang tamu miliknya, semua pasang mata tertuju padanya Fatimah merasa risih dengan apa yang terjadi karena dia tidak terbiasa menjadi pusat perhatian banyak orang seperti saat ini.
"Santai saja! Jangan gugup, Nak!" Fisik Mama Satria yang terus saja makan dan tangan kirinya dan menuntun Fatimah berjalan ke arah Satya yang kini duduk di sampingnya.
Fatimah Tak Lagi Bisa membohongi dirinya rasa gugup, takut, dan rasa penasaran kini tengah menguasai hatinya, rasanya begitu aneh, Fatimah tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya, jantungnya berdetak begitu kencang tak bisa diatur rasanya jauh lebih menakutkan dibandingkan dengan menunggu hasil ujian sekolahnya.
Suasana semakin tegang saat sang penghulu menanyakan kesiapan setia untuk mengucapkan Ijab Kabul.
"Apa kamu sudah siap, Nak?" tanya sang penghulu sambil mengeluarkan tangan agar Setia bisa menjabat tangannya.
"Siap, Pak," Jawab Satya tegas.
__ADS_1
Suasana didalam ruangan terasa semakin hening seolah tak berpenghuni, dan anehnya, anak-anak kecil yang sejak tadi berlarian mengelilingi ruang tamu yang di sulap sebagai tempat akad nikah dengan hiasan bunga dan lampu mewah kini justru diam sambil menatap lekat ke arah Fatimah dan Satya.
Hanya dengan satu tarikan nafas Satya mampu mengucapkan ijab kabul, hingga suasana yang tadinya hening kini berubah riuh dengan kalimat syukur, alhamdulillah yang terdengar di penjuru ruangan.
Fatimah yang sejak tadi duduk sambil menunduk di samping Satya kini merasa semakin gugup, sejaj pertama kali datang dan duduk, Fatima tak melihat ke arah Satya, dia hanya menunduj menatap jari jemarinya yang sejak tadi saling bertautan.
"Silahkan tanda tangani dulu surat-suratnya," suara sang penghulu menyadarkan Fatimah jika saat ini dia sudah sah menjadi istri seorang Satya, laki-laki yang bahkan belum dia kenal sebelumnya.
"Tanda tangan di sini!" suara Satya terdengar lembut menyapa telinga, tapi suara lembut itu masih belum mampu mengetuk pintu hati Fatimah.
Dengan tangan gemetar Fatimah mengambil alih bolpoin yang di sodorkan ke hadapannya, dan perlahan menanda tangani berkas yang perlu dia tanda tangani.
"Selamat kalian sudah sah menjadi suami istri," ujar sang penghulu.
Fatimah masih saja menunduk merasa takut dan gugup semua perasaan resah kini tengah bercampur aduk di dalam diri Fatimah.
"Berikkan tanganmu!" bisik Satya, dia sungguh jengkel melihat Fatimah yang hanya diam sambil menunduk, sedang Fatimah yang mengerti dengan apa yang harus dia lakukan saat ini mencoba memberanikan diri untuk mengangkat wajah dan menoleh ke arah Satya sambil mengulurkan tangan.
Perlahan tapi pasti Satya memasangkan cincin emas putih bertahtakan permata di jari manis sebelah kanan milik Fatimah sebagai tanda jika saat ini Fatimah sudah sah menjadi istrinya.
__ADS_1
Usai memasangkan cincin Satya mulai mencium kening Fatimah dengan perlahan agar sang fotografer bisa mengambil pose paling baik untuk kenangan nantinya, meskipun Satya tidak tahu akan seperti apa rumah tangganya nanti, setidaknya setiap foto yang tercetak haruslah sempurna.
Fatimah sempat memundurkan kepalanya sejenak saat Satya akan menciumnya, tapi satu detik kemudian Fatimah sadar jika saat ini dia sudah menjadi istri sah Satya dan dia berhak atas Fatimah, karena itulah Fatimah pasrah dan membiarkan Satya mencium keningnya.