Tasbih Cinta Fatimah

Tasbih Cinta Fatimah
Berduka


__ADS_3

"Ibu Mas, Ibu," suara Fatimah terdengar begitu pilu dan khawatir juga takut yang bercampur jadi satu, melihat reaksi sang istri membuat Satya berlari ke arah Fatimah dan berdiri tepat di samping Fatimah serai memeriksa denyut nadi sang ibu yang ternyata sudah tidak ada.


Ekspresi wajah Satya yang tadinya khawatir kini berubah menjadi lemah, ada gurat ke putus asaan yang tersirat dalam wajahnya, memberi tanda jika Ibu Halimah tidak baik-baik saja, dan hal itu bisa terbaca oleh Fatimah yang langsung terduduk di lantai menyadari jika sang Ibu telah tiada.


"Bersabarlah! Bukankah Ibu sudah bilang jika semua yang hidup ada di dunia ini, pasti akan kembali pada sang pencipta jika sudah tiba waktunya," bisik Satya mencoba menenangkan sang istri yang kini hanya diam mematung menatap jasad sang ibu dengan air mata yang mengalir tanpa suara.


"Menangislah! Ungkapkan semua rasa sedih yang kini telah kau rasakan, jangan pendam sendiri Fatimah! Ingatlah jika masih ada aku yang akan selalu ada di sampingmu!" Satya kembali berbisik saat melihat keadaan Fatimah yang sama sekali tak merespon apapun perkataan Satya.


"Aku sudah sebatang kara, semua orang yang dekat denganku telah tiada, ayah, ibu, dan adikku mereka telah kembali ke pangkuannya, kenapa aku harus takdirkan sendirian, Mas" lirih Fatimah yang terdengar begitu putus asa sambil terus menatap jasad sang ibu yang masih terbaring di atas brankar rumah sakit dengan beberapa alat medis yang menancap dalam tubuhnya.


"Bersabarlah! Sesungguhnya tidak ada hamba yang diuji melebihi batas kemampuannya, jika semua ini terjadi padamu, maka yakinlah! Jika saat ini kamu sedang diuji," sekali lagi Satya mencoba menguatkan Fatimah, meski Satya tidak pernah merasakan kehilangan seperti apa yang dirasakan oleh Fatimah, tapi dia sangat mengerti dengan apa yang baru saja terjadi dan apa yang sekarang dirasakan oleh Fatimah, karena itulah sudah bisa mungkin Satya mencoba untuk terus memberi kekuatan kepada Fatimah agar dia tetap bisa tegar menghadapi semua ujian yang diberikan padanya.


Mendengar setiap kata-kata penyejuk yang keluar dari bibir Satya membuat pikiran Fatimah sedikit terbuka, meski tubuhnya masih terasa lemas tapi sekuat tenaga Fatimah mencoba untuk berdiri dan memencet tombol yang seharusnya sudah dia pencet beberapa menit yang lalu.


"Bersabarlah, Sayang!" Satya membesarkan hati Fatimah dan memanggilnya dengan panggilan sayang, panggilan yang mungkin akan terasa begitu indah jika keadaannya tidak seperti saat ini, tapi panggilan itu tak lagi berarti, karena saat ini pikiran, hati, dan jiwa raga Fatimah tertuju kepada sang ibu yang terbujur kaku di hadapannya.


"Apa ada sesuatu yang terjadi, Fatimah?" tanya Faris sesaat setelah dia masuk ke dalam ruangan Ibu Halimah, Faris terlihat sedikit berlari saat menuju ruangan Ibu Halimah, dan semua itu bisa dilihat dengan deru nafas Faris yang terengah-engah.


"Ibu sudah tiada, Mas," ujar Fatimah sambil menundukkan kepala dengan air mata yang masih saja belum bisa berhenti.

__ADS_1


Langkah Faris yang tadinya cepat kini seketika terhenti saat mendengar penuturan Fatimah.


"Maafkan aku Fatimah," lirih Faris yang merasa gagal untuk mengobati Ibu Fatimah.


"Maaf karena aku tak bisa mengobati Ibumu," sambung Faris yang terlihat begitu menyesal karena kematian Ibu Halimah.


"Semua sudah takdir, Mas Faris, jangan pernah merasa gagal ataupun merasa bersalah atas kematian Ibu, karena semua yang terjadi sudah takdir yang tak bisa di ubah oleh siapapun," sahut Fatimah yang tidak ingin melihat Faris terus-terusan merasa bersalah dengan kematian Ibu Halimah.


Tak ada lagi yang berbicara setelah itu, dan suasana menjadi hening, hanya air mata yang terlihat dan mampu menunjukkan bagaimana suasana hati setiap orang yang ada di ruangan itu.


"Biar aku urus administrasinya dulu." Pamit Satya yang ini berjalan keluar dari ruangan Ibu Fatimah, sedang ibu Fatimah mulai di mandikan dan setelah dibawa pulang untuk di makamkan.


Sepanjang perjalanan air mata Salima tak pernah berhenti mengalir, meski tak ada lagi suara yang terdengar tapi air mata itu terus menetes memberi tanda jika sang pemilik air mata tengah bersedih dan tak mampu membendung kesedihannya.


"Maaf Non, Bik Husna baru saja pergi, dan Bibik tidak tahu pergi ke mana," jawab sang asisten rumah tangga yang menyambut kedatangan Fatimah juga jenazah sang ibu.


"Sudahlah kau mah jangan pikirkan orang yang tidak ada di sini!" sela Satya yang sangat mengerti jika saat ini Bik Husna pasti sengaja pergi dan tak ingin ikut memakamkan jenazah Ibu Halimah.


"Tapi bagaimanapun juga dia bibiku, dan dia orang yang memiliki waktu jauh lebih banyak dengan ibu dari pada aku, harusnya dia juga ada di sini saat Ibu akan di makamkan," ujar Fatimah.

__ADS_1


"Percayalah padaku Fatimah! Bik Husna tak sebaik yang kamu fikirkan! dan lebih baik sekarang kita langsung melakukan prosesi pemakamannya," tutur Satya mencoba memberitahu sesuatu yang tidak pernah diketahui oleh Fatimah.


Fatimah sejak tadi berusaha menghubungi Bik Husna lewat sambungan telpon kini perlahan mematikannya, rasanya sangat tidak mungkin Bik Husna melakukan hal itu, selama ini yang Fatimah tahu hanya satu, Bik Husna adalah orang yang selalu ada di samping Ibunya, dan Ibunya adalah satu-satunya orang yang selalu menolong Bik Husna saat dia kesusahan, tapi kenapa Bik Husna bisa setega itu.


Fikiran Fatimah terbang jauh mengingat semua yang pernah terjadi dan terlewati.


"Sudah, jangan di fikirkan!" Satya kembali menegur Fatimah yang terlihat masih melamun, dan Fatimah yang sadar jika pemakaman Ibu Halimah jauh lebih utama dari hal lain membuat Fatimah bangkit dan menyikirkan semua fikiran yang tidak berguna.


Pemakaman Ibu Halimah berjalan dengan lancar, dan malam telah tiba, Fatimah duduk merenung di balkon kamar mengingat semua yang telah terjadi.


"Makan dan minumlah! sejak tadi siang kamu belum makan lagi," suara Satya mengalihkan fikiran dan pandangan Fatimah.


"Aku masih kenyang, Mas," sahut Fatimah yang kini terlihat memaksa senyum ke arah Satya.


"Apa mau aku suapi?" tawar Satya dengan senyum yang terlihat manis.


"Aku sungguh masih kenyang," Fatimah terdengar masih menolak Satya.


"Sebenarnya aku lapar, tapi aku tidak bisa makan," ujar Satya yang kini merubah ekspresi menjadi sedih.

__ADS_1


"Kenapa? apa Mas Satya tidak cocok dengan menunya?" Fatimah yang mendengar penuturan Satya langsung menoleh ke arahnya dan melihat apa yang terjadi pada suaminya itu.


"Aku akan makan jika kamu juga ikut makan," ujar Satya dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


__ADS_2