
"pagi semua!" suara Mama terdengar menyapa telinga semua orang yang ada di ruang makan.
"Wah cowok Mana sudah tampan semua dan menantu kesayangan Mama juga terlihat sangat cantik pagi ini," ujar Mama yang langsung duduk di tempatnya yang paling ujung menggantikan tempat duduk Papa yang belum juga pulang.
"Pagi, Ma," sahut Satria dan Satya juga Fatimah hampir bersamaan.
"Nyonya, hari ini adalah hari istimewa karena yang masak hari ini Nona Fatimah," sela Bik Mina yang baru saja datang sambil membawa kuah sop buatan Fatimah.
"Tidak juga, Bibik membantuku, Ma, jadi semua masakan ini tidak murni masakanku," sahut Fatimah.
"Benarkah? apa menantuku ini pintar memasak?" tanya Mama yang terlihat terkejut mendengar penuturan Bik Mina.
"Melihat dari kelihaian Nona menggunakan alat masakan sepertinya iya Nyonya," jawab Bik Mina.
"Aku tidak sepintar itu Ma, aku hanya bisa memasak," Fatimah kembali bersuara karena merasa jika Bik Mina terlalu berlebihan menilai dirinya.
"Kamu jauh lebih baik dari pada Mama," kali ini Satria yang buka suara, sedang Mama hanya tersenyum malu mendengar penuturan sang putera.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Fatimah yang merasa aneh dengan ucapan Satria.
"Mama tidak bisa memasak," kali ini Satya yang bersuara.
"Jangankan memasak membuat telur cepat saja pasti akan gosong jika mama yang memasaknya," sahut Mama dengan senyum yang terlihat wajahnya.
Mendapatkan seorang menantu yang pandai memasak merupakan hal yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, Mama merasa bahagia ketika mendengar penuturan Bik Mina jika menantunya itu pandai memasak.
"Kapan-kapan ajari Mama memasak ya," mama dengan ekspresi penuh harap yang terlihat jelas di wajahnya.
__ADS_1
"Tentu saja, tapi aku hanya bisa memasak masakan sederhana, apa mama tidak masalah?" Tanya Fatimah yang tidak ingin Mama mertuanya itu kecewa saat tahu jika Fatimah hanya bisa memasak masakan sederhana dan tidak rumit.
"Masak apapun asalkan enak dan mama bisa mengerjakannya, mewah atau tidaknya masakan tidak dilihat dari apa yang tersaji tapi keikhlasan, kesungguhan dan rasa lah yang menjadi prioritas utama Mama," sahut Mama yang tidak ingin menantunya itu terkecil hati.
"Kalau begitu nanti kita belajar masak bersama," sambung Mama.
"Tentu, aku akan sangat senang jika bisa memasak bareng Mama," cicit Fatimah.
"Soal masak-masaknya bisa besok saja, hari ini Mama ingin jalan-jalan bersamamu, biarkan para lelaki bekerja," seru Mama dengan semangat yang menggebu dia berucap , Satya yang mengerti dengan tabiat sang Mama yang hobi shopping dan ke salon langsung meraih ponsel untuk mentransfer uang ke dalam ATM yang pernah dia berikan pada Fatimah sebelum Mamanya marah karena uang yang dia berikan pada Fatimah tidak seberapa.
"Kalau aku ikut saja, asal Mas Satya mengizinkanku pergi," sahut Fatimah yang begitu sadar jika suaminya tetap menjadi yang utama, meski sang Mama memberi izin jika suaminya tidak mengizinkannya maka sama saja Fatimah tidak akan pernah bisa pergi ataupun keluar dari rumah itu.
Mendengar jawaban Fatimah membuat senyum mama semakin melebar, Fatimah benar-benar gadis yang sangat baik dan menantu idamannya, meski Mama telah mengajak Fatimah tapi dia tidak begitu saja menyetujui ajakan sang Mama, karena sangat terlihat jelas jika semua yang akan dilakukan Fatimah harus mendapatkan izin dari satya yang kini sudah menjadi suaminya.
"Pergilah! "Jawab saja yang tidak ingin menghentikan langkah Fatimah, sebenarnya bukan tidak ingin menghentikan langkah Fatimah tapi saat ia tidak ingin mendapat amarah dari mamanya karena tidak mengizinkan Fatimah pergi bersamanya.
"Kamu dapat dari mana istri seperti ini, Satya?" tanya Satria yang sejak tadi memperhatikan apa yang terjadi di hadapannya sambil menopang kepalanya dengan kedua tangannya.
"Kalau aku tahu dengan pasti jika aku akan mendapatkan gadis seperti istrimu maka aku tidak akan pernah bermain ataupun mempermainkan gadis lain," bela Satria yang merasa jika apa yang dia lakukan benar karena setiap gadis yang ia permainkan adalah gadis yang suka mempermainkan laki-laki ataupun gadis yang tidak setia pada pasangannya.
"Sudah-sudah jangan bertengkar terus! lebih baik sekarang kalian berangkat bekerja! dari pada meributkan hal yang sebenarnya tidak terlalu penting," sela sang Mama yang tidak ingin kedua putranya itu terus berdebat tanpa ujung dan pada akhirnya akan bertengkar.
"Aku berangkat dulu." Pamit Satya kepada Fatimah yang kini berdiri di hadapannya setelah mereka sampai di depan pintu.
"Mas hati-hati di jalan!" jawab Fatimah yang langsung meraih tangan Satya dan menciumnya sebagai tanda baktinya pada sang suami.
"Apa Satya dan Satria sudah berangkat?" tanya sang mama setelah melihat Fatimah masuk kembali ke dalam rumah.
__ADS_1
"Sudah, Ma," jawab Fatimah yang baru saja sampai di ruang keluarga setelah mengantar Satya berangkat bekerja di teras rumah.
"Kalau begitu bersiaplah! Aku akan mengajakmu jalan-jalan. kita akan pergi." ajak Mama yang kini berdiri dan hendak pergi menuju kamarnya.
"Kita mau ke mana, mana?" tanya Fatimah saat melihat sang mama ndak pergi meninggalkan dia yang masih mematung di tempatnya.
"Aku akan mengajakmu ke mall, salon dan aku juga akan mengajakmu makan makanan kekinian," jawab mama.
Mama Satya memang terlihat lebih muda dari umurnya, gaya Mama seperti anak muda, dia tidak terlihat seperti seorang Mama yang sudah punya menantu tapi terlihat seperti seorang gadis bahkan jika berdiri di samping Fatimah, Mama Satya terlihat seumuran, meskipun Mama Satya tidak memakai kerudung tapi baju yang di kenakan masih tergolong sopan
"Baiklah, aku akan bersiap Ma," ujar Fatimah yang langsung berjalan masuk ke dalam kamar untuk bersiap.
Mama Satya tak menjawab ucapan Fatimah dia memilih pergi dan meninggalkan Fatimah masuk ke dalam kamarnya untuk Persiap.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Mama Satya setelah keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Sudah, Mama," jawab Fatimah dengan wajah berseri dia berucap.
Mama Satya memang sangat mahir menyetir mobil, karena itulah saat ini Mama menyetir sendiri mobilnya, sedang Fatimah hanya bisa duduk manis di samping sang Mama.
"Apa kamu bisa menyetir mobil?" tanya Mama.
"Tidak, Ma," jawab Fatimah singkat, dia memang tidak pernah menyetir, bahkan Fatimah tidak pernah belajar menyetir.
"Jangankan mobil Ma, sepeda motor saja aku tidak pernah," sambung Fatimah.
"Benarkah? kamu tidak pernah menyetir sepeda motor?" Mama kembali bertanya dengan ekspresi wajah terkejut yang tampak jelas di wajahnya.
__ADS_1
"Tidak pernah Ma," jawab Fatimah singkat.
"Kalau begitu kapan-kapan aku akan mengajarimu banyak hal, agar kamu bisa jadi wanita kuat suatu hari nanti," ujar Mama Satya dengan penuh semangat.