
"Fatimah!" suara renyah dari beberapa teman sekamar Fatimah yang terlihat girang saat Fatimah baru saja sampai di luar kamar.
"Bagaimana keadaan Ibumu? apa dia sudah sembuh?" tanya seorang gadis yang baru saja berjalan mendekat ke arah Fatimah.
"Alhamdulillah Ibuku sudah jauh lebih baik," jawab Fatimah dengan air mata yang mulai menganak sungai menuntut keluar dari pelupuk mata.
"Alhamdulillah, apa itu artinya Mbak Fatimah sudah balik ke pesantren?" tanya santri lain yang sejak tadi berada di ujung ruangan.
"Justru aku datang untuk berpamitan pada kalian," tutur Fatimah sambil menundukkan kepala dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.
"Berpamitan bagaimana maksud Mbak?" sahut Sasa yang sejak pertama kali Fatimah masuk pesantren sudah dekat dengannya.
"Aku di jodohkan dan akan segera menikah, karena itulah aku ke sini dan ingin berpamitan padamu dan yang lain," jelas Fatimah, mendengar penjelasan Fatimah membuat hampir setiap orang yang ada di sana terkejut, mereka yang tahunya Fatimah pulang untuk menjenguk sang Ibu malah sekarang kembali ke pesantren bukan untuk menimba ilmu lagi, Fatimah datang untuk berpamitan dan mengambil seluruh barang miliknya, sama seperti apa yang di lakukan oleh kebanyakan santri yang mengakhiri masa menjadi santri.
"Mbak Fatimah tidak sedang bercanda, Kan?" tanya Sasa yang merasa tidak percaya dengan apa yang sudah dia dengar.
"Tentu saja tidak, aku tidak akan bercanda jika menyangkut masalah seserius ini Sasa," Fatimah yang mengerti jika Sasa sedang terkejut dan menolak percaya dengan apa yang sudah aku jelaskan membuat hati Fatimah semakin terasa berat untuk pergi.
Tanpa kata Sasa langsung berdiri dan berlari memeluk tubuh Fatimah yang kini masih berdiri di ambang pintu, rasanya begitu sulit untuk percaya, semua terjadi begitu cepat seolah mengingatkan Sasa pada masa-masa sulit dulu, di mana keduanya sering berpelukan demi menahan rindu pada rumah dan seisinya, keduanya kerap kali melampiaskan rasa rindu dan tidak betah di pesantren dengan tangis yang sering terdengar saat keduanya baru saja masuk dan menjadi santri di pesantren itu, hingga keduanya terbiasa bersama melewati setiap hal yang selalu memberi pelajaran bagi mereka, ilmu umum, ilmu agama dan tata krama yang di ajarkan sering kali di perbincangkan, bahkan tak jarang di perdebatkan oleh keduanya, meski begitu Fatimah dan Sasa tak pernah benar-benar bertengkar, mereka selalu akur kembali saat perdebatan sengit itu berakhir.
"Aku pasti akan kesepian jika kamu benar-benar pergi dan menikah lebih dulu, harusnya kamu tunggu aku menikah, setelah itu kamu bisa menikah bareng denganku," rengek Sasa yang masih betah dalam pelukan Fatimah.
"Sasa, aku juga berat untuk pergi, tapi semua ini sudah menjadi takdir yang tidak bisa kita hindari, bagaimana pun aku harus tetap pergi, sekarang atau nanti sama saja Sa," tutur Fatimah.
Fatimah dan Sasa memang sering sekali menghabiskan waktu bersama, makan di kantin bersama, tidur berdampingan, bahkan terkadang keduanya mandi di bilik yang sama saat waktu sekolah sudah mepet sedang antrian masih panjang seperti rel kereta api.
"Kamu benar Fatimah, cepatatau lambatkita juga akan berpisah, karena tak ada yang kekal maupun abadi di dunia ini," sahut Sasa dengan kepala menunduk merasakan kesedihan yang dia rasakan karena semua yang telah terjadi.
__ADS_1
"Ahhh, tetap saja, rasanya pengen nangis aku, huaaa ...." sambung Sasa yang memang tak busa menutupi kesedihan, hatinya terasa seperti di hantam batu besar.
"Sudah jangan nangis! aku tidak punya balon ataupun permen untuk menghiburmu," sahut Zia yang sejak tadi hanya diam menyaksikan drama perpisahan yang di tayangkan secara live.
"Neng Zia bisa saja, emang Neng Zia tidak sedih mendengar kabar kalau Fatimah akan pergi?" tanya Sasa, selama ini selain dengan Sasa, Fatimah juga sering menghabiskan waktu senggangnya bersama dengan Neng Zia.
"Sama saja, ku juga merasa sedih, tapi aku berusaha untuk mengikhlaskan semua yang memang sudah menjadi takdirku, jika Fatimah memang harus pergi sekarang dan menemukan jodohnya aku bisa apa Sa? sudah jangan menangis!" jelas Zia yang sedikit membuka hati Sasa agar tidak lagi menangis.
"Aku ke sini mau meminta maaf sebesar-besarnya atas kesalahan yang aku lakukan, baik di sengaja atau tidak, kecil atau besar, aku minta maaf," ujar Fatimah yang merasa jika sudah saatnya dirinya pergi, Fatimah tidak bisa membiarkan sang Ibu menunggunya terlalu lama.
"Kami semua memaafkanmu kok, kami juga minta maaf ya Fat, jika ada salah perbuatan atau kata, semoga kamu bahagia dengan pernikahanmu nanti," sahut seseorang yang memang biasanya menjadi juru bicara bagi teman-temannya di kamar.
"Amin," sahut Fatima, Sasa dan Zia hampir bersamaan.
Fatimah mulai mengemas seluruh barang miliknya. Memasukkan satu per satu baju dan perlengkapan lainnya.
"Sebelum pergi aku punya kenang-kenangan untuk kalian," ujar Fatimah.
"Wah, terima kasih ya Fatimah, semoga kamu semakin di tambahkan rezekinya dan semakin bahagia nanti," ujar salah satu teman Fatimah.
"Amin," sahut Fatimah yang kemudian mengambil dua kotak kecil yang sudah di bungkus rapi dan memberikannya pada Zia dan Sasa.
"Ini untuk Neng Zia dan ini untukmu ya Sa," ujar Fatimah seraya memberikan kotak yang tadi dia ambil.
"Terima kasih Fatimah, aku akan siapkan sesuatu untukmu nanti," sahut Zia setelah menerima kotak yng terbungkus rapi dengan kertas kado bermotif bunga.
"Sudahlah Neng! tidak perlu siapkan apapun untukku, cukup do 'akan kehidupanku setelah ini, agar aku bisa menjalani kehidupan baru dengan penuh kebahagiaan," ujar Fatimah.
__ADS_1
"Tidak perlu kau minta aku pasti akan mendo'akan kamu Fatimah," sahut Zia dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Terima kasih Neng, aku pasti akan merinfukan kalian," ujar Fatimah.
"Kamu harus datang ke sini lagi setelah menikah nanti!" kali ini suara Sasa terdengar.
"Aku pasti akan ke sini jika punya kesempatan," janji Fatimah.
Setelah merasa cukup mengucapkan kata-kata perpisahan, Fatimah kini berjalan kembali keluar gerbang menemui sang Ibu untuk segera pulang bersamanya, mengingat kondisi sang Ibu yang masih sakit membuat Fatimah memangkas habis waktu untuk mengucapkan perpisahan dengan seluruh teman-temannya, baginya saat ini yang terpenting adalah sang Ibu.
"Ibu," panggil Fatimah sesaat setelah melihat sang Ibu duduk di jok kursi mobil dengan pintu yang terbuka, wajah pucat tak bergairah juga terlihat jelas di wajah sang ibu, itu menandakan jika sang Ibu tidak sedang baik-baik saja, Ibunya masih sakit dan Fatimah hatus segera pulang memberikan waktu untuk Sang Ibu beristirahat.
"Loh, kok sudah balik, Nak?" tanya Ibu Halimah.
Berbeda dengan Fatimah yang ingin cepat kembali karena memikirkan kondisi sang Ibu, maka berbeda halnya dengan Fatimah yang terburu-buru untuk kembali karena merasa jika sang Ibu harus segera pulang untuk beristirahat.
"Sudah selesai Bu, makanya aku langsung ke sini," jawab Fatimah.
"Fat, apa Ibumu masih sakit?" bisik Zia tepat di samping telinga Fatimah.
"Iya, Neng, Ibu belum pulih sepenuhnya," jawab Fatimah dengan ekspresi wajah di penuhi kesedihan.
"Yang sabar ya Fatimah," ujar Neng Zia sambil mengusap pelan pundaknya sebagai tanda jika dia sedang memberi semangat pada Fatimah.
"Terima kasih, Neng," sahut Fatimah seraya memaksakan diri untuk tersenyum agar terlihat baik-baik saja.
"Kalau begitu aku permisi pulang dulu." Pamit Fatimah yang merasa memang sudah waktunya pergi.
__ADS_1
"Baiklah, hati-hati!" Zia tak bisa menahan Fatimah lebih lama meski sebenarnya dia ingin, biarlah waktu yang akan mempertemukan dirinta dan sahabat paling baik yang pernah di miliki Zia.
Lambaian tangan mengiringi perpisahan keduanya, Fatimah dan Zia kini benar-benar akan terpisah dan entah kapan mereka akan bertemu lagi, hanya waktu yang bisa menjawabnya.