
Faris tak menyahuti ucapan Fatimah dia lebih memilih diam dan kembali memasukkan kartu yang sejak tadi hendak dia keluarkan dari pada terus berdebat yang pada akhirnya Fatimah tetap menolak pemberiannya itu.
"Kenapa kamu tidak mengizinkan aku untuk membayar belanjaan yang baru saja kamu bayar itu?" tanya Fariz sesaat setelah keduanya berada di luar area supermarket dan duduk di kursi yang memang sudah disediakan di sana.
"Maaf sebelumnya, bukan maksudku untuk menolak pemberianmu ataupun menyakiti perasaan Mas Fariz, aku tidak mengizinkan Mas Faris membayar belanjaanku karena aku sudah diberi uang oleh suamiku, jika aku tidak menggunakannya untuk berbelanja dan suami aku ngecek saldo dari ATM yang dia berikan, aku khawatir dia akan bertanya-tanya dan merasa curiga dengan uang yang aku gunakan untuk berbelanja saat ini, "jelas Fatimah yang memang tidak ingin bertengkar atau berselisih paham dengan suaminya yang memang baru bisa berkomunikasi dengan baik akhir-akhir ini.
Mendengar penjelasan Fatimah membuat Fariz mengerti dengan maksud dari penjelasan Fatimah, sebagai seorang wanita sholehah yang telah memiliki suami, sikap yang dipilih oleh Fatimah adalah sikap yang paling baik dan pilihan yang terbaik.
"Tunggu di sini!" Fariz kini berdiri melenggang pergi masuk ke dalam supermarket.
Fatimah tak menjawab perintah Faris, dia hanya diam dan menatap jalan raya yang kini menjadi penyekat antara supermarket dan gedung apartemen.
"Minumlah!" titah Fariz saya memberikan satu cangkir kopi yang baru saja dia bawa dari dalam supermarket.
"Kenapa hanya diam dan menatapnya?" saat melihat Fatimah tak kunjung menyeruput kopi yang baru saja dia bawa dari dalam supermarket dan meletakkannya di atas meja tepat di hadapan Fatimah, dia hanya terdiam sambil menatap kantong plastik yang berisi beberapa bahan makanan yang ada di hadapannya.
"Untuk apa ini?" Tanya Fatimah sambil menunjuk cangkir plastik berisi kopi yang baru saja dibuatkan oleh Fariz.
__ADS_1
"Fungsinya kopi untuk apa?" Fariz balik bertanya mendengar pertanyaan Fatimah.
"Minum," lirih Fatimah seraya menatap kopi yang berada di atas meja, suaranya memang lirih tapi Fariz masih mampu mendengar suara Fatimah.
"Benar, kamu bisa meminumnya, bukankah kamu sudahtidak mau dibayarkan belanjanya? Aku harap kamu juga tidak menolak secangkir kopi yang aku berikan itu," ujar Fariz.
Fatimah yang sebenarnya kurang menyukai kopi tetap meminum kopi yang diberikan oleh Fariz dia tidak ingin menyia-nyiakan pemberian orang agar dia tidak terkesan sebagai orang yang tidak menghargai pemberian orang lain.
'semoga saja perutku bisa menerima kopi ini,' batin Fatimah Soraya meminum secangkir kopi yang dibelikan oleh Fariz.
Fatimah biasanya akan merasakan sakit perut yang cukup hebat saat dia meminum kopi, entah kenapa tapi hal itu selalu dirasakan setiap kali dia meminum kopi, karena itulah dia berhenti meminum kopi dan memilih air putih sebagai gantinya.
"Terima kasih," ucap Fatimah dengan senyum yang mengembang di wajahnya, Fatimah tidak mungkin menolak pemberian Fariz karena itulah dia juga memakan tahu crispy yang diberikan oleh Fariz.
"Sudah, jangan berterima kasih! Harusnya aku yang berterima kasih padamu sejak dulu Fatimah," ujar Fariz Seraya menatap lekat ke arah Fatimah, sedang yang di tatap hanya mampu menunduk tanpa bisa memprotes ataupun melarangnya.
"Maksud Mas Fariz apa?" tanya Fatimah yang tidak mengerti dengan ucapan terima kasih yang baru saja diucapkan oleh Fariz.
__ADS_1
"Terima kasih karena kamu pernah memberiku motivasi dan memberikan jalan keluar atas beberapa masalah yang pernah aku alami, surat-suratmu adalah bukti jika kamu gadis yang baik dan bijaksana," Faris menjelaskan apa maksud dari ucapan terima kasih yang baru saja dia berikan, selama ini Fariz dan Fatimah memang saling mengirim surat, keduanya sering menceritakan masalah masing-masing dan saling memberi solusi untuk setiap masalah yang telah mereka alami.
"Semua itu sudah menjadi masa lalu Mas Fariz, tidak perlu diungkit ataupun di bahas lagi," jawaban Fatimah mampu memberikan ketegasan pada Fariz bahwa saat ini Fatimah tidak akan pernah kembali ke masa lalu ataupun membahas masa lalu yang memang sebenarnya sudah berlalu.
'maafkan aku, karena aku harus tegas semua ini demi perasaanku yang harusnya segera menghilang dan juga demi dirimu yang memang seharusnya sudah mendapatkan gadis lain yang jauh lebih baik dari pada aku,' batin Fatimah sambil tersenyum ke arah Fariz yang terlihat diam seribu bahasa mendengar setiap kata yang terucap dari bibir Fatimah.
Suasana sejenak terlihat hening tanpa ada satupun yang berbicara, Faris diam seribu bahasa tanpa ada niat memulai sebuah pembicaraan, begitu pula dengan Fatimah yang juga diam seribu bahasa, dia tak tahu harus berbicara apa lagi, karena itulah dia hanya diam tanpa kata.
"Mas Fariz, aku ingin kembali ke apartemen, karena aku sudah selesai berbelanja dan aku membersihkan apartemen sebelum suamiku pulang," tutur Fatimah saat dia melihat Fariz yang begitu betah duduk di hadapannya dan tidak menunjukkan tanda-tanda jika dia ingin pergi atau mengajak Fatimah pergi.
"Kalau begitu biarkan aku membantumu membawa semua barang ini, jika apartemen kita berdekatan maka kita bisa menjadi tetangga yang baik dan saling membantu," jawab Fariz yang membuat posisi Fatimah semakin sulit.
"Apa kamu keberatan jika aku membantumu membawa semua barang belanjaanmu ini?" tanya Fariz saat melihat Fatimah hanya diam tak membalas atau pun menjawab ucapannya.
"Tidak, aku hanya berpikir, apa tidak akan jadi masalah jika kita pulang ke apartemen bersama? Aku hanya takut jika terjadi fitnah saat kita pulang bersama," jujur Fatimah.
Fariz yang mendengar alasan Fatimah hanya tersenyum, dia mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Fatimah karena selama ini dia cukup memahami jika Fatimah adalah gadis yang sholeh dan taat beribadah, karena itulah Fatimah selalu memikirkan akibat dari apa yang akan dia lakukan.
__ADS_1
"Jangan khawatir! Di apartemen ada banyak orang yang berlalu-lalang dan aku tidak akan masuk ke dalam apartemenmu jika suamimu tidak ada, aku hanya ingin membantumu membawa belanjaanmu yang banyak ini sampai di depan pintu apartemen saja," tegas Faris agar Fatimah mau menerima bantuan yang dia tawarkan.
"Baiklah, jika Mas Fariz berpikir seperti itu, maka aku menerima bantuan Mas Fariz untuk membawakan belanjaan ini sampai di depan apartemen." Menyerah sudah Fatimah tidak mungkin menolak atau menghindari Faris yang terlihat sedikit memaksa untuk membantunya, dia memilih untuk menerima bantuan dari Fariz dan membiarkan Fariz membawakan belanjaannya dan membantunya membawa belanjaan yang baru saja dia beli sampai di depan apartemen.